SHAHIB YASIN

Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling sering dibaca di tengah masyarakat. Bahkan surat tersebut telah melegenda menjadi satu nama kegiatan rutih yang dinamakan “Yasinan”. Oleh karena sangat seringnya dibaca berulang-ulang, tidak sedikit para orangtua dahulu menghafal surat tersebut secara alami tanpa harus mengikuti program menghafal secara khusus.

Ada satu kesempatan yang positif dari kebiasaan “Yasinan” yang sudah mengakar tersebut, yaitu bagaimana agar masyarakat dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari makna dan kandungan di dalamnya. Di antara kandungan surat Yasin adalah satu kisah yang penuh dengan hikmah dan ibroh yang dimulai dari ayat 13 sampai ayat 32.

Ayat tersebut dimulai dari perintah Allah kepada Rasulullah untuk menyampaikan satu perumpamaan kepada masyarakat Mekkah yang tidak mau menerima risalah dakwah beliau. Perumpamaan tersebut berupa kisah nyata, ketika ada satu penduduk desa yang didatangi oleh 2 orang utusan Allah untuk meluruskan aqidah mereka. Kemudian Allah memperkuat kembali dengan tambahan satu utusan hingga menjadi 2 orang. Kesemuanya menyampaikan kepada penduduk kampung tersebut bahwa mereka adalah utusan Allah untuk menyampaikan ajaran yang sebenarnya dan mereka harus meninggalkan pemahaman sesat yang selama ini dijadikan sebagai pegangan.

Pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa penduduk kampung tersebut menolak ajakan para Rasul dengan mengatakan bahwa utusan-utusan tersebut sama saja dengan mereka. Ada anggapan bahwa 3 orang yang diutus tersebut tidak lebih baik dari mereka. Mereka gengsi bahkan sombong untuk dapat menerima apa yang disampaikan oleh para Rasul. Bahkan para Rasul tersebut dianggap pendusta atau penebar hoax saja. Sekilas dari gambaran tersebut, rasa gengsi dan sombong seringkali menjadi hambatan seseorang untuk dapat menerima cahaya kebenaran. Oleh karena itu ungkapan “lihatlah apa yang disampaikan, dan jangan melihat orang yang menyampaikan”, menjadi salah satu value yang positif agar setiap orang dapat menerima kebenaran dengan lapang dada tanpa melihat siapa yang menyampaikan.

Penolakan tersebut direspon oleh para utusan untuk menyampaikan secara terbuka bahwa mereka adalah benar-benar utusan Allah dan Allah mengetahui seluruh tugas dan amanah yang dijalankan. Meskipun demikian, tugas mereka adalah hanya untuk menyampaikan bukan memaksakan penduduk desa tersebut untuk mengikutinya.
Sikap penolakan penduduk desa semakin menjadi-jadi dan cenderung kasar. Mereka menyebut para Rasul sebagai sumber nasib sial yang mereka alami. Kedatangan para Rasul sudah membuat keadaan mereka memburuk. Para utusan Allah tidak menerima tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa keadaan buruk tersebut tidak lain karena perilaku menyimpang mereka yang sudah sangat berlebihan dan melampaui batas. Hal tersebut direspon oleh penduduk desa dengan ancaman pembunuhan bahwa jika para Rasul tidak berhenti menyampaikan risalah dakwahnya, mereka siap merajam dan menimpakan siksaan yang berat.

Selesai sudah kisah antara penduduk desa dengan 3 orang utusan Allah yang datang kepada mereka untuk meluruskan keyakinan yang ada. Kemudian dari satu negeri berperadaban yang jauh (al-Madinah), datanglah seorang laki-laki ke desa tersebut untuk mengingatkan bahwa seharusnya mereka mengikuti petunjuk dan arahan 3 orang Rasul tersebut. Ketiga orang itu adalah orang-orang yang tidak punya kepentingan materi dan dunia atas tugas yang dijalankan. Ketiga orang tersebut adalah orang-orang yang berada dalam kebenaran dan mendapatkan petunjuk dari Allah.

