Tiga Resep Anti Galau dalam Surat Adh-Dhuha

Ust. Abdul Ghoni (29/11/2020)

Setiap manusia dengan berbagai keragamannya akan selalu diuji oleh Allah tanpa kecuali. Itulah salah satu tujuan dan fungsi kehidupan, yaitu dalam rangka menguji manusia. Nah, bagaimana agar ujian itu dijalani tanpa kegalauan dan kecemasan, sehingga jiwa setiap orang tetap tenang dan nyaman. Salah satu jalannya adalah pesan-pesan yang Allah sampaikan dalah surat adh-Dhuha. Surat ini diawali dengan sumpah yang menunjukkan kokohnya kebenaran pesan yang disampaikan dalam rangkaian ayat-ayatnya.

Dalam surat adh-Dhuha ayat 3 dijelaskan bahwa Rasulullah dan tentunya orang-orang yang beriman tidak akan pernah ditinggalkan atau dibiarkan begitu saja oleh Allah. Allah berjanji akan selalu bersama dengan orang-orang bertaqwa dan orang yang banyak berbuat baik (an-Nahl: 128). Di sinilah pentingnya bagi setiap orang untuk memposisikan diri selalu dekat dan taat kepada Allah. Setiap orang hendaknya memantaskan diri untuk layak mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah. Inilah langkah pertama yang harus dipenuhi. Langkah pertama resep anti galau adalah selalu dekat kepada Allah, niscaya Allah tidak akan meninggalkan kita sendirian.

Berikutnya langkah kedua adalah pesan yang tersirat dalam surat adh-Dhuha ayat 6-8 di mana Rasulullah diingatkan akan banyaknya nikmat yang sudah diberikan dengan adanya perubahan dari masa yang penuh kesulitan menjadi masa yang diselimuti kemudahan. Pesan yang diambil dari ayat ini adalah pentingnya mengingat anugerah dan nikmat yang sudah diberikan. Alih-alih fokus dengan kegalauan dan kesulitan yang tengah dihadapi, Allah meminta manusia untuk mengingat kembali masa lalunya. Di antara yang perlu diingat adalah bagaimana kondisi sebelumnya yang awalnya pahit dan sulit, ternyata Allah sudah anugerahkan banyak nikmat sehingga hidupnya menjadi manis dan mudah. Rasulullah diingatkan oleh Allah akan 3 masa sulit sebelumnya saat beliau yatim hingga kemudian ada yang mengasuhnya, saat beliau belum mendapatkan petunjuk dalam kehidupan hinga ada petunjuk yang Allah berikan, dan saat beliau dalam keadaan fakir miskin kemudian dipenuhi dengan hidup yang berkecukupan.

Bayangkan hidup seseorang jika di awali dengan masa kecil menjadi seorang yatim piatu! Tentu saja amat sulit untuk menjalani hidup dalam kondisi seperti itu, jika tidak Allah gerakkan hati seseorang untuk rela bahkan dengan senang hati mengasuhnya. Betapapun baiknya seseorang, tidak mudah bagi seorang anak yatim piatu untuk hidup bersamanya dalam waktu yang lama. Ada ungkapan, bertamu itu seperti ikan. Ikan masih sangat segar ketika masih 1 atau 2 hari, namun jika sudah lebih dari itu maka ikan itu sudah rusak dan basi.

Bayangkan jika seseorang hidup tanpa petunjuk dan hidayah! Tentu ia akan merasakan kesengsaraan yang sangat luar biasa. Uang sebanyak apapun, jabatan setinggi apapun dan pengikut sebanyak apapun, tidak akan berarti apa-apa dibandingkan dengan anugerah hidayah. Uang puluhan, ratuan bahkan ribuan trilyun tidak berarti apa-apa di hadapan nikmat hidayah, mengingat anugerah tersebut mutlak ketentuan Allah. Rasulullah diberikan hidayah oleh Allah di tengah kehidupan umat manusia bergelimang dosa kekufuran dan kemusyrikan. Sungguh ini adalah anugerah yang sangat istimewa. Oleh karena itu mari setiap Mu’min mensyukuri nikmat hidayah yang sudah ada dalam hati dan jiwa.

Bayangkan jika seseorang hidup dalam keadaan fakir miskin! Tentu saja ia akan sangat sibuk dengan urusan pribadinya. Ketika urusan pribadi masih sangat banyak untuk dipenuhi, maka akan sulit bagi seseorang untuk berkontribusi kepada umat dan masyarakat. Dengan dicukupkannya kebutuhan hidup Rasulullah maka kiprah perjuangan dakwahnya pun menjadi lebih mudah. Semua ini adalah nikmat luar biasa yang diberikan kepada Rasululllah.

Dari semua gambaran di atas, resep anti galau yang kedua adalah mengingat-ingat kembali rangkaian nikmat dan anugerah yang sebelumnya tidak dimiliki kemudian ternyata saat ini sudah kita miliki dalam genggaman. Dengan pengingatan tersebut diharapkan setiap orang akan bersyukur dan membayangkan betapa berharganya nikmat yang sudah Allah berikan, dan betapa sulitnya jika nikmat itu tidak diberikan kepada kita atau pemberian itu Allah cabut kembali.

Berikutnya pada surat adh-Dhuha ayat 9 -11, Allah memerintahkan kita untuk memiliki kepedulian dan selalu berbagi kepada anak yatim dan fakir miskin. Dalam ayat ini secara implisit dipesankan kepada manusia untuk menghindari kegalauan tidaklah dengan fokus kepada diri sendiri, akan tetapi berpikir keluar melihat orang-orang di sekitar kita. Banyak di antara mereka yang kehidupan dunianya lebih sulit, kondisinya lebih berat, dan permasalahannya lebih kompleks. Pada saat itu, kita diminta untuk berbagi dan membantu mereka. Memikirkan diri sendiri akan terus menghadirkan kegalauan, sementara ikut peduli kepada orang lain itulah sesungguhnya yang dapat menghilangkan kecemasan.

Di sinilah the power of giving menunjukkan tajinya untuk mengusir kekhawatiran dalam hidup. Pada saat seseorang memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain, maka ia akan merasakan getaran rasa syukur dan senyuman dari orang yang menerima pemberiannya. Wajah ceria yang ditunjukkan akan berpengaruh positif pada diri si pemberi, hingga ia merasakan aura kebahagiaan yang tidak diungkapkan dalam kata. Saat itu hadir kepercayaan diri dan perasaan betapa dirinya begitu berarti bagi orang lain, yang keduanya akan memberikan pengaruh positif dan menghilangkan kegalauan semu dalam sekejap. Wajah sumringah orang yang menerima pemberian menjadikan kegalauan dan kecemasan sirna dari dalam jiwa. Inilah langkah ketiga yang perlu dilakukan agar kita terhindar dari kecemasan yaitu dengan memberi dan berbagi kepada orang-orang sekitar.

Sikap di atas menjadi lebih kokoh karena sesuai dengan janji Rasulullah dalam haditsnya, bahwasanya Allah akan selalu menolong seorang hamba yang suka menolong orang lain. Sayangilah mereka yang di bumi, maka akan menyayangimu Zat yang ada di langit.

Demikian 3 Resep Anti Galau yang secara implisit terkandung dalam surat adh-Dhuha. Langkah pertama, selalu dekat kepada Allah untuk memantaskan diri layak mendapatkan kasih sayang-Nya. Langkah kedua, mengingat nikmat yang sebelumnya tidak dimiliki dan sekarang sudah ada dalam genggaman. Langkah ketiga, terus peduli dan berbagi kepada anak yatim dan fakir miskin. Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang pandai mengingat setiap nikmat yang sudah diberikan, serta Allah berikan kemampuan untuk terus berbagi dan menebar manfaat kepada orang lain.