Sesuatu Yang Mewajibkan Mandi Junub

Sesuatu yang mewajibkan wudhu pada dasarnya mewajibkan mandi junub, seperti sholat, tawaf dan menyentuh al-qur’an, lebih dari itu yaitu berdiam di mesjid. Semua ulama mazhab sepakat bahwa bagi irang yang junub tudak boleh berdiam di mesjid. Hanya berbeda pendapat boleh tidak nya kalau ia lewat di dalamnya, sebagaimana kalau ia masuk dari satu pintu ke pintu lainnya.

Maliki dan Hanafi: tidak boleh kecuali karena sangat darurat (penting). Syafi’i dan Hambali: boleh kalau hanya lewat saja, asal jangan berdiam, pendapat ini berdasarkan keterangan ayat 43 surat an-nisa:
“(jagan pula)hampiri mesjid sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja”.
Maksud ayat tersebut di atas, dilarang mendekati mesjid-mesjid yang di jafikan tempat solat, kecuali ia hanya melewatinya saja. Ayat tersebut mengecualikan dua masjid, yakni masjidil haram dan masjid nabaw, karena ada dalil khusus yang menunjukkannya berbeda (pengecualian).

Sedangkan membaca al-qur’an, Maliki: bagi orang yang junub diharamkan membaca sesuatu yang dari al-qur’an, kecuali sebentar dengan maksud untuk memelihara (menjaga) dan menjadikannya sebagai dalil (bukti). Pendapat ini hampis sama dengan Hambali.

Hanafi: bagi orang yang junub tidak boleh membacanya,kecuali dia menjadi guru mengaji yang menyampaikannya (mentalqin;mengajarkannya) kata perkata.
Syafi’i: bahkan satu hrufpun bagi orang yang junub tetap diharamkan, kecuali hnaya untuk dzikir (mengingat) seperti menyebutnya pada saat makan.

Hal-Hal Yang Wajib Dalam Mandi Junub

Dalam mandi junub di wajibkan apa yang di wajibkan dalam wudhu, baik dari segi ke-mutlakan air sucinya serta badan harus suci terlebih dahulu, serta tidak ada sesuatu yang mencegah sampainya ke kulit, sebagaimana yang telah di jelaskan dalam bab wudhu, diwajibkan juga berniat, kecuali Hanafi yang menolak niat ini. Alasannya hanafi tidak menganggap niat sebagai syarat sah mandi.

Empat mazhab tidak mewajibkan dalam mandi junub itu dengan cara-cara khusus, hanya mereka mewajibkan untuk meratakan air ke seluruh badan, mereka tidak menjelaskan apakah harus dari atas atau sebaliknya.
Hanafi: menjelaskan ia harus berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung lalu dihembuskan. Mereka (hanafi): sunnah bila pertama memulai dengan menyiram air dari kepala, tubuh sebelah kanan, lalu tubuh sebelah kiri. Syafi’i dan Maliki: di sunnahkan untuk memulai dari bagian atas badan sebelum pada bagian bawah, selain faraj (kemaluan). Ia (faraj) disunnahkan lebih dahulu dari semua anggota badan yang lain. Hambali: di sunahkan mendahulukan yang kanan dari yang kiri.