Merasakan Rindu dan Cinta Ramadhan

Beberapa waktu lalu, Jack Ma sempat melontarkan gagasannya terkait dunia kerja dengan pola 996. Satu pola kerja yang dimulai dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam yang dilakukan selama 6 hari dalam sepekan. Pada bagian ini mungkin kurang menarik. Satu hal yang patut dijadikan bahan renungan adalah argumentasi bahwa berat atau tidaknya satu aktivitas dilakukan tidak terkait dengan durasi waktunya, akan tetapi lebih kepada suka atau tidaknya seseorang terhadap aktivitas tersebut. Ketika seseorang mencintai aktivitasnya, maka 9 jam bukanlah waktu yang berat untuk didedikasikan. Sebaliknya, 1 jam yang dialui seseorang dalam aktivitas yang tidak disukai akan terasa sangat berat.

Begitu pula Ramadhan dengan seluruh rangkaian ibadah di dalamnya, sangat tergantung dengan kecintaan seseorang dengannya. Semakin banyak pemaknaan “meaning” seseorang terhdap Ramadhan, semakin ia merindukan dan menikmatinya. Baginya mujahadah mengisi Ramadhan bukan lagi hitungan 996 Jack Ma, mungkin bisa menjadi 997 atau bahkan lebih dari itu. Kerinduan dan kecintaan seseorang dengan Ramadhan sesuai dengan tingkat pengenalannya dengan bulan itu sendiri. Semakin kenal seseorang dengan Ramadhan semakin cinta ia dengannya.

Ramadhan adalah bulan yang paling istimewa dalam setahun. Jika dalam satu bulan ada 12 bulan, kemudian Allah muliakan 4 bulan di antara 12 bulan tersebut. Di atas itu semua, terdapat bulan Ramadhan yang merupakan bulan yang paling istimewa. Nabi menyebutkan dalam hadits riwayat Imam Thabrani, bahwasanya bulan paling mulia adalah Ramadhan dan hari yang paling mulia adalah Jum’at.
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan. Begitu disebutkan dalam hadits riwayat Imam Nasa’i, Nabi SAW bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ
Datang kepada kalian, Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah

Menurut Syakh Muhammad bin Shalih Utsaimin, keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan menetap. Betapa tidak, setiap Muslim senantiasa berada dalam ibadah siang dan malam. Mereka berpuasa di siang hari, dan qiyamullail di malam hari. Sangat sulit meniru produktivitas ibadah Ramadhan di bulan yang lainnya.
Hal ini tidak terlepas dan keistimewaan Ramadhan yang memang sudah sangat kondusif untuk ibadah di dalamnya. Dalam hadits Abu Hurairah, yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi bersabda:
إذا جاء رمضان فُتّحـت أبواب الجنة، وغُـلّـقـت أبواب النار، وصُفّـدت الشـياطين
Jika datang bulan Ramadhan, maka pintu syurga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syetan dibelenggu
Di antara pemahaman hadits tersebut adalah, sedemikian mudahnya melakukan kebaikan pada bulan Ramadhan, dan sedemikian sulitnya melakukan maksiat di dalamnya. Terlebih kemampuan syetan dibatasi sehingga mereka tidak bisa melakukan sesuatu yang pada bulan lain dapat dilakukan.

Adapun ibadah yang identik dengan Ramadhan adalah puasa. Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan “ash-Shiyam” yang arti etimologinya adalah “al-Imsak” (menahan). Sementara menurut syariat, puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dalam hal ini ada sedikit pergeseran makna “al-Imsak” dalam Bahasa Arab dan dalam pemahaman masyarakat Indonesia berhubungan dengan waktu menjelang Subuh yang tujuannya adalah untuk persiapan memulai al-Imsak (menahan dari segala yang membatalkan puasa).

Setiap ibadah yang dilakukan harus memenuhi 2 kriteria agar diterima Allah. Hal tersebut dijelaskan dalam surat al-Kahfi ayat 110 yang berbunyi:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa syarat pertama adalah amal shaleh yang ukurannya adalah syariat Islam. Segala sesuatu yang sesuai dengan syariat maka itu adalah kebaikan, sebaliknya yang bertentangan dengan syariat maka ia adalah keburukan.

