Hukum Jual Beli Lelang

 

Pada salah satu pengajian di Blok 2 A (Kamis malam, 20 Desember 2018), sedang dibahas tentang hukum pertunangan dalam Islam. Seorang perempuan yang sedang dalam pertunangan, maka tidak boleh dikhitbah oleh yang lain. Hal tersebut secara tekstual disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim, Nabi bersabda:
عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يبع بعضكم على بيع بعض ولا يخطب بعضكم على خطبة بعض
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda: Tidak boleh seseorang menjual barang kepada seseorang yang sedang ditawar oleh orang lain, dan juga tidak boleh meminang seorang perempuan yang sedang dipinang oleh orang lain.
Terkait dengan larangan membeli barang yang sedang ditawar oleh orang lain, kemudian ada satu pertanyaan tentang bagaimana hukumnya jual beli dengan cara lelang?

Jawaban:

Menjual dengan cara lelang adalah transaksi jual beli yang penentuan harganya ditunda hingga didapatkannya penawaran tertinggi dari harga suatu benda. Barang yang dijual akan diberikan kepada seseorang yang memberikan penawaran tertinggi. Secara umum ada perbedaan pendapat dalam hukum lelang. Namun pendapat jumhur (mayoritas) ulama menyebutkan diperbolehkannya aktivitas jual beli lelang.

Dr. Wahbah Zuhaily dalam bukunya “Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu”, menjelaskan bahwa jual beli dengan cara lelang diperbolehkan dalam Islam.

Hal tersebut berdasarkan dengan apa yang sudah dilakukan Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Dari Anas RA, ia berkata, Rasulullah menjual sebuah pelana dan mangkuk dengan berkata, “Siapa yang mau membeli Pelana dan mangkok ini’?. Seseorang menyahut, “Aku bersedia membelinya seharga satu dirham, Lalu Nabi berkata lagi. Siapa yang berani menambahi? Maka seorang laki-laki lain bersedia membeli dua dirham, maka Nabi menjual kedua bejana itu kepadanya. (H.R.Tirmizi).

Hadits di atas secara tekstual memperbolehkan jual beli dengan lelang. Dalam jual beli lelang memang sudah diberitahukan bahwa harga ditunda hingga penawaran tertinggi, dan semua ridho dengan ketentuan tersebut pada saat hendak mengikuti lelang.

Namun demikian yang dipersyaratkan adalah mekanisme transaksi yang jelas dan transparan, serta tidak ada niat untuk melakukan penipuan di dalamnya.

Di antara bentuk penyimpangan dalam lelang yang harus dihindari adalah:

1. Najasy, yaitu seseorang yang berpura-pura ikut lelang agar harga barang menjadi tinggi, padahal ia tidak berniat untuk membeli barang tersebut. Hal ini dilarang dalam Islam.

2. Ta’riq, yaitu upaya seseorang untuk mencegah peserta lelang untuk mengajukan penawaran lebih tingggi, agar harga barang tidak bertambah. Hal ini bisa saja dilakukan dengan cara memberikan uang kepada peserta lelang.

3. Muqana’ah, yaitu bersepakat dengan seluruh peserta lelang agar tidak mengajukan penawaran lebih tinggi, kemudian setelah barang dibeli dengan harga murah baru mereka bersepakat untuk melelang di antara mereka. Keuntungan dari harga yang dibeli murah saat lelang, akan dibagikan sesama mereka ketika barang sudah laku dijual dalam lelang berikutnya.

Demikian di antara hal-hal yang harus dihindari dalam jual beli lelang, yang besar kemungkinkan bentuk-bentuk penyimpangannya dapat terus berkembang.

Semoga Allah berkahi seluruh jual beli yang kita lakukan.

Wallahu a’lam bish shawab.