Berikutnya seorang Da’i ini berargumentasi dengan logika dan nalarnya dengan berkaca pada dirinya sendiri. Baginya,tidak mungkin ia tidak beriman kepada Allah karena Dia-lah yang menciptakannya dari tidak ada menjadi ada, serta pada akhirnya nanti semua manusia akan kembali kepada-Nya tanpa kecuali. Setiap orang tidak bisa mengelak dari Allah sejak awal, saat ini dan nantinya. Perjalanan hidup manusia seluruhnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Alasan logis lain yang dikemukakan adalah bahwa segala sesuatu yang menjadi sesembahan selain Allah, tidak bisa berbuat apa-apa ketika Allah ingin menghukum orang yang menyembahnya. Jika seseorang tidak beriman dan menjadikan selain Allah sebagai sumber kekuatan yang ghaib, maka sungguh ia benar-benar dalam kesesatan yang nyata dan pasti. Dari seluruh rangkaian logika tersebut itulah, sang Da’i menyebutkan bahwa ia sepenuhnya beriman kepada Allah dan meminta kepada seluruh penduduk desa itu mendengarkan dan mengikuti apa yang disampaikan.

Namun ajakan Da’i tersebut berbuah bencana dan malapetaka yang berbuah syurga. Sang Da’i kemudian dibunuh dan kejadian itu menjadi jalan kemudahan dan kelapangan baginya untuk mendapatkan kemenangan sejati yaitu syurga. Da’i tersebut diperintahkan untuk masuk ke dalam syurga Allah. Pada saat itu, sang Da’i tidak merasa dendam sedikitpun kepada penduduk negeri, bahkan muncul rasa empati, simpati dan rasa kasihan sambil berangan-angan seandainya mereka mengetahui apa yang Allah berikan niscaya akan tumbuh cahaya iman dalam jiwa mereka.

Namun ternyata kasus pembunuhan yang dilakukan penduduk desa tersebut mengundang datangnya azab Allah. Dengan sangat mudahnya Allah binasakan mereka hanya dengan satu teriakan yang memekakkan telinga hingga mereka mati bergelimpangan. Hanya sesederhana itu, jika Allah ingin menghancurkan kebatilan yang dilakukan oleh orang banyak. Sungguh tidak ada yang sulit bagi Allah, dan semakin tidak ada tempat bagi manusia untuk sombong sebesar biji sawi pun.

Orang-orang yang binasa pada akhirnya merasakan penyesalan tiada tara. Penyesalan sekujur badan dalam berbagai bentuknya yang tidak lagi ada celah untuk bisa bangkit kembali. Jika dalam keseharian ada ungkapan positif yang berbunyi; “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”, maka dalam urusan ini ketika seseorang meninggal dunia dalam kekufuran maka itu adalah “kegagalan yang sudah pasti dan sangat nyata”. Kegagalan yang total dan menyeluruh ada dalam peristiwa tersebut.

Ternyata kejadian seperti ini telah terjadi berulang-ulang dalam perjalanan sejarah manusia. Banyaknya kisah mereka yang sombong kepada para penegak kebenaran, kemudian kesombongan itu memuncak pada titik penyiksaan dan pembunuhan kepada para Da’i. Maka semua itu akan berakhir pada hukuman Allah yang akan disesali oleh mereka yang kufur dengan penyesalan yang tidak ada lagi bandingannya. Penyesalan makin terasa ketika pada akhirnya semua manusia akan dikumpulkan, dihisab, dan diminta pertanggungjawabannya tanpa ada seorang pun yang menghindar.

