SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Berqudwah kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub

Terbit 14 November 2021 | Oleh : admin | Kategori : TADABBUR
Berqudwah kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub

Tadabbur Surat Shad Ayat 30-43 dan Surat Al-Anbiya Ayat 81-84′

Dalam kehidupan sehari-hari kadang ada yang merasa bahwa kesulitan hidup yang begitu berat, tidak mungkin membuatnya dapat meraih kesuksesan dalam pandangan manusia apalagi dalam pandangan Allah. Kondisi hidup yang penuh kekurangan, ujian yang datang silih berganti, kadang membuat seseorang mudah menyerah dan pasrah seolah hidupnya tak lagi bermakna. Tidak sempurnanya fisik seseorang, kadang membuatnya tak lagi bergairah mengisi hari-hari dalam hidupnya.

Ternyata semua itu tidak masalah sama sekali bagi orang beriman. Di dalam hadits dijelaskan bahwa seorang Mu’min memiliki karakteristik berbeda dibanding yang lain. Setiap Mu’min apapun keadaanya adalah manusia yang ajaib dan luar biasa menurut Rasulullah. Lantas apa yang membuat mereka sedemikian dipuji dan dibanggakan dalam hadits? Rahasianya secara eksplisit disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya

Di dunia ini, keadaan seluruh umat manusia di seluruh dunia, tidak keluar dari 2 hal yaitu kemudahan dan kesulitan, atau kelapangan dan kesempitan. Tidak ada keadaan lain selain keduanya. Ternyata kelebihan orang beriman adalah kemampuanna untuk menyikapi dan merespon dua keadaan tersebut secara tepat. Kemudahan dan kelapangan yang ada disikapi orang beriman dengan rasa syukur, sementara kesulitan dan kesempitan yang mereka jalani dihadapi dengan kesabaran. Dengan demikian semua orang dengan berbagai keadaannya memiliki potensi yang sama untuk mendapatkan happy ending berupa kemuliaan dan kebahagiaan di sisi Allah.

Selain panduan berupa ajaran, Islam juga memberikan contoh agar nilai-nilai yang disampaikan lebih mudah untuk dipraktikkan. Dengan contoh yang ada, manusia dengan tabiatnya yang suka meniru, akan lebih mudah untuk melakukan apa yang diperintahkan. Di antara contoh yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah kisah Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub. Satu hal yang sangat menakjubkan, keduanya disebutkan secara beriringan dalam dua rangkaian ayat al-Qur’an dalam surat Shad (38) dan surat al-Anbiya’ (21). Tentu saja jika dilihat dari rangkaian hadits di atas kemudian adanya ayat yang yang disandingkan antara kedua Nabi tersebut memiliki hikmah yang cukup besar, di mana keduanya dapat dijadikan contoh langsung dalam syukur dan sabar.

Dalam surat Shad ayat 30 disebutkan bahwa Nabi Sulaiman adalah Nabi yang mendapatkan gelar “Awwab”, Nabi yang selalu meminta ampun dan kembali kepada Allah. Nabi Sulaiman adalah representasi sekaligus contoh bagi manusia yang mendapatkan begitu banyak anugerah dan kenikmatan tetapi selalu tunduk kepada Allah. Kehebatan Nabi Sulaiman disebutkan dalam surat Shad ayat 36 dan 37, bagaimana Nabi Sulaiman dapat mengendalikan angin. Allah juga menundukkan bangsa jin agar mengikuti apa saja yang diperintahkan Nabi Sulaiman.
Namun demikian di balik semua kehebatan tersebut, Nabi Sulaiman selalu taat kepada Allah. Nabi Sulaiman pernah membanggakan apa yang dimilikinya berupa kuda-kuda yang bagus, sampai beliau lalai dari ketaatan kepada Allah. Pada saat itu pula muncul kesadaran bahwa ada kesalahan yang dilakukan sehingga kemudian kuda-kuda tersebut disembelih agar tidak ada lagi hal-hal yang membuatnya lalai dari ketaatan kepada Allah.

Sosok Nabi Sulaiman adalah contoh bagi mereka yang hidup dengan ujian keberlimpahan baik berupa kekayaan, kekuasaan maupun ketenaran. Semua itu hendaknya disikapi dengan syukur hingga membuat seseorang lebih dekat kepada Allah dan semakin peka untuk segera bertaubat setiap kali melakukan kesalahan. Kepekaan ini menunjukkan bahwa orang tersebut selalu waspada apakah yang dilakukannya berupa kebaikan atau keburukan. Jangan sampai semakin melimpah anugerah, seseorang semakin pongah yang membuatnya semakin jauh dari Allah. Kekayaan seperti ini hanya menjadi bumerang bagi pemiliknya.

