Parenting Ketika Bayi dalam Kandungan dan Saat Dilahirkan

Abdul Ghoni (DQM)

Dalam surat Ali Imran ayat 35, Allah berfirman:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Ayat di atas menggambarkan bagaimana istri dari Imran sudah mulai melakukan sesuatu untuk bayi yang masih ada dalam kandungan. Ada beberapa hal yang beliau lakukan dalam ayat tersebut.

Pertama, ia menazarkan bayi yang masih dalam kandungan untuk berkhidmah kepada Allah. Seorang ibu seperti Istri Imron sejak awal sudah punya obsesi terkait dengan anaknya, dan obsesi untuk berhubungan dengan urusan-urusan akhirat.

Kadang-kadang kita punya obsesi untuk anak, tetapi berhubungan dengan kehidupan duniawi semata. Harapan dan cita-cita kita untuk anak sebatas pekerjaan, kebutuhan hidup masa depannya di dunia, tidak sampai harapan itu menyentuh hal-hal yang ukhrawi. Ayat di atas setidaknya memberikan arahan kepada setiap orangtua hendaknya sudah memulai obsesi ukhrawi saat anak masih dalam kandungan seperti yang dicontohkan oleh Istri Imran.

Hal kedua yang dilakukan oleh Istri Imran adalah memperbanyak doa untuk bayi dalam kandungan di antara doanya adalah agar Allah mudahkan untuk menjadi manusia dengan obsesi ukhrawi yang sudah diniatkan oleh orangtuanya. Dengan demikian parenting kedua saat bayi dalam kandungan adalah doa dan doa. Sebagaimana kita ketahui, jangankan bagaimana keadaan anak di masa depannya apalagi terkait keshalehannya, bagaimana perkembangan bayi dalam kandungan pun bukan dalam kuasa kita. Oleh karena itu doa menjadi sandaran pokok bagi orang-orang yang beriman.

Kemudian sebagai fase yang paling dekat setelah bayi dalam kandungan adalah saat seorang ibu melahirkan. Apa qudwah hasanah yang dicontohkan oleh Istri Imran dalam hal ini? Surat Ali Imran ayat 36 menjadi jawabannya, sebagaimana Allah berfirman:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk

Ayat di atas menjelaskan beberapa hal yang dilakukan Istri Imran. Hal pertama yang dilakukan adalah menerima dan ridha atas segala ketetapan Allah dengan bayi yang dilahirkan. Sebagaimana diketahui bahwa Istri sangat berharap agar bayi yang ada dalam kandungan adalah laki-laki, akan tetapi ternyata bayi itu adalah seorang anak perempuan. Pada saat itu ia menerima ketetapan Allah seraya mengakui bahwa Allah lebih tahu atas semua ketetapan-Nya dan pasti itulah yang terbaik baginya.

Hal kedua adalah memberikan nama terbaik sesuai obsesi ukhrawi yang diharapkan sejak awal. Nama adalah doa. Istri Imran memberikan nama anaknya Maryam yang berarti seroang perempuan yang senantiasa beribadah dan berkhidmah untuk Allah SWT.

Hal ketiga yang dilakukan Istri Imran dari ayat di atas adalah kembali banyak berdoa dan bermunajat agar Allah melindungi anaknya dari godaan dan rayuan Syetan. Jika pada ayat 35 Surat Ali Imran, berdoa agar Allah mudahkan seorang bayi yang masih dalam kandungan untuk menjadi apa yang diharapkan oleh orangtua, maka pada ayat 36 surat Ali Imran, doa yang dimunajatkan adalah agar Allah memberikan perlindungan kepada bayi yang baru saja lahir dari berbagai godaan syetan yang pasti menyesatkan.

Dari semua yang dilakukan, dimulai dari ayat 35 di mana Istri Imran memiliki obsesi yang mulia dan berdoa kepada Allah, kemudian pada ayat 36 Istri Imran menerima dan ridha atas ketetapan Allah, memberi nama terbaik dan selalu berdoa, kemudian buahnya adalah Allah mengabulkan doa Istri Imran tersebut. Maryam kemudian menjadi salah seorang dari 4 perempuan yang dimuliakan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, “Sebaik-baik wanita di alam semesta ada empat, yaitu Asiyah istri Fir’aun, Maryam putri Imran, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad.” (HR. Bukhari & Muslim). Bahkan nama Maryam sendiri disebutkan paling banyak dalam al-Qur’an dalam beragam surat yaitu: surat Ali ‘Imran, surat al-Baqarah, an-Nisaa, al-Ma’idah, at-Taubah, al-Mu’minun, al-Ahzab, al-Hadid, as-Saff, dan surat at-Tahrim. Lebih dari itu nama “Maryam” juga kemudian diabadikan sebagai nama salah satu surat dalam al-Qur’an, yakni surat yang ke-19.

Demikian nilai-nilai parenting dalam surat Ali Imran ayat 35 dan 36 bagi seorang ibu yang sedang mengandung bayinya hingga apa yang hendak ia lakukan saat bayi tersebut dilahirkan. Subhaanaka la ‘ilma lana illa ma ‘allamtana