Hijrah dan Husnuzhan kepada Allah

Rasulullah diperintahkan untuk berhijrah meninggalkan kota Mekkah ke kota Madinah pada tahun ke-12 kenabian. Perintah tersebut merupakan puncak dari rangkaian ujian dan cobaan yang datang silih berganti sejak beliau menjalankan risalah dakwah Islam. Ujian dan cobaan yang berat sudah mulai beliau terima pada tahun ke-10 kenabian. Pada saat itu, para pendukung setia dakwah beliau banyak yang meninggal dunia. Dimulai dari meninggalnya paman Nabi yang bernama Abu Thalib, orang yang selama ini melemahkan setiap langkah orang-orang Musyrik untuk menyakiti Nabi. Dalam kitab Sirah “ar-Rahiq al-Makhtum” (hal 78) diceritakan bagaimana beilau mendapat perlakuan menghinakan dari orang Musyrik setelah pamannya wafat. Suatu hari saat Nabi hendak kembali ke rumah, kepala beliau ditaburi dengan debu tanpa bisa mengelak dan melakukan perlawanan. Sesampai di rumah, anak-anak Nabi membersihkan debu tersebut sambil menangis dan berkata; aku tidak pernah melihat engkau mendapatkan perlakuan seburuk ini semasa hidup Abu Thalib.

Dua atau tiga bulan setelah wafatnya Abu Thalib, pendukung setia perjuangan Rasul yang lain juga ikut menyusul kembali kepada Allah untuk selamanya. Beliau adalah Khadijah, sang istri pertama tercinta yang telah perjalanan Nabi selam lebih dari seperempat abad. Masa-masa itu adalah masa yang penuh kesulitan dan kesedihan. Khadijah juga membersamai Nabi pada 10 tahun pertama perjuangan dakwah Islam. Hal ini menjadi bukti ketangguhan dan kekuatan seorang Khadijah dalam menjalani hidup yang penuh gelombang.

Dua kejadian di atas yang terjadi secara berturut-turut dalam rentang waktu yang pendek, menimbulkan kesedihan yang besar pada diri Nabi. Keadaan yang sulit dan meningkatnya kezaliman orang-orang Musyrik menggiring Rasul untuk mulai berpikir meninggalkan kota Mekkah. Beliau dan para sahabat mencoba menjalankan misi dakwahnya ke Thaif. Bukan sambutan hangat yang Nabi dapatkan dari penduduk Thaif, akan tetapi cacian, hujatan, umpatan hingga lemparan batu yang beliau terima.

Berlalu tahun ke-10 kenabian, pada tahun ke-11 Allah memberikan penguatan kepada Nabi dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Al-Mubarakfuri menyebutkan dalam bukunya (hal 94) bahwa perjalanan tersebut memiliki hikmah berupa memberikan keyakinan yang lebih dalam kepada Nabi setelah melihat berbagai hal yang Allah tampakkan kepadanya. sehingga dengan keyakinan tersebut, Nabi semakin kuat memikul beban dakwah. Namun pasca peristiwa Isra’ Mi’raj semakin besar pendustaan, kezaliman dan penindasan yang dilakukan orang musyrik kepada Nabi dan sahabatnya.

Puncak dari penderitaan tersebut terjadi pada tahun ke-12, saat Nabi diperintahkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril untuk segera meninggalkan kota Mekkah karena ada keputusan di kalangan orang musyrik untuk segera membunuh Nabi. Malaikat Jibril secara spesifik memberikan pesan kepada Nabi untuk tidak lagi menginap di rumahnya pada malam tersebut. Atas perintah tersebut, Nabi segera ke rumah Abu Bakar untuk merencanakan hijrah bersamanya.

Tecatat setidaknya ada 5 akumulasi cobaan dan ujian yang menimpa Nabi dan para sahabat dalam rentang 2 tahun perjalan beliau. Dimulai dari meninggalnya Abu Thalib paman Nabi, Khadijah istri Nabi, hijrah ke Thaif yang mendapatkan sambutan menyedihkan, peristiwa Isra’ Mi’raj yang membuat orang musyrik semakin berani, dan terakhir keadaan yang memaksa Nabi untuk meninggalkan kota Mekkah. Ujian dan cobaan datang silih berganti, seolah tak pernah henti. Nabi dan para sahabat sudah berada pada titik nadir perjuangan ketika harus meninggalkan tempat kelahiran dan kampung halaman.

Akan tetapi siapa yang menyangka, jika semua itu adalah rangkaian persiapan menuju kemenanangan Islam. Siapa yang mengira, kalau semua itu akan membawa Islam pada puncak kegemilangannya. Masa 10 tahun setelah Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah, membawa angin segar perjuangan dakwah. Cahaya Islam yang diprediksikan meredup, menjadi semakin terang-benderang ketika Islam dibawa ke Madinah. 13 tahun perjalanan Nabi di Madinah menjadi titik tolak terbangunnya sebuah peradaban besar yang eksis hingga saat ini. Hal ini semakin menguatkan optimisme di balik setiap perjuangan berat yang dijalani seseorang sebagaimana Allah janjikan dalam surat al-Insyirah ayat 5 dan 6 yang berbunyi:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Di samping itu, adanya kemenangan pasca pengorbanan melalui hijrah menjadi altar keharusan setiap orang berhusnuzhon kepada Allah. Di balik sesuatu yang dibenci dan sangat berat pada diri manusia, tersimpan sesuatu yang indah setelahnya. Hal tersebut sejalan dengan apa Allah sampaikan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Ayat di atas diawali dengan perintah berperang kepada umat Islam. Berperang tentu saja sesuatu yang tidak mengenakkan. Dengan peperangan, seseorang bisa saja kehilangan harta, keluarga, bahkan jiwanya sekalipun. Setiap orang tidak menyukai peperangan, karena kecintaannya akan kehidupan dunia. Namun ayat tersebut memberikan pesan berupa keyakinan bahwa tidak mustahil ada sesuatu yang luar biasa di balik satu keadaan yang pahit dan sulit. Di balik ujian beruntun yang dialami Nabi dan sahabat hingga mengharuskan mereka meninggalkan Mekkah, Allah membawa pesan kemenangan Islam di sana.

Begitupun dalam kehidupan yang kita jalani masing-masing. Kadangkala tidak terpikir oleh kita bahwa kesulitan di masa lalu yang membuat kita pada kesuksesan seperti ini. Penderitaan di masa lalu yang membawa kita kepada pencapaian hari ini. Padahal waktu itu, persepsi kita semua jelas bahwa itu adalah cobaan, ujian, keadaan yang berat, keadaan yang menyakitkan yang berat dan tidak enak untuk dijalani. Akan tetapi ketika semua ujian tersebut dijalani dalam bingkai Iman dan Islam, keadaan yang berat itulah yang justru menghadirkan masa depan yang cerah. Di sinilah sikap Husnuzhon kepada Allah mendapatkan bukti nyatanya. Di balik kesulitan selalu akan diiringi dengan kemudahan. Kenikmatan selalu membersamai kepedihan yang kita jalani. Sikap Husnuzhon menjadi salah satu bekal kehidupan yang sangat penting. Sebagaimana sabda Nabi dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Allah selalu sesuai dengan persangkaan hamba-hamba-Nya. Semoga setiap datang momen pergantian tahun hijriyah Allah berikan kita kemampuan untuk selalu ber-husnuzhon atas setiap ketetapan yang terjadi dalam hidup, dan semakin yakin bahwa semua yang sedang kita jalani adalah anugerah Allah yang terbaik untuk kita semua saat ini.