Puasa dan Opportunity

 

Abdul Ghoni (DQM)

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda; *“Jika datang bulan Ramadhan maka pintu syurga di buka, pintu neraka ditutup, dan syetan dibelenggu.”* Di antara makna pintu syurga dibuka adalah dimudahkannya seseorang untuk melakukan amal sholeh yang banyak pada bulan tersebut. Pada saat yang sama, setiap orang dimudahkan untuk meninggalkan kemaksiatan. Syetan yang sebelumnya begitu leluasa mengganggu dan menggoda manusia, sudah dibatasi ruang geraknya oleh Allah SWT.

Hadits di atas menunjukkan betapa Ramadhan sudah dihadirkan sebagai *bulan yang sangat kondusif* untuk ibadah. Ramadhan sangat kondusif untuk berbagai macam kebaikan. Tak pernah terbayangkan, apakah seseorang mampu melaksanakan puasa di siang hari, shalat malam hingga 11 atau 23 rakaat di malam hari, kemudian dapat melakukan tilawah 1 juz per hari, disempurnakan dengan banyaknya shadaqah yang dikeluarkan, di luar bulan Ramadhan? Rasanya kok sangat sulit dan berat sekali ya! Jika pun dilakukan mungkin hanya bisa bertahan beberapa hari. Sementara ibadah-ibadah tersebut dilakukan seseorang di bulan Ramadhan, setiap hari selama satu bulan penuh.

Sungguh Ramadhan adalah *anugerah tak ternilai* bagi orang-orang yang beriman, hingga ibadah terasa manis dan nikmatnya saat dikerjakan. Laksana seorang petani yang tengah bersuka ria dengan datangnya musim penghujan. Usaha yang sedikit saat pergi ke sawah, akan mendatangkan hasil yang sangat berlimpah. Dari diri setiap Muslim akan terpancar wajah sumringah, senyum bahagia dan ceria saat menikmati hari-harinya di bulan nan suci dan mulia. Apakah ada kenikmatan tertinggi, selain kenikmatan yang dirasakan seorang Mu’min merasakan manisnya iman saat melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan? Di sanalah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.

Jika para pengusaha selalu berpikir bahwa *kesempatan belum tentu datang 2 kali* saat ada tawaran sebuah proyek bisnis. Dengan pola pikir seperti itu, maka setiap peluang yang ada akan segera diambil dengan cepat. Tantangan yang besar akan siap ditaklukkan karena belum tentu kesempatan yang sama akan datang lagi.

Seyogyanya paradigma “kesempatan tidak datang dua kali” patut dihidupkan dalam urusan akhirat. Bisa jadi Ramadhan 1440 H ini adalah *Ramadhan terakhir bagi kita*. Mari tengok sejenak sebagian keluarga, saudara, dan teman sejawat yang masih bersama mengiringi Ramadhan tahun lalu tanpa disangka ia tak punya kesempatan berjumpa Ramadhan tahun ini. Mereka yang sebelumnya masih dapat bercengkerama dalam keseharian baik di rumah, tempat kerja, maupun lingkungan sekitar tempat tinggal, saat ini sudah berada di dunia yang sama sekali berbeda. Apakah mungkin hal yang sama akan kita alami pada Ramadhan berikutnya, yang berarti hanya tinggal sekali ini kesempatan berjumpa dengan Bulan yang Agung dan Penuh Berkah.

Maka tak ada lain bagi setiap Muslim kecuali memanfaatkan bulan mulia ini dengan berbagai amal shaleh saat hati dan jiwa sudah Allah lapangkan dengan segala kemudahan yang sudah disiapkan. Mari sibukkan diri dengan berbagai ibadah dan iringi pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut dengan rasa bahagia dan cita! Bukankan sesuatu yang diiringi suka cita dan bahagia, akan menjadi ringan saat menjalaninya.

Yuk mengisi Ramadhan 1440 H dengan ibadah semaksimal mungkin! Bisa jadi ini Ramadhan terakhir bagi kita. Bisa jadi there is no second opportunity! Mungkin *there is no second Ramadhan* setelah ini!

Marhaban ya Ramadhan…