Bagaimana Puasa Rasulullah SAW…

Para ulama bersepakatbahwasanya puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H. Rasulullah wafat pada Rabiul Awal tahun ke-11 H. Dengan demikian beliau berpuasa selama 9 kali Ramadhan. Jika dikaitkan dengan tahapan dakwah Rasulullah pada periode Mekkah dan Madinah, maka periode pertama lebih diprioritaskan pada penanaman aqidah sementara kewajiban-kewajiban dalam Islam seperti perintah berpuasa tersebut.
Satu hal yang sangat penting dalam menjalankan satu kewajiban, adalah dengan mengikuti apa yang Rasulullah contohkan. Dikaitkan dengan kedatangan bulan Ramadhan yang mulia, maka sangat penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui bagaimana Rasulullah menjalankan ibadah puasa, termasuk di dalamnya rangkaian ibadah lain yang biasa beliau lakukan di bulan Ramadhan.
Pertama, Rasulullah memerintahkan setiap Muslim untuk membaca doa saat melihat hilal memasuki bulan Hijriyah, termasuk bulan Ramadhan. Dalam hadits Imam Tirmidzi diriwayatkan:
كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا رأي الهلال قال: اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك اللههلال رشد وخير
Sesungguhnya bila Rasulullah SAW melihat hilal (anak bulan), baginda berdoa: “Ya Allah, hadirkan awal bulan kepada kami dengan rasa aman dan keimanan, dengan keselamatan dan Islam, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, hilal yang benar dan baik”.
Doa di atas sangat penting untuk dipanjatkan agar Allah anugerahkan semua hal yang diminta di dalamnya. Dengan itu semua, maka Ramadhan sebagai belum penuh keagungan akan memberikan dampak positif kepada setiap Muslim sebagaimana yang Allah janjikan.
Kedua, Rasulullah berpuasa atas dasar keimanan dan keikhlasan. Hal tersebut kemudian Nabi perintahkan hal yang sama kepada seluruh umat Islam. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Nabi SAW bersabda:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.
Hadits tersebut mengisyaratkan adanya ketentuan diterimanya puasa jika para pelakunya memenuhi dua syarat yaitu; sebagai seorang Mu’min dan Mukhlis. Tanpa kriteria tersebut, maka puasanya menjadi sia-sia tak ada nilainya.
Ketiga, Rasulullah memerintahkan kita agar menghindari perbuatan yang dapat menghilangkan pahala ibadah puasa. Dalam hadits Bukhari, Rasulullah bersabda:
من لم يدع قول الزور والعمل به، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan (puasa mereka) dengan meninggalkan makanan dan minuman
Tak terbayangkan jika hal itu terjadi pada diri seorang Muslim, yang telah menahan lapar dan haus sepanjang hari, akan tetapi ibadahnya tidak diterima Allah. Laksana seseorang yang sudah bekerja seharian, akan tetapi pekerjaannya tidak layak untuk mendapatkan upah. Tentu saja orang tersebut sangat menyesal.
Hal lain yang perlu dihindari ketika seseorang berpuasa adalah apa yang disebutkan hadits Bukhari Muslim yang berbunyi:
فلا يرفث ولا يصخب
Maka hendaknya ia tidak berkata kotor dan berteriak-teriak membuat kegaduhan
Keempat, Nabi selalu makan sahur dan berbuka di awal waktu. Dalam hal ini apa yang Allah perintahkan sesuai dengan keinginan manusia, di mana makan Sahur diakhirkan dan berbuka disegerakan.
Dalam hadits Bukhari Muslim, Nabi bersabda..
لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر
Manusia senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka puasa
Dalam hadits Bukhari Muslim yang lain, Nabi bersabda..
تسحروا فان فى السحور بركة
Makanlah saat sahur karena di dalamnya ada beragam keberkahan
Kelima, Nabi SAW memperbanyak ibadah yang beragam di bulan Ramadhan. Salah satu ibadah yang Nabi gemar lakukan adalah Qiyamullail di bulan Ramadhan.Dalam hadits riwayat Imam Abu Daud, Aisyah menyebutkan bahwa Nabi tidak pernah meninggalkan Qiyamullail. Jika pun beliau dalam keadaan sakit atau malas, maka shalatnya dikerjakan dalam posisi duduk.
قالت السيدة عائشة رضي الله عنها: لا تدع قيام الليل، فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان لا يدعه، وكان إذا مرض أو كسل صلى قاعدا
Aisyah berkata: janganlah kamu meninggalkan Qiyamullail, karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah meninggalkannnya. Jika beliau sakit atau agak malas maka beliau shalat dalam posisi duduk
Selain ibadah Qiyamullail, Nabi gemar bershadaqah di bulan Ramadhan.Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dijelaskan bagaimana kebiasaan shadaqah Rasululullah SAW. Hadits tersebut berbunyi:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس وكان أجود ما يكون في رمضان
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang paling (baik) dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan
Nabi juga menganjurkan untuk memberikan makanan berbuka puasa bagi orang lain. Dalam hadits Imam Tirmidzi Nabi bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun
Hadits di atas menunjukkan betapa ganjaran semakin melimpah akan didapat seorang Muslim ketika mau berbagai makanan menjelang berbuka. Semakin banyak orang yang menikmat hidangan berbuka yang sudah disiapkan, maka semakin besar ganjaran yang Allah berikan.

Nabi juga bertadarus al-Qur’an bersama malaikat Jibril di malam hari bulan Ramadhan. Dalam hadits Bukhari Muslim, Nabi bersabda:
وكان جبريل يلقاه كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن،
Bahwanya Jibril menjumpai Rasulullah setiap malam (Ramadhan) untuk melakukan tadarus al-Qur’an.
Tadarus al-Qur’an merupakan salah satu amal mulia yang rutin Nabi lakukan. Ada banyak keistimewaan yang Allah berikan kepada mereka yang tadarus al-Qur’an, di antaranya adalah ganjaran pahala tadarus yang dihitung huruf per huruf. Setiap huruf tersebut berbuah kebaikan, yang kemudian dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Hal tersebut tercantum dalam hadits Nabi SAW riwayat Tirmidzi.
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الـم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ satu huruf, tetapi ‘Alif’ satu huruf, ‘Lam’ satu huruf, ‘Mim’ satu huruf.
Di sampang keragaman ibadah di atas, Rasulullah selalu melaksanakan I’tikaf di masjidpada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Hal tersebut digambarkan dalam hadits Bukhari Muslim, yang berbunyi:
كان يعتكفُ العشرَ الأواخر من رمضان حتى توفاه الله
Bahwasanya Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau meninggal dunia
Demikian beberapa sifat atau ciri Puasa Rasulullah yang dapat dijadikan sebagai contoh bagaimana mengisi Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba.
Semoga Allah berikan keberkahan bulan Ramadhan kepada setiap Muslim di berbagai belahan dunia.