FOUR IN ONE DALAM SHALAT BERJAMAAH

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ في جماعةٍ تزيدُ عَلَى صَلاَتِهِ في سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بضْعاً وعِشْرينَ دَرَجَةً، وذلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِد لا يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ، لا يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ، لَمْ يَخطُ خُطوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِها دَرجةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطيئَةٌ حتَّى يَدْخلَ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كانَ في الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاةُ هِيَ تحبِسُهُ، وَالْمَلائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدكُمْ مَا دَامَ في مَجْلِسهِ الَّذي صَلَّى فِيهِ، يقُولُونَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مالَمْ يُؤْذِ فِيهِ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ متفقٌ عليه
Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats”
(H.R. Bukhari Muslim)

Hadits di atas secara tekstual menunjukkan 4 kemuliaan yang Allah berikan kepada setiap orang yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Keistimewaan-keistimewaan tersebut adalah:

Keistimewaan pertama, shalat jamaah lebih istimewa daripada shalat sendiri lebih dari 20 derajat. Dalam hadits Bukhari Muslim yang lain, disebutkan secara spesifik bahwa shalat berjamaah lebih tinggi 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendiri. Secara sederhana, ketika seseorang shalat Maghrib 3 rakaat secara jamaah di masjid maka kemuliaan yang didapatkan sama dengan orang yang shalat 20 kali shalat Maghrib di rumahnya sendiri (60 rakaat).

Keistimewaan kedua yang Allah berikan adalah bahwa langkah orang yang ke masjid dalam keadaan berwudhu maka langkah-langkahnya terus menambah kemuliaan derajatnya di sisi Allah dan menghapuskan dosa serta kesalahannya. Semakin jauh langkah kaki yang harus digerakkan saat hendak pergi ke masjid, maka semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah dan semakin banyak dosanya yang diampuni.

Keistimewaan ketiga, ketika ia sampai di masjid yang dituju untuk melaksanakan shalat berjamaah, maka sejak saat itu ia sudah terhitung sedang melaksanakan shalat. Jika saja ia datang sebelum azan berkumandang, maka sejak ia tiba di masjid sudah dinilai sebagai orang yang tengah melaksanakan shalat.

Keistimewaan keempat, ia mendapatkan doa-doa yang mulia dari Malaikat yang sangat mulia di sisi Allah. Malaikat memohon kepada Allah agar menyayangi orang tersebut, mengampuni dosa-dosa, dan menerima taubatnya.

Demikian berlapisnya kemuliaan dan keistimewaan yang dikhususkan untuk orang-orang yang shalat berjamaah di masjid.

Syekh Mutawalli Sya’rawi dalam khathirah nya menceritakan tentang seorang ulama yang bernama Ubaidillah ibn Umar al-Qawariry. Ubaidillah adalah orang yang selalu menjaga kebiasaan untuk selalu shalat Isya berjamaah. Namun pada suatu hari, ia kedatangan tamu sehingga tertinggal shalat berjamaah. Setelah tamunya pulang, ia bergegas keluar rumah menuju masjid-masjid di Bashrah untuk mencari orang yang belum shalat Isya agar bisa shalat berjamaah bersamanya. Akan tetapi, tak seorang pun ia temukan yang belum melaksanakah shalat Isya, bahkan beberapa masjid sudah terkunci rapat. Kemudian Ubaidillah pun pulang ke rumah. Sesampai di rumah, ia mengingat hadits yang menjelaskan bahwa shalat berjamaah lebih tinggi 27 derajat dari shalat sendiri. Kemudian ia shalat Isya sebanyak 27 kali untuk mendapatkan ganjaran yang sama dengan mereka yang shalat Isya berjamaah.

Selepas shalat 27 kali, ia tidur dan bermimpi bahwa ia tengah berada di tengah sekumpulan penunggang kuda yang berlomba mengadu kecepatan. Ia pun menunggang kuda dan ikut berlomba. Sekencang apapun kudanya berlari, tetap saja tidak mampu melewati kuda-kuda di depannya. Lalu salah seorang penunggang kuda di depannya menoleh dan berkata, “wahai Ubaidillah, janganlah engkau memaksa kudamu untuk berlari karena kamu tidak akan mampu melewati kami.” Lalu Ubaidillah bertanya, “Kenapa?” Kemudian penunggang kuda tersebut menjawab, “Sesungguhnya kami telah melaksanakan shalat Isya berjamaah sementara engkau tidak shalat berjamaah”. Tak lama kemudian, Ubaidillah terbangun dalam keadaan galau dan sedih karena tertinggal shalat berjama Isya.

Kini saatnya kita membiasakan untuk menyegarakan diri menuju masjid di saat-saat menjelang waktu shalat fardhu tiba. Segala aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan, maka ia sudah tidak lagi membutuhkan energi yang besar untuk melakukannya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk merealisasikan itu semua.