Syurga Luar Biasa untuk yang Gaya Hidupnya Juga Luar Biasa

Abdul Ghoni (DQM)

Salah satu sifat dasar manusia adalah rasa takutnya akan ketidakberhasilan, kegagalan dan masa depan yang suram. Oleh karena itu, ia akan berjuang hingga puncak perjuangan untuk menghindrinya. Ia siap untuk terus menyusuri jalan yang terjal penuh onak dan duri, demi sebuah kesuksesan. Dia siap mengurangi waktu tidurnya untuk mengejar impian.
Bulan April 2019, viral di media sosial seorang remaja Cina yang bernama Zhu Zheng, menghabiskan waktunya untuk belajar 17 jam sehari demi keluar dari jeratan kemiskinan. Ia mulai belajar sebelum jam 7 pagi hingga jam jam 12 malam. Baginya hidup bukan untuk liburan dan istirahat. Menurutnya, bukan kesuksesan yang tidak datang pada diri seseorang, akan tetapi orang tersebut yang tidak cukup tangguh demi dirinya sendiri. Remaja tersebut takut akan kemiskinan di masa depan. Ia ingin keluar dari jeratan keadaan yang pasti sangat berat. Rasa takut yang positif untuk membuatnya tergerak untuk berjuang, sehingga berani memutuskan langkah yang besar. Ia ingin prestasi terbaik. Ia tidak ingin urusan-urusan yang rendah dan biasa-biasa saja. Setiap orang melakukan hal yang sama, ketika ia khawatir akan suatu keadaan yang berat.

Manusia hendaknya memiliki kepekaan yang sama bahkan lebih tinggi dalam urusan masa depannya di sisi Allah. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Nabi SAW bersabda:

من خاف أدلج، ومن أدلج بلغ المنزل، ألا إن سلعة الله غالية، ألا إن سلعة الله الجنة
Barangsiapa takut, dia akan berangkat di awal malam. Dan barangsiapa berangkat di awal malam dia akan tiba di tempat tinggal. Ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Alloh itu mahal, ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Alloh itu adalah Jannah

Setiap orang ketika ditanya ia takut sekali akan azab neraka. Ganjaran bagi mereka yang hidup singkatnya diisi dengan keburukan. Tempat kembali yang panasnya 70 kali lipat dari panasnya api dunia. Setiap kali kulit penghuninya gosong menghitam, akan diganti dengan kulit yang baru, seperti disebutkan dalam surat an-Nisa’ayat 56. Dalam surat Muhammad ayat 15 dijelaskan bahwa ketika kehausan, mereka akan diberikan minuman yang sangat panas dan menghancurkan ususnya. Buah Zaqqum akan diberikan ketika lapar, kemudian buah itu akan mengganjal di tenggorokan tidak bisa ditelan dan dimuntahkan, sebagaimana dijelaskan dalam surat ad-Dukhan ayat 43-35 dan surat al-Muzzammil ayat 13.

Rasa takut itu kemudian berbuah semangat untuk mempersiapkan diri sejak awal. Ia siap untuk menyusuri jalan meraih harapan dan cita-cita tersebut. Ia siap berkorban dengan seluruh potensi yang dimiliki. Ia akan mengatakan bahwa hidup dan matinya untuk Allah SWT.

Dalam surat Ali Imran ayat 133, Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa

Ayat di atas menjelaskan bahwa ampunan dan syurga begitu sempurna telah disiapkan oleh Allah bagi orang-orang yang berada pada level “Muttaqin”. Kemudian pada ayat berikutnya di ayat 134, surat Ali Imran, Allah menjelaskan di antara ciri-ciri orang bertaqwa adalah:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit

Berbagi tatkala rezeki melimpah adalah hal yang biasa. Berbagi saat seseorang dalam kondisi kaya merupakan hal yang sudah biasa dan menjadi kenyataan. Berbagi di kala senang sudah menjadi perkara yang lumrah. Akan tetapi mau berbagi di kala sempit, dan terjepit adalah perkara yang sungguh teramat sulit. Tetap mau menyisihkan sebagian rezeki dalam kefakiran dan kemiskinan adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

Begitulah Allah meminta kepada orang-orang yang mendambakan syurga sebagai tempat kembalinya. Begitulah Allah mengarahkan setiap orang yang berharap ampunan setelah ia melakukan kesalahan. Begitulah yang Allah inginkan dari diri orang-orang yang beriman.

