Spirit Meneladani Rasul

Secara fitrah manusia membutuhkan idola atau figur dalam upaya menjadi pribadi yang dicita-citakan. Sesuatu yang alami jika kemudian setiap orang melakukan pencarian figur ideal yang akan diikutinya. Dorongan tersebut tidak dapat dinafikan. Albert Bandura (1986) dalam tulisannya “Social Cognitive Theory of Learning” menyebutkan bahwa meniru (imitation) adalah instinct manusia. Setiap orang belajar melalui observasi terhadap perilaku orang yang dijadikan sebagai model atau idola. Bandura menyebut fase seseorang meniru idolanya sebagai modeling process.


Namun demikian dalam prosesnya, manusia bisa keliru dalam menentukan idolanya. Oleh karena itu Allah telah memfasilitasi dorongan fitrah manusia tersebut dengan menghadirkan figur ideal yang dapat diikuti oleh segenap umat manusi. Figur tersebut adalah Rasulullah, Sang Nabi akhir zaman. Allah memberikan jaminan 100 persen kebenaran Rasul sebagai sosok teladan ideal. Jaminan pertama adalah apa yang Allah sampaikan dalam surat an-Najm ayat 3 dan 4 yang berbunyi:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).


Ada ungkapan bahwa lidah adalah daging tak bertulang. Hal tersebut mengisyaratkan betapa sulitnya seseorang mengontrol lisannya. Tidak jarang, seseorang mengakui “keceplosan” ketika ada kalimat yang tidak baik meluncur dari lisannya. Mudah bagi seseorang untuk mengontrol kaki dan tangannya, akan tetapi sangat sulit baginya untuk memastikan bahwa lisannya tidak akan tergelincir.
Bagaimana dengan Rasulullah? Beliau adalah sosok manusia yang lisannya selalu terjaga. Setiap kalimat yang terucap tidak diawali oleh dorongan hawa nafsunya, melainkan wahyu dari Allah. Jika lisan yang begitu rumitnya selalu terjaga dan terkendali, apalagi anggota tubuh lain yang tentu saja lebih mudah dari menjaga lisan.


Di samping jaminan akan lisannya yang selalu terjaga, dalam surat al-Qalam ayat 4 Allah menjamin keagungan akhlak Sang Nabi sebagai berikut:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi perkerti yang agung.

Akhlak adalah sikap spontan seseorang dalam menyikapi sesuatu. Dengan demikian akhlak tidak dapat direkayasa karena ia adalah sesuatu yang sudah mendarah daging pada diri seseorang. Allah, Zat yang Maha Benar, memberikan jaminan bahwa Sang Nabi memiliki akhlak yang agung nan mulia.
Kisah perjalanan hidup beliau menjadi saksi akan keluhuran akhlaknya. Di antaranya ketika beliau yang pertama kali menjenguk seseorang yang sehari-harinya meludahi beliau saat hendak ke masjid. Kontan saja kedatangan Rasulullah menyentuh hati orang yang dijenguk hingga hatinya tergerak untuk mengikrarkan syahadat di hadapannya.


Begitu pula sang pengemis buta yang setiap hari disuapi makanan oleh Rasulullah, meskipun lisannya selalu mencaci dang menghina dirinya. Sang pengemis buta baru mengetahui ketika Abu Bakar melanjutkan kebiasaan Nabi, kemudian terkejutlah ia ketika diberitahu bahwa selama ini yang menyuapinya makanan adalah orang yang selalu ia hina. Kontan saja, akhlak agung tersebut meruntuhkan dinding kekufuran sang pengemis hingga keluar kalimat syahadat dari lisannya.
Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Aisyah RA ditanya oleh para sahabat bagaimana akhlak Rasulullah. Kemudian Aisyah menjawab bahwa akhlak Sang Nabi adalah al-Qur’an.


Bagi kita, umatnya, al-Qur’an baru sebatas rangkaian perintah dan larangan. Kita melakukan sesuatu karena berharap syurga dan terhindar dari neraka. Tetapi, bagi Sang Nabi, ayat-ayat al-Qur’an yang berisi perintah dan larangan adalah karakter aslinya. Al-Qur’an adalah sikap bawaan positif yang sudah mendarah daging sehingga menjadikan pelakunya merasa senang dan bahagia dengan apa yang dilakukan. Besarnya ganjaran bukan lagi menjadi pendorong utama, akan tetapi halawah al-iman yang sudah terpatri dalam dirinya yang menjadi pemicu. Sebut saja, seseorang yang rajin bersilaturrahim, maka kepergiannya dari satu rumah ke rumah lain bukan lagi sesuatu yang membebani, bahkan ia merasakan kenikmatan dengan aktivitas tersebut.