Pada ayat berikutnya dalam surat Shad ayat yang ke-40 dikisahkan tentang Nabi Ayyub AS. Sosok Nabi yang dalam hidupnya diuji dengan cobaan yang sangat berat, karena ujian tersebut sekaligus menimpa dirinya, keluarga dan hartanya. Nabi Ayyub digambarkan dalam al-Qur’an mengalami kelelahan dan penderitaan yang berat. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal itu dialami selama kurang lebih 18 tahun, sementara Imam al-Qurthuby menyebutkan kurang lebih 9 tahun. Hanya isterinya yang setia menemani Nabi Ayyub selama dalam ujian. Ujian itu dihadapi dengan penuh kesabaran, hingga Allah menyebut Nabi Sulaiman semulia-mulia hamba karena kesabarannya di tengah ujian yang berat dan panjang.

Sosok Nabi Ayyub adalah teladan bagi siapa saja yang diuji dengan kekurangan, kesempitan dan kesulitan. Pada satu waktu Allah memberikan ujian berupa penyakit fisik pada dirinya, kemudian banyaknya keluarga yang meninggal dunia serta habisnya harta yang dimiliki. Keadaan ini tentu menjadi celah bagi syetan untuk menggoda dan membisikkan hal yang negatif. Namun semua itu beliau jalani dengan tetap dekat kepada Allah.
Rangkaian cerita Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub juga terdapat dalam surat al-Anbiya’ ayat 81-84. Pada ayat 81, Surat al-Anbiya’ Allah berfirman:

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu

Ayat di atas menjelaskan kehebatan Nabi Sulaiman yang dapat menundukkan angin atas izin Allah. Angin tersebut dapat bertiup sangat kencang, hingga digambarkan dalam surat Saba’ ayat 12 bahwa perbandingannya adalah ketika angin berhembus di waktu pagi, maka pada saat itu setara dengan perjalanan normal sebulan lamanya, begitu pula perjalanan angin sore hari yang sebanding dengan perjalanan sebulan. Semuanya terjadi atas pengetahuan dan izin Allah. Begitu pula Allah tundukkan bangsa jin sebagaimana disebutkan dalam surat al-Anbiya’ ayat 82.

Setelah Allah menjelaskan kisah Nabi Sulaiman pada surat al-Anbiya’ ayat 81 dan 82, kemudian pada ayat 83-84 surat al-Anbiya, Allah menyebutkan tentang kisah Nabi Ayyub. Hal ini tentu saja memiliki rangkaian ayat yang sama pada surat Shad ayat 30-39 yang menceritakan tentang Nabi Sulaiman dan kisah Nabi Ayyub pada ayat 40-43 surat Shad.

Pada surat al-Anbiya’ ayat 83 Allah berfirman:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
_Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

Imam al-Qurthuby menjelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan ketegaran Nabi Ayyub atas ujian berat yang dijalani. Dapat dibayangkan betapa sabar dan tabahnya beliau, ketika berada pada puncak segala ujian yang dialami, tetap bisa menyebutkan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Kasih dan Maha Sayang. Tidak ada kasih sayang yang melebihi sayangnya Allah kepada manusia_

Pada surat al-Anbiya’ ayat 84 baru disebutkan bagaimana Allah memberikan jalan keluar bagi Nabi Ayyub untuk melewati ujian yang diberikan. Allah berfirman:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ
Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah

Atas izin Allah semua ujian berlapis yang dihadapi Nabi Ayyub hilang dalam sekejap dan Allah kembalikan semua nikmat seperti sedia kala. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang selalu tunduk kepada Allah maka kesulitannya akan berakhir dengan kemudahan. Selalu ada happy ending bagi orang beriman. Ketaqwaan akan mendatangkan jalan keluar yang tidak diduga sebelumnya. Ini semua hendaknya menjadi kisah yang harus dijadikan pelajaran bagi mereka yang sedang dalam ujian kesulitan.

Semua ini juga sekaligus menunjukkan sifat Allah Yang Maha Adil, bahwa manusia dengan segala kondisi dan keadaannya memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Semoga Allah memberikan semua orang beriman kekuatan untuk selalu bersyukur atas ujian anugerah yang diberikan dan selalu bersabar atas ujian kesempitan yang dijalani dalam kehidupan.

SebelumnyaHow to Reach Unlimited Output SesudahnyaFOKUS KE SURGA

Tausiyah Lainnya