Inilah ciri-ciri gaya hidup orang-orang bertaqwa yang Allah jamin bagi mereka nikmat luar biasa. Gaya hidup mereka tidak lumrah dan tidak biasa. Mereka berbagi di kala senang dan di kala susah. Mereka berbagi kala kaya maupun miskin. Mereka berbagi setiap saat, kapan saja dan di mana saja tanpa ada batasan. Seolah Allah ingin menyampaikan bahwa berbagi tak ada hentinya bagi orang beriman. Berbagi sudah menyatu dalam keseharian hidup orang bertaqwa.
Demi terwujudnya gaya hidup berbagi untuk semua orang, baik orang kaya atau miskin, Islam memberikan batasan minimum berbagi yang sangat-sangat sederhana. Di dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلوْ بِشقِّ تَمْرةٍ
Lindungi diri kalian dari azab neraka walaupun dengan bersedekah setengah biji kurma

Tak terbayang, Islam mendorong umatnya untuk membangun dinding pemisah antara diri mereka dan neraka walaupun dengan sedekah yang sangat minim tersebut. Setengah biji kurma sudah cukup untuk bisa berbagi. Tentu saja ukuran tersebut sangat ringan dan mudah untuk dikerjakan. Jangankan setengah biji kurma, begitu mudah bagi setiap orang untuk berbagi 1, 2, atau bahkan 3 biji kurma. Ukuran minimum inilah yang kemudian membuka peluang berbagi untuk semua orang di setiap keadaannya. Aktivitas berbagi dengan standar yang sangat sederhana tersebut sudah cukup untuk mendapatkan pujian dari Allah dan dapat menjadi tabir pelindung bagi pelakunya dari azab neraka.

Hal senada juga disebutkan dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأَكْثِرْ مَاءَها، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
Wahai Abu Zar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah air (kuah)nya kemudian berbagilah dengan tetanggamu.

Hadits di atas kembali menunjukkan betapa sederhananya ukuran dalam berbagi sehingga dapat dilakukan oleh orang kaya ataupun miskin. Adakah kita pernah berbagi sayur hanya kuahnya saja dengan para tetangga? Tentu saja lebih dari itu pun setiap orang mampu melakukannya. Jika berbagi kuahnya saja diperintahkan Rasulullah kepada sahabat Abu Dzar, maka berbagi lebih dari itu adalah sesuatu yang mulia. Tidak perlu berkecil hati dengan sederhananya sesuatu yang kita mampu berikan kepada orang lain. Hal yang luar biasa dari semua itu adalah adanya semangat hidup untuk selalu berbagi apapun keadaannya.

Demikian luarbiasanya Islam sebagai sebuah jalan hidup. Islam menginginkan umatnya selalu dalam kelapangan jiwa dan kebesaran hati dengan gaya hidup berbagi. Harvey Mackinnon dan Azim Jamal dalam buku International Best Seller yang berjudul The Power of Giving. Buku tersebut secara spesial ditulis oleh keduanya pasca peristiwa Tsunami di Aceh pada tahun 2004 yang telah menggerakkan begitu banyak umat manusia untuk saling memberi dan berbagi. Mereka menjelaskan bahwa kebiasaan memberi akan menghadirkan kehidupan yang lebih tenang, nyaman dan membahagiakan.

Dalam surat at-Taubah ayat 112, Allah menjelaskan manfaat dari berbagi yang diharuskan menjadi kebiasaan orang beriman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Seorang ulama menyebutkan di antara makna Tuthahhiruhum dalam ayat di atas adalah membersihkan sifat bakhil orang-orang yang kaya dan membersihkan sifat dengki di kalangan orang yang tak berpunya. Adapun makna tuzakkiihim adalah mengembangkan rasa percaya diri dan perasaan berharga pada diri orang kaya, dan mengembangkan perasaan bahwa orang-orang tak berpunya tidak akan terlupakan.

Sungguh berbagi menjadi dimensi dasar dari kehidupan sosial yang harmonis sekaligus menjadi jalan menuju pengharapan tertinggi saat semua manusia kembali.