Renungan Dhuha di Bulan yang Mulia….

Abdul Ghoni (DQM)

Kadangkala muncul pertanyaan menggelitik dalam benak pikiran, apa sih sebenarnya yang membuat seseorang tidak semangat berbuat baik dan tetap merasa tenang-tenang saja saat melakukan keburukan?

Padahal dalam al-Qur’an Allah memerintahkan untuk selalu bersegera bahkan berlari untuk melakukan itu semua. Di antaranya dalam surat Ali Imran ayat 133 yang berbunyi:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Dalam surat al-Hadid ayat 21, Allah SWT memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba atau berkompetisi. Ayat tersebut berbunyi:

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya

Dalam ayat yang lain, Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berlari menuju Allah. Hal tersebut disebutkan dalam surat Az-Zariyat ayat 59 yang berbunyi:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Berlarilah menuju Allah, sesungguhnya aku (Rasul) adalah pemberi peringatan yang benar.

Dalam tafsir ath-Thabari dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “berlari menuju Allah” adalah bersegera untuk beriman dan melakukan ketaatan kepada Allah.

Dalam beberapa ayat di atas, dapat dilihat betapa Allah dan Rasulullah memerintahkan manusia untuk bersegera, berlomba-lomba bahkan berlari dalam menyambut setiap peluang kebaikan. Semua perintah tersebut mengisyaratkan adanya keterbatasan waktu sementara banyak hal yang perlu dilakukan dan dipersiapkan. Manusia tidak punya waktu yang panjang untuk bisa melakukannya sehingga perlu bersegera dan berlari.

Jika dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari, kapan seorang bapak atau ibu mengatakan kepada anaknya untuk bersegera melakukan sesuatu. Tentu saja hal itu terjadi karena waktu yang dimiliki sangat singkat dan dalam kondisi “kepepet”. Hal yang sama tidak akan dilakukan orangtua, jika waktunya yang dimiliki masih panjang. Bahkan saat itu orangtua akan menyampaikan kepada anaknya untuk bersikap santai dan tenang karena kesempatan masih banyak.
Mengurai pertanyaan yang muncul pada awal tulisan dan fenomena yang ada dalam kehidupan, bisa jadi keenganan seseorang untuk beramal shaleh dan bersikap tenang dengan keburukan yang dilakukan, karena ia merasa hidupnya masih panjang. Waktu yang dimiliki masih sangat lama. Tak terbersit sama sekali dalam dirinya bahwa kehidupannya akan segera selesai. Nah, apakah persepsi ini benar?

Di dalam al-Qur’an Allah SWT dengan tegas menjelaskan kelirunya persepsi tersebut dan Allah memberitahukan kepada manusia apa yang sebenar-benarnya. Dalam surat al-Ma’arij ayat 6 dan 7, Allah berfirman:

إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا
Mereka melihat seolah hari akhir itu jauh, padahal Kami memandangnya dekat.

Hari terakhir dalam kehidupan yang ditandai dengan terjadinya hari kiamat yang kemudian dilanjutkan dengan adanya ganjaran atas kebaikan dan keburukan, dipandang jauh oleh manusia. Setidaknya ketika dikaitkan pada individu manusia masing-masing, maka saat manusia meninggal dunia kemudian dikuburkan, maka ia sudah mulai memasuki awal perjalanan kehidupan akhirat. Tentu saja ini lebih singkat lagi. Dalam pandangan Allah semua itu adalah waktu yang sangat dekat dan amat singkat.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad diceritakan:
كَانَ عُثْمَانُ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ بَكَى حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ , قَالَ فَقِيلَ لَهُ : تَذْكُرُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ وَلا تَبْكِي ، وَتَبْكِي مِنْ هَذَا ؟ فَقَالَ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : الْقَبْرُ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ , فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدَّ مِنْهُ , وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا إِلا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

Khalifah Utsman jika datang ke kubur maka ia akan menangis hingga membasahi jenggotnya. Kemudian sahabatnya berkata; “mengapa jika kau mengingat syruga dn neraka tidak sampai menangis, sementara kau menangis karena ini (kubur)?”. Kemudian Utsman menjawab; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat’

Jika merunut pengalaman riil hidup ke belakang, maka akan ditemukan satu kesadaran bahwa waktu yang dianggap lama itu sebenarnya amat singkat. Durasi waktu sekian puluh tahun itu yang dianggap lama, sesungguhnya amat pendek. Salah satu buktinya adalah persepsi manusia yang sudah berusia 30 tahun – 40 tahun, atau bahkan bagi yang sudah berusia 60 tahun sekalipun. Ketika ditanyakan kepadanya, apakah sudah lama ia menjalani hidup? Rata-rata jawaban yang diberikan adalah hidupnya belum lama dan sangat singkat. Masih terekam dengan baik saat ia belajar di SD, SMP dan SMA. Itulah yang sebenarnya terjadi bahwa waktu yang dimiliki manusia teramat singkat.

Kekeliruan persepsi tentang lamanya kehidupan dunia baru akan benar-benar disadari oleh setiap orang tanpa kecuali, saat nanti ketika ia sudah kembali. Saat itu mereka akan mengatakan bahwa hidup di dunia hanya sehari atau setengah hari saja. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Mu’minun ayat 112-113:

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ
قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”.

Bahkan dalam ayat yang lain, pengakuan lamanya hidup di dunia lebih pendek dari ayat di atas yakni seperempat hari. Hal tersebut dijelaskan dalam al-Qur’an surat an-Nazi’at ayat 46 yang berbunyi:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.

Ketika kehidupan dunia dilalui oleh manusia dan masuk pada kehidupan akhirat dengan datangnya hari akhir, barulah manusia menyadari bahwa kehidupan dunia yang dianggap lama itu sebenarnya singkat. Ia tak lebih seperti waktu Isya atau waktu Dhuha. Waktu Isya adalah bagian awal dari malam, sementara waktu Dhuha adalah bagian awal dari siang hari.

Pengakuan lain dari manusia saat dunia sudah berlalu adalah apa yang dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

يؤتى بأنعم أهل الدنيا من أهل النار يوم القيامة، فيصبغ في النار صبغةً، ثم يقال: يا ابن آدم هل رأيت خيراً قط؟ هل مر بك نعيمٌ قط؟ فيقول: لا والله يا رب، ويؤتى بأشد الناس بؤساً في الدنيا من أهل الجنة، فيصبغ صبغةً في الجنة، فيقال له: يا ابن آدم هل رأيت بؤساً قط؟ هل مر بك شدةٌ قط؟ فيقول: لا، والله ما مر بي بؤسٌ قط، ولا رأيت شدةً قط

Ternyata orang yang paling bahagia di dunia dan mengisi kehidupannya dengan kesenang-senangan tanpa henti, tidak merasa bahagia sedikitpun di dunia. Karena memang waktunya teramat singkat dibanding kehidupan yang akan mereka lalui berikutnya. Begitu pula orang yang paling susah dan sengsara dalam hidupnya, ternyata ia tidak merasakan sedikitpun kesengsaraan, karena begitu singkatnya kehidupan dunia dan panjangnya hidup setelah itu.

Jika seseorang memiliki pemahaman dan persepsi yang benar bahwa dunia begitu singkat, maka hal ini akan berpengaruh positif dalam kehidupan sehari-harinya. Ia akan memanfaatkan momen-momen yang singkat ini untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya dengan terus berusaha menghindari keburukan sejauh-jauhnya. Persepsi tersebut akan mengejawantah dalam bentuk kesungguhan melaksanakan tugas kesehariannya. Ia akan semakin baik dan giat saat di kantor, semakin sayang saat di rumah bersama keluarga, dan semakin khusyu’ ibadahnya di masjid. Pada saat yang sama, tak terpikir olehnya untuk melakukan penyimpangan yang akhirnya membuat kehidupan yang singkat ini menyisakan beban kehidupan akhirat yang begitu berat. Jikapun ada kesalahan yang dilakukan, maka ia akan segera bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah. Ia meyakini betul bahwa setiap kebaikan hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, sebagaimana keburukan tidak merugikan siapapun kecuali diri yang melakukannya.

Semoga Allah terus perkuat motivasi dan semangat kita untuk selalu bersegera mengisi waktu-waktu yang singkat ini dengan kebaikan sebanyak-banyaknya, dan Allah kuatkan tekad kita untuk meninggalkan keburukan sejauh-jauhnya serta sesegera mungkin bertaubat setelah melakukan kekhilafan dan kesalahan.

Wallahu a’lam bi al-shawab