Jika polisi melakukan razia pengendara motor di satu jalan, maka di antara sekian banyak motor yang lewat, masih ada yang mampu menghindar. Ada pengendara motor yang berbalik arah, ketika ia melihat kerumunan polisi yang sedang berjaga. Maka ia pun lolos dan bebas leluasa dari razia. Ada yang tetap berjalan secara perlahan seolah mendekati polisi agar tidak dicurigai, sehingga polisi tersebut berprasangka positif dan tidak memeriksa pengendara motor tersebut, hingga ia pun bebas tidak dirazia. Bagaimana nanti dengan razia di akhirat? Sungguh tak akan ada seorang pun yang hidup di muka bumi ini, yang dapat mengelak dari perhitungan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah, termasuk semua penduduk desa yang sudah membunuh seorang Da’i yang hendak mengajak mereka ke jalan yang benar.

Terkait dengan terma “al-Qaryah” dan “al-Madinah” dalam rangkain cerita di atas, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata “al-Qaryah” tidak selalu dimaknai sebagai wilayah dengan tampilan fisik yang kurang berkemajuan, sementara “al-Madinah” adalah satu wilayah yang penuh perkembangan dan kemajuan. Ada pemaknaan yang berbeda dengan memaknai “al-Qaryah” sebagai tempat di mana para penduduknya tidak sampai pada keimanan kepada Allah, sementara “al-Madinah”adalah wilayah di mana penduduknya sudah sampai pada derajat iman kepada Allah. Wilayah dengan berbagai kemajuannya tanpa diiringi aqidah yang benar, maka tetap disebut sebagai “al-Qaryah”, sementara satu kampung yang dinaungi dengan kelurusan aqidah, maka sesungguhnya tempat itu adalah “al-Madinah”. Dari pemahaman tersebut dapat juga dianalogikan dengan manusianya. Jiak seseorang ia tidak beriman kepada Allah maka ia dapat disebut sebagai “ashab al-Qaryah” walaupun dari sisi level pendidikan dan kekayaan termasuk kalangan menengah ke atas. Sementara seseorang dengan level pendidikan dasar atau bahkan putus sekolah tetap mendapatkan sebutan “ashab al-Madinah” atas dasar aqidahnya yang benar.

Dalam tafsir Ibnu Katsir terkait rangkaian kisah surat Yasin ayat 13 sampai 32, diceritakan tentang salah seorang sahabat yang bernama Urwah bin Mas’ud yang datang kepada Nabi agar bisa diutus untuk berdakwah ke satu tempat. Rasulullah kemudian mengingatkan Urwah, bahwa dalam dakwah ini bisa saja ia akan mati terbunuh. Namun hal tersebut tidak menyurutkan tekad kuat Urwah untuk melanjutkan risalah Nabi. Akhirnya Nabi memerintahkan Urwah untuk berdakwah ke Tsaqif, di mana penduduknya menyembat berhala Lata dan Uzza.

Datanglah Urwah ke kampung tersebut seraya menyampaikan kepada mereka agar segera masuk Islam agar selamat di dunia dan di akhirat. Urwah mengingatkan bahwa berhala Lata yang mereka sembah, tidak ada apa-apanya. Berhala Uzza yang dijadikan sesembahan, juga tidak bisa apa-apa. Di tengah semangat beliau untuk berdakwah kepada kaum Tsaqif, ada seseorang yang menembahkan anak panahnya ke beliau, hingga kemudian Urwah meninggal dunia dengan anak panah tersebut. Berita kematian Urwah kemudian sampai kepada Nabi hingga beliau mengungkapkan satu kalimat, “perumpamaan perjalanan yang dialami oleh Urwah seperti perjalanan Sahib Yasin (Da’i terbunuh yang dikisahkan dalam Surat Yasin)”.

Semoga kisah di atas dapat selalu dingat saat setiap Muslim membaca surat Yasin, satu cerita heroik aktivis dakwah yang membutuhkan pengorbanan baik tenaga, pikiran, harta bahkan nyawanya sendiri,seperti dalam ungkapan “Bondo, bahu, pikir lek perlu sak nyawane pisan”.