Tadabbur Juz 3, Surat Ali Imran ayat 10 dan 91

Mungkin sebagian kita mengetahui ada salah satu permainan anak-anak yang namanya Monopoli. Dalam permainan tersebut setiap orang seperti sedang bertransaksi jual beli, sewa-menyewa, dll. Hal yang tak kalah menariknya adalah uang yang digunakan dalam transaksi, dibuat sangat mirip dengan uang yang biasa digunakan dalam kehidupan nyata.

Saat bermain, setiap orang sudah merasa sedang dalam kehidupan nyata sehingga ia berusaha untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Ada kebanggaan yang teramat sangat, saat uang yang bisa dikumpulkan dalam permainan tersebut berjumlah besar. Tidak sedikit pemain yang sangat serius dalam permainan hingga mengeluarkan otot dan otaknya, saat melakukan transaksi.

Namun bagi orang yang tidak ikut bermain, maka ia akan tersenyum bahkan sesekali tertawa melihat betapa permainan yang jelas hanya main-main saja, bisa memicu adanya perselisihan dan pertikaian antar pemain. Padahal sebanyak apapun uang yang bisa dikumpulkan oleh si pemain, maka uang itu tidak laku sedikitpun dalam dunia nyata. Uang ratusan ribu dalam permainan monopoli, pun tidak bisa digunakan untuk membeli sepotong kue atau bahkan tak bisa digunakan untuk membeli permen.

Ada dua realitas yang bertolak belakang. Dalam permainan monopoli, uang permainan itu begitu bermakna bahkan para pemain rela bertengkar untuk memperebutkannya. Sementara orang yang tidak bermain, paham betul bahwa uang itu tidak ada artinya sama sekali. Uang itu tidak ada harganya.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita. Di dunia ini, orang menyebut money talks: uang yang berbicara. Ada uang semua urusan gampang. Ada fulus semua perkara mulus. Wajar sekali jika semua manusia memperebutkannya. Bahkan apapun berani dilakukan demi mendapatkan “cuan”. Tidak sedikit perselisihan, pertikaian, pertengkaran dari level rendah hingga ke level yang paling tinggi terjadi dalam dunia uang. Uang adalah segalanya. Orang rela mengorbankan apa saja yang dimiliki demi mendapatkannya. Ia rela mengorbankan ilmunya, kemuliaannya, kehormatannya, idealismenya, bahkan agamanya untuk mendapatkan uang. Hal ini sekali lagi, menggambarkan betapa luar biasanya uang.

Tetapi bagi orang yang mampu mengambil jarak sedikit dan keluar dari kehidupan dunia. Laksana seseorang yang keluar dari permainan “monopoli”, maka ia akan menyadari betapa uang yang melimpah itu tidak ada artinya sama sekali. Ia akan mentertawakan orang lain dan dirinya jika harus berjibaku sedemikian rupa untuk uang. Saat ia keluar dari perspektif kehidupan dunia kemudian masuk dalam kehidupan akhirat, maka ia akan menemukan fakta bahwa uang yang dikumpulkan “mati-matian” di dunia itu ternyata tidak ada harganya sama sekali. Uang banyak yang sudah dikumpulkan, terbukti tidak bermanfaat sama sekali bagi pemiliknya.

Dalam surat Ali Imran ayat 10, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka

Iman yang menjadi kata kunci mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan akhirat. Harta tidak berharga sama sekali. Bagi orang beriman, harta hanya dapat memberikan makna saat sudah dikonversi dalam bentuk amal shaleh. Saat seseorang meninggal, ia akan diantar oleh hartanya, keluarga dan amalnya. Hanya amal yang menjadi pendamping setia, sementara uangnya sudah bukan lagi menjadi miliknya.

Tanpa adanya iman, maka harta benar-benar bernilai kosong, nol dan nihil. Sebanyak apapun yang bisa dikumpulkan maka ia akan sia-sia tidak berarti apa-apa.

Lebih jelas lagi betapa uang yang diperebutkan di dunia menjadi tidak berharga saat masuk kehidupan akhirat, dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 91 jika seandainya ada seseorang memiliki emas sepenuh bumi (bukan hanya sebesar freeport, tetapi seisi dunia yang semua isinya emas dan dimiliki semua oleh orang tersebut), maka sungguh itu tidak bisa menjadi tebusan, upeti atau sogokan untuk menyelamatkan pemiliknya dari azab karena kekufuran saat hidup di dunia.

Masya Allah, Tabaarakallah. Sungguh beruntung orang beriman, sudah mendapatkan gambaran yang hakiki tentang bagaimana menilai dan melihat uang. Jangan sampai kita seperti seorang anak yang sedang bermain monopoli, begitu seriusnya bahkan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan uang, padahal di luar permainan tersebut semuanya tidak berharga sama sekali.

Semoga Allah memberikan kita bimbingan agar hanya mengumpulkan harta yang halal dan juga kemampuan untuk mengkonversi uang tersebut ke dalam bentuk amal sehingga abadi sampai ke negeri akhirat..

Yuk Kumpulkan hanya yang halal, dan Konversikan sebagian harta kita dalam bentuk amal agar ia tetap bernilai saat kita masuk dalam kehidupan akhirat! Semoga bermanfaat!