Tetap Berqurban Saat Pandemi

Hampir 2 tahun lamanya pandemi melanda negeri ini dan di seluruh dunia. Bahkan akhir-akhir ini jumlah mereka yang terpapar semakin meningkat. Tentu saja dampak dari peningkatan jumlah ini, semakin banyak saudara-saudara kita yang berada dalam kesulitan yang semakin berat. Ada sebagian dari mereka yang harus menerima kenyataan di PHK, mereka yang tidak bisa menjalankan wirausahanya, mereka yang omzet penjualannya menurun, mereka yang tulang punggung keluarganya kembali kepada Allah sehingga anak-anaknya menjadi yatim, dan masih banyak lagi efek domino dari pandemi ini.

Apakah dengan demikian, menjadi alasan buat kita untuk tidak berkurban pada tahun ini? Mungkin ada yang mengatakan, “Wah bagaimana mau berkurban, gaji menurun dan penghasilan terjun bebas?” Apakah dengan pandemi ini, menjadi tidak relevan bagi kita jika ada yang meminta kita untuk ikut berkurban? Apakah kita akan menjawab; “Semua lagi susah, sudah tidak perlu lagi memerintahkan dan mengajak orang untuk berkurban!” Apakah kita merasa tidak nyaman dengan adanya ajakan berkurban di grup-grup media sosial masjid yang kita ikuti?

Jika dikaji nilai-nilai Islam yang ada dalam al-Qur’an lebih mendalam, justru saat seperti inilah, umat Islam didorong untuk lebih semangat lagi untuk berkurban dan berbagi. Karena apa? Inilah yang disebut sebagai “al-‘Aqabah” dalam surat al-Balad ayat 11. Allah SWT berfirman:

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ
Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.
Tidakkah sebaiknya manusia mengambil jalan yang mendaki? Mengapa manusia tidak termotivasi mengambil jalan yang berat? Pada umumnya jalan kebaikan itu seperti jalan menanjak dan jalannya rusak, sehingga membutuhkan energi dan usaha yang lebih besar. Sementara jalan keburukan itu jalan yang menurun, beraspal dan licin, sehingga kendaraan dimatikan pun masih bisa berjalan.

Apa jalan yang mendaki, yang Allah minta kepada setiap Muslim untuk memilihnya? Pada ayat 13 surat al-Balad, Allah menjelaskan bahwa jalan mendaki pertama adalah;
فَكُّ رَقَبَةٍ
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,
Jika sekarang tidak ada pembebasan budak seperti pada zaman jahiliyah. Bentuk amal yang lain adalah dengan memberdayakan orang fakir miskin, agar mereka bebas dari kesulitan mencari nafkah, atau membebaskan mereka yang sedang terlilit hutang riba rentenir. Bentuk amal lain yang kontekstual di antaranya adalah membebaskan mereka para korban Pinjol yang luar biasa menghancurkan. Tentu saja, setiap kita harus menghindari ini semua
.
Kemudian apa lagi?
Pada ayat 14 disebutkan dalam al-Qur’an:
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
atau memberi makan pada hari kelaparan,
Amal mendaki kedua inilah yang sangat relevan dalam kehidupan kita saat ini! Memberi makan pada hari sedang sulit. Berbagi makanan pada saat krisis dan paceklik, seperti ketika terjadi kemarau panjang atau krisis moneter. Terlebih pada pada hari-hari pandemi ini, karena korbannya merata di seluruh dunia. Hampir semua negara di dunia sedang dilanda krisis akibat pandemi.

Inilah amal yang luar biasa, pada saat orang sedang sangat membutuhkan kemudian kita memberi mereka makan Pada saat orang sedang sangat kesulitan, kita berikan makanan kepada mereka. Inilah yang disebut dengan “al-‘Aqabah”; jalan mendaki yang dimuliakan Allah. Inilah jalan yang berat dan sulit.

Jika mereka dan kita bisa melakukannya, maka atas izin Allah kita akan termasuk orang-orang yang mendapatkan gelar ASHABUL MAYMANAH (golongan kanan). Apa maksudnya? Menurut Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya, mereka adalah orang-orang yang kelak akan menerima buku catatan amal dari tangan kanan sebagai tanda keberhasilan dan kesuksesan sejati.

Sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Insyiqaq ayat 7-9 yang berbunyi:

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,
فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,
وَيَنْقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا
dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.

Mereka kelak akan mendapatkan hisab yang mudah dan berkumpul kembali bersama keluarga di akhirat dalam keadaan bahagia berkat perjuangan mendaki dan berat yang mereka lakukan selama hidup di dunia. Inilah hakikat tujuan hidup kita agar terhindar dari neraka dan Allah masukkan ke dalam syurga, sebagaimana disebutkan dalam surat at-Tahrim ayat 6.

Dengan demikian berqurban pada saat seperti ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh terlewatkan. Kia sedang punya peluang besar untuk memberi makan saat dalam keadaan sulit dan krisis. Hal ini berbeda dengan Idul Adha-Idul Adha sebelumnya. Tentu saja pada tahun ini mereka yang berqurban menurun drastis dan yang menerima qurban menjadi lebih banyak. Bahkan jika ditanyakan, rata-rata omzet para penjual hewan qurban sedang mengalami penurunan.

Hal ini juga sejalan dengan apa yang disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 133-134. Mereka yang berqurban saat ini termasuk pada ciri-ciri manusia yang levelnya di sisi Allah di atas Muslim atau Mu’min yakni termasuk golongan orang-orang Muttaqin. Allah SWT berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Bagaimana ciri-ciri orang yang berhak dapat gelar itu? Ciri yang pertama kali disebutkan adalah orang yang berinfaq di kala senang dan di kala susah. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Amal seseorang tidak hanya dinilai dari bentuk amal yang dilakukan saja, akan tetapi juga dinilai dengan sejauh mana mujahadah dan perjuangan untuk bisa melakukan amal tersebut. Bentuk ibadah Qurban tahun lalu dan tahun ini mungkin sama, yaitu berkurban sapi atau kambing. Akan tetapi tahun lalu, kita tidak terlalu dalam merogoh kocek kita, sementara tahun ini mungkin ada yang harus menguras tabungannya, atau bahkan harus menjual logam emas yang dimiliki agar bisa tetap berqurban.

Berqurban pada hari-hari ini adalah perjuangan yang tidak mudah bagi sebagian orang. Bisa jadi inilah yang disebut al-‘Aqabah, jalan mendaki yang jika dipilih akan membawa kita pada golongan Ashabul Maymanah. Bisa jadi inilah perjuangan, yang jika kita tetap berqurban di masa sulit, mudah-mudahan memantaskan diri kita untuk bisa mendapatkan gelar al-Muttaqin.

Semoga Allah berikan kemudahan bagi kita untuk tetap dan terus bisa berbagi serta berqurban saat pandemi seperti saat ini!

Ust. Dr. Abdul Ghoni, M.Hum