Dalam surat at-Taubah ayat 128, Allah menggambarkan di antara akhlak Nabi yang mulia sebagai berikut:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Dalam ayat tersebut dijelaskan dua akhlak Nabi yang mulia. Akhlak pertama adalah bahwa beliau merasakan setiap kesulitan dan penderitaan yang dirasakan oleh umatnya. Nabi terlindung dari sikap individualis, egois, yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Sebaliknya, kepentingan dan kemaslahatan umatnya menjadi prioritas. Hidupnya penuh dengan aktivitas memikirkan orang lain. Akhlak kedua adalah bahwa beliau sangat ingin sekali agar orang yang didakwahinya benar-benar menjadi seorang Mu’min yang akan mendapatkan kesuksesan di dunia dan di akhirat. Keinginan yang tinggi tersebut membuatnya tahan mengalami berbagai penderitaan sepanjang semua itu dapat membuka jalan terbukanya pintu hidayah.


Kedua sikap dan akhlak di atas sangat jarang ditemukan pada diri seorang pemimpin. Mayoritas pemimpin memprioritaskan keuntungan yang akan kembali kepada dirinya, keluarganya atau kelompoknya. Setelah itu dipenuhi semua, baru kemudian kemaslahatan orang banyak menjadi prioritas selanjutnya tentu saja dengan porsi yang tersisa. Pola kepemimpinan yang mementingkan diri sendiri pada gilirannya akan menumpulkan spirit ideal yang akan digelorakan karena terpatahkan oleh realitas yang jauh lebih fasih dari teori secanggih apapun.


Berangkat dari jaminan lisan yang selalu terjaga, kebaikan yang bukan hanya sekedar perbuatan akan tetapi sudah menjadi karakter bawaan, maka pribadi Sang Nabi adalah sosok ideal untuk menjadi figur seluruh umat manusia. Hal tersebut disebutkan dalam surat al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Seseorang yang menjadikan Allah dan akhirat sebagai orientasi hidupnya, maka merasa bahagia ketika mendapatkan Rasulullah sebagai qudwah hasanah-nya. Menjadikan orang lain sebagai suri tauladan yang baik, harus tetap diiringi dengan sikap kritis dan kehati-hatian. Bisa jadi figur teladan yang diidolakan ternyata penuh tipu daya dan kepalsuan. Jika seseorang salah dalam memilih figur dalam hidup yang cuma sekali, maka segala resiko di hadapan Allah harus dapat dipertanggungjawabkan sendiri. Figur dan idola keburukan pada saatnya nanti akan berlepas diri dan lari dari tanggungjawab.


Jika benar-benar dalam hidup ini, seseorang mampu menghadirkan pribadi Rasulullah sebagai teladan maka Allah sudah menyiapkan ganjaran besar untuknya. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 31 yang berbunyi:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat di atas menjelaskan janji Allah bagi orang yang mengikuti Rasulullah. Janji pertama adalah bahwa Allah akan mencintainya. Tak terbayangkan jika seseorang menjadi kekasih Allah, tentu saja segala karunia yang agung akan menjadi miliknya. Kehidupan dunia yang penuh suka dan duka, akan dijalani dengan penuh ketundukan karena optimismenya bahwa semua akan berakhir dengan happy ending. Dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari, dijelaskan bahwa jika seseorang sudah dicintai Allah, maka ia melihat dan mendengar dengan penglihatan dan pendengaran Allah. Oleh karena itu, penglihatan dan pendengarannya melebihi dari kemampuan manusia biasa. Ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh layaknya manusia. Ia bisa mendengar apa yang tidak bisa didengar oleh manusia kebanyakan.


Selain cinta Allah yang dianugerahkan kepada orang yang ber-qudwah kepada Rasulullah, ayat di atas juga menjelaskan bahwa Allah akan menganugerahkan ampunan kepadanya. Ampunan Allah selalu lebih besar dari dosa-dosa yang dilakukan manusia. Maka ketika Allah sudah mencinta seseorang, kemudian orang tersebut akan diampuni dosa dan kesalahannya, maka ia akan kembali bersih tanpa dosa seperti sedia kala dalam fitrahnya.


Semoga Allah menganugerahkan kecintaan kita kepada Rasulullah, sehingga terbukti bahwa Rasul adalah figur dan idola kita sesungguhnya. Semua itu akan membawa kita pada satu titik dicintai Allah dan dosa kita selalu diampuni-Nya. (UAG)