SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Hebatnya Iman Tukang Sihir Fir’aun

Terbit 10 Februari 2022 | Oleh : admin | Kategori : Tsaqofah
Hebatnya Iman Tukang Sihir Fir’aun

Tadabbur Surat Al-A’raf Ayat 106 -125

Kadangkala kita melihat fenomena mudahnya seseorang menjual keimanan yang ada pada diri mereka. Kecintaan dunia dan kekhawatiran akan kefakiran dengan mudah dapat menggadaikan iman yang selama ini sudah Allah anugerahkan. Janji harta berlimpah dan kekuasaan yang tinggi seringkali mengaburkan mata seorang Muslim sehingga iman tidak lagi nampak indah pada diri mereka. Oleh karena sangat penting menguatkan iman pada diri setiap Muslim dengan mengambil ibrah kisah-kisah heroik penjagaan iman yang ada dalam al-Qur’an, salah satunya adalah mencontoh imannya tukang sihir Fir’aun.

Berawal dari mu’jizat Nabi Musa yang diperlihatkan, ketika Fir’aun meminta bukti atas ajakan beriman Nabi Musa kepadanya. Pada saat itu Nabi Musa atas izin Allah memperlihatkan bagaimana tongkat berubah menjadi ular dan cahaya dapat keluar dari tangannya. Fir’aun pun panik sehingga meminta dikumpulkan seluruh tukang sihir dari berbagai pelosok negeri untuk menghadapi Nabi Musa.

Setelah berhasil dikumpulkan, tukang sihir mendapatkan janji-janji manis jika mampu mengalahkan Nabi Musa. Di antaranya adalah menjadi orang dekat Fir’aun yang tentu saja akan hidup bergelimang harta dan jabatan.

Kemudian tibalah waktunya hari di mana kekuatan sihir dihadapkan dengan mu’jizat Allah. Kontan saja ular-ular tukang sihir Fir’aun ditelan oleh ular besar mu’jizat Allah untuk Nabi Musa. Hingga pada saat itu benar-benar terbukti tegaknya kebenaran dan hancurnya kebatilan.

Sesuatu di luar dugaan terjadi, ketika tukang sihir Fir’aun langsung sujud dan menyatakan beriman kepada Allah. Dalam sekejap kekufuran dan kesesatan yang luar biasa berganti dengan iman yang kokoh. Iman tukang sihir bukan tanpa ujian dan cobaan. Iman itu diuji untuk menunjukkan kokohnya iman yang ada pada mereka.

Pada ayat 123 surat al-A’raf digambarkan kemarahan Fir’aun dan ancaman yang berat kepada tukang sihir. Allah berfirman:

قَالَ فِرْعَوْنُ آمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Fir’aun berkata: “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini)

Sebuah ancaman dari sosok raja yang paling kejam saat itu. Seorang penguasa yang berani mengultimatum