Puasa Mengajarkan Kita Untuk Berani “Menunda”

Abdul Ghoni (DQM)

Pada saat berpuasa, setiap Muslim mau dan berani menunda kesenangan sesaat dengan sabarnya menahan lapar dan haus. Ia berjuang dengan penuh kesungguhan untuk menolak segala dorongan yang dapat membatalkan ibadah puasanya. Ia rela menahan lapar dan dahaga, meskipun banyak rayuan yang menggodanya. Dari kesabarannya itu kemudian pada saat berbuka, Allah berikan kebahagiaan yang tidak akan pernah dirasakan kecuali oleh mereka yang berpuasa.

Ada kebahagiaan setelah ia mampu menunda kesenangan sesaat. Ada kesenangan yang Allah janjikan setelah ada fase perjuangan tidak makan dan minum dalam durasi waktu sekitar belasan jam.
Hal tersebut dijanjikan dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:
للصائم فرحتان: فرحه حين يفطر، و فرحة حين يلقى ربه

Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan pertama saat ia berbuka, dan kegembiraan kedua saat ia berjumpa dengan Rabb-nya.

Jika direnungkan, inilah salah satu kunci sukses kehidupan setiap orang, yaitu kemampuan menunda kesenangan sesaat, demi mendapatkan kesuksesan di masa depan.

Orang yang rela menunda kesenangan saat remaja, dengan bersungguh-sungguh untuk belajar, maka ia berhak mendapatkan kesuksesan saat dewasa. Orang yang rela menunda hidup boros saat muda, maka ia dapat mengumpulkan bekal yang cukup di masa tua. Mereka yang rela mengurangi waktu untuk bermain, demi masa depannya maka ia akan sukses pada saatnya nanti.

Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Rasul bersabda:
من خاف أدلج ومن أدلج بلغ المنزل
Barang siapa yang takut maka ia akan bersungguh-sungguh. Barangsiapa bersungguh-sungguh maka ia akan menggapai apa yang diinginkan.

Siapa yang takut akan kebodohan, kemiskinan, dan kegagalan di masa depan, maka ia akan berjuang dengan penuh kesungguhan. Pada saatnya nanti ia akan terhindar dari apa yang dikhawatirkan tersebut.

Bulan April 2019 lalu viral di media sosial, seorang remaja di Cina belajar 17 jam sehari demi keluar dari kemiskinan. Ia belajar dari jam 7 pagi hingga jam 12 malam. Akhirnya ia dapatkan apa yang dicita-citakan.

Kalau untuk urusan dunia, sudah sedemikian rupa kesungguhan yang harus dikeluarkan, apalagi untuk kesuksesan di akhirat. Bukankah tujuan hidup Muslim sebenarnya adalah kebahagiaan di akhirat di mana setiap Muslim dapat melindungi diri dan keluarganya dari azab neraka? Maka kesungguhan yang harus dilakukan, harus jauh lebih besar lagi. Ketika ia meyakini kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal dari kehidupan dunia, maka kesungguhan untuk mengejar akhirat harus melebihi kesungguhan seorang remaja Cina yang rela belajar 17 jam sehari di atas.

Namun sudahkah setiap Muslim memiliki rasa khawatir dan rasa takut seperti itu? Bagaimana tingkat kekhawatiran seorang Muslim terhadap kegagalan di masa depan, terutama dalam kehidupan akhirat. Kesempatan hidup yang Allah berikan, cuma dan hanya sekali, tidak ada hidup yang kedua kali.

Dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 9, Allah meminta setiap Muslim untuk khawatir, takut, dan galau terkait anak-anak dan keturunannya. Ini adalah ketakutan yang memang menjadi perintah Allah SWT.
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Meskipun ayat tersebut disebutkan dalam rangkaian ayat tentang ekonomi, akan tetapi setiap Muslim diharuskan untuk mewarisi keturunan yang kuat dari berbagai sisinya.

Jangan meninggalkan generasi yang lemah iman atau aqidahnya. Inilah anugerah Allah yang paling amat berharga. Uang sebanyak apapun tidak dapat membayar nikmat hidayah yang sudah ada dalam genggaman. Itulah yang dicontohkan oleh Nabi Ya’qub ketika memberikan perhatian yang lebih dari sisi tersebut, hingga beliau bertanya menjelang akhir hayatnya sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 133 yang berbunyi:
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Jangan meninggalkan generasi yang lemah ibadahnya, terutama shalat. Inilah amal yang mendapakan skala prioritas dalam hisab. Jika shalatnya dihisab dengan mudah, maka setelah itu semua menjadi jauh lebih mudah. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Nabi bersabda:
أول ما يحاسب عنه العبد من عمله صلاته فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسر
Sesungguhnya dihari kiamat yang pertama kali dihisab dari amalan seorang hamba adalah shalatnya, apabila baik shalatnya maka dia akan selamat dan apabila buruk shalatnya maka dia akan merugi.

Jangan meninggalkan generasi yang lemah adab dan akhlaknya. Ketiadaan akhlak akan menghinakan dan kemuliaan akhlak sungguh akan memuliakan setiap orang yang memilikinya.

Jangan meninggalkan generasi yang lemah secara ekonomi. Rasul sudah mengingatkan bahwa meninggalkan keturunan yang memiliki kecukupan harta jauh lebih baik daripada meninggalkan keturunan yang selalu meminta-minta kepada orang-orang di sekitarnya.

Jangan meninggalkan generasi yang lemah secara keilmuan. Ali bin Abi Thalib memberikan nasehat, bahwa ilmu akan menjaga pemiliknya sementara harta harus dijaga oleh pemiliknya. Harta yang banyak di tangan orang yang berilmu, akan berbuah amal sholeh yang sangat banyak.

Tundalah kesenangan sesaat untuk mendapatkan keturunan yang kuat aqidahnya. Jangan mempersekutukan Allah. Jangan kufur kepada Allah.

Tundalah kesenangan sesaat untuk mendapatkan keturunan yang kuat ibadah shalatnya. Berikan ilmu yang cukup agar bisa membaca al-Qur’an dengan baik, dan melaksanakan shalat sesuai aturan dalam syariat. Jadilan contoh bagi anak-anak dalam hal ibadah shalat 5 waktu.

Tundalah kesenangan sesaat untuk menanamkan akhlak yang mulia kepada anak-anak.

Tundalah perilaku boros dan tabzir, dan berusahalah dengan sungguh-sungguh agar dapat mewarisi keturunan yang kuat secara ekonomi. Dengan begitu mereka Mari bersungguh-sungguh untuk khawatir akan itu semua.

Tundalah kesenangan anak-anak yang sesaat dengan mendorong mereka untuk belajar mendalami ilmu, agar kelak mereka dapat hidup sesuai dengan tantangan zamannya.

Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk menunda kesenangan sesaat demi kebahagiaan di masa depan dunia, dan terlebih lagi dalam kehidupan akhirat..