Syarat kedua adalah ikhlas. Seorang Muslim beribadah hanya semata-mata karena Allah. tidak ada tujuan ibadah selain Allah. Hal tersebut juga ditegaskan dalam surat al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Syarat pertama harus dipenuhi secara syariat dimana setiap Muslim dapat menjalankan puasa dengan menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa dari Subuh sampai Mahrib Di antaranya adalah makan dan minum, berhubungan suami istri, muntah dengan sengaja, dan mengeluarkan mani dengan sengaja.
Di samping itu, yang perlu dilakukan adalah menghindari dari perbuatan yang dapat membatalkan pahala puasa. Di antaranya adalah dengan berdusta, berkata kotor, membuat kegaduhan hingga mengindahkan orang yang mengajak berkelahi. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Nabi bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia jalani.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ
Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa

Dari gambaran di atas, dapat diketahui kriteria satu amal ibadah diterima Allah, sehingga dapat menghindari kemungkinan hilangnya ganjaran dari Allah karena kekeliruan yang dilakukan seorang Muslim.
Untuk menambah kerinduan dan kecintaan terhadap Ramadhan, perlu ada paradigma layaknya para pengusaha atau pebisnis yang selalu menyatakan” “there is no second opportunity” (kesempatan tidak datang dua kali). Satu ungkapan yang dapat mendorong agar kesempatan yang ada dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga dapat memberikan hasil yang besar. Jika demikian kecintaan seseorang terhadap dunia, seharusnya paradigma untuk akhirat melebihi itu semua. Akan tetapi setidaknya, paradigma yang sama dapat dimunculkan kemungkinan kesempatan Ramadhan hanya tinggal sekali saja yang dimiliki. Jika pada saat ini, sudah ada sebagian yang tidak lagi dapat berjumpa dengan Ramadhan, tidak mustahil bagi hal itu akan terjadi pada Ramadhan berikutnya. Maka jadikanlah Ramadhan ini sebagai yang terbaik, karena bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kalinya.

Oleh karena itu target dan harapan perlu ditingkatkan dari periode Ramadhan sebelumnya, dengan keragaman kebaikan yang dapat dilakukan, di antaranya adalah:
1. Meningkatkan kualitas shalat fardhu dengan melakukannya di awal waktu secara berjamaah.
2. Melaksanakan shalat sunnah di antaranya adalah qiyam tarawih dan witir sebagai upaya mendapatkan Lailatul Qadr saat sedang beribadah.
3. Meningkatkan interaksi dengan al-Qur’an melalui khataman tilawah 30 juz selama Ramadhan. Di samping itu perlu ada peningkatan kualitas interaksi dengan membaca terjemah dan memahaminya sehingga ada respon hati dan jiwa saat membaca setiap ayat daripada al-Qur’an. Bagaimana jiwa bisa hadir saat tilawah, layaknya seseorang membaca WA yang selalu ada pengaruh setelah selesai membacanya.
4. Meningkatkan shadaqah sebagai bagian dari meningkatkan peluang ganjaran istimewa selama Ramadhan. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Nabi bersabda:
من فطر صائما كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيء
Sungguh merugi, jika ada seorang petani yang saat musim hujan tiba, ia tidak pergi ke sawah. Karena pada saat iut, tanah sedang dalam keadaan sangat subut. Upaya yang sedikit dapat menghasilkan panen yang besar. Begitupun dengan seorang Muslim, yang aneh jika datang bulan Ramadhan ia tidak tergerak hati dan jiwanya untuk menyambut berbagai peluang amal yang begitu besar.

Jika semua ini dilakukan oleh seorang Muslim, maka berbagai keutamaan akan didapatkan dalam ibadah puasa tersebut, di antaranya adalah:
1. Ganjaran yang besar, sebagaimana dalam kalimat “wa ana ajzii bihi” (Aku yang akan memberikan ganjarannya yang bersifat rahasia).
2. Puasa memberikan imunitas. Begitulah ibadah puasa yang Nabi perintahkan kepada para pemuda yang belum menikah padahal ia mampu.
3. Puasa akan datang sebagai pemberi syafaat kepada pelakunya.
4. Pintu syurga ar-Rayyan sudah tersedia bagi mereka yang rajin beribadah puasa.
5. Kebahagiaan saat berjumpa dengan Rabbnya.

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai perindu dan pecinta Ramadhan, yang merasakan hari-hari berlalu begitu cepat dan setiap amal yang dilakukan terasa begitu indah dan nikmat. Tak ada lagi rasa berat dan beban saat menjalaninya…