SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

How to Reach Unlimited Output

Terbit 14 November 2021 | Oleh : admin | Kategori : TADABBUR
How to Reach Unlimited Output

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa manusia memiliki keterbatasan(limited) sumber daya baik dari sisi waktu, tenaga, harta, dan lain sebagainya. Namun demikian dalam surat Yasin ayat 12 dibuka peluang akan adanya hasil yang tak terbatas (unlimited) dbagi seseorang yang memiliki jejak atau bekas kebaikan yang bersifat jangka panjang, sebagaimana firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)

Maka yang menjadi fokus perhatian setelah itu adalah bagaimana meraih itu semua?
Dalam hadits riwayat Imam Muslim Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذاَ ماَتَ ابْنُ اٰدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَث: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَه
Apabila anak cucu Adam telah mati, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya

Hadits di atas menjadi pembuka adanya hasil tak terbatas yang dapat diraih manusia di tengah keterbatasannya. Hal ini sekaligus memberikan dorongan positif dalam meningkatkan produktivitas kebaikan yang nilainya tidak terhenti meskipun pelakunya sudah tiada. Amal-amal tersebut berupa sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang kelak akan terus mendoakan kedua orangtuanya. Setiap Muslim hendaknya memastikan sejauh mana ia mengakumulasi amal-amal shaleh tersebut dalam hidupnya.

Pada poin pertama adalah sedekah jariyah yakni investasi infaq berupa harta tak bergerak seperti wakaf tanah atau bangunan untuk masjid dan lembaga pendidikan, . Selama tempat itu dimanfaatkan untuk kebaikan, maka orang yang memfasilitasinya akan mendapatkan pahala yang mengalir meskipun ia sudah kembali kepada Allah. Pada saat yang sama hal ini mengisyaratkan bahwa mereka yang menjadi pengurus masjid atau pengelola lembaga pendidikan hendaknya memaksimalkan kebermanfaatan apa yang dikelola sehingga memiliki produktivitas yang tinggi. Semakin produktif maka semakin banyak output yang didapatkan oleh mereka yang berinfaq.

Pada poin kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu dapat mendorong dan memotivasi seseorang untuk melakukan amal shaleh. Manusia adalah makhluk kalkulatif yang memperhitungkan apa yang didapat dari aktivitas yang dilakukan. Ketika ia tahu apa manfaat dari amal tertentu, maka akan ada dorongan untuk melakukannya. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki seseorang maka ia semakin termotivasi untuk melakukannya. Nah, jika itu terjadi maka orang yang mengajarkan ilmu tersebut juga akan mendapatkan ganjaran sebagaimana orang yangmelakukannya. Jika dalam dunia bisnis ada model MLM maka dalam ibadah pun berlaku demikian hingga hari akhir. Namun perbedaannya, MLM dalam ibadah tidak mengurangi reward baik bagi pelaku amal shaleh ataupun pengajarnya. Keduanya diberikan ganjaran 100 persen tanpa dikurangi sedikitpun. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun

Pernah seorang guru bercerita kepada muridnya tentang keutamaan tersebut, kemudian sang murid mengatakan; “Kalau begitu enak ya menjadi guru karena akan mendapatkan ganjaran yang tak terputus dari ilmu yang diajarkan kepada murid-muridnya”.

Tentu saja terkait dengan ilmu ini tidak diharuskan dari seorang guru yang memiliki keluasan dan kedalaman ilmu. Ilmu bermanfaat sesedikit apapun yang dimiliki dapat berbuah amal jariyah ketika disampaikan kepada orang lain kemudian diikutinya. Bahkan ilmu yang disampaikan pun tidak sebatas ilmu agama tetapi semua ilmu yang mengandung manfaat banyak. Di samping itu peluang tersebut juga terbuka bagi para penulis buku yang tulisannya terus menebar manfaat, atau mereka yang mewakafkan buku-buku di masjid atau di perpustakaan yang kemudian dibaca oleh orang lain. Maka bagi mereka semua ada unlimited output hingga hari kiamat.

Pada poin akhir adalah anak yang shaleh. Hal ini harus menjadi motivasi bagi orangtua untuk mendidik anaknya agar menjadi anak yang shaleh. Ada harapan berupa doa yang membuka peluang hasil tak terbatas bagi orangtua. Diceritakan dalam hadits riwayat Imam Abu Daud bahwa kelak di akhirat, ada orangtua yang terkejut dengan kedudukan tinggi yang ia dapatkan. Ia merasa amalnya di dunia tidak sebanding dengan anugerah yang didapatkan di akhirat. Tetapi kemudian dijelaskan kepadanya bahwa semua itu didapatkan berkat doa dan munajat yang senantiasa dilantunkan oleh anaknya. Hal ini juga sejalan dengan apa yang Allah jelaskan dalam surat ath-Thur ayat 21 yang berbunyi:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya

Ayat di atas menjelaskan bahwa orangtua dan anak yang memiliki iman akan kembali dikumpulkan dalam kebersamaan. Tidak hanya itu mereka akan saling mengangkat derajat di sisi Allah satu sama lain, di antaranya adalah anak dapat mengangkat kedudukan orangtuanya di akhirat selama ada kesamaan aqidah. Oleh karena itu menjaga dan merawat keimanan menjadi skala prioritas utama pendidikan orangtua kepada anaknya.

Semoga Allah berikan setiap kita kesempatan untuk meninggalkan jejak-jejak perjalanan hidup yang baik sehingga Allah terus mengguyur pahala tak terbatas hingga hari akhirat.

Abdul Ghoni

SebelumnyaSyurga yang Luar Biasa untuk Mereka yang Gaya Hidupnya Juga Luar Biasa SesudahnyaBerqudwah kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub

Tausiyah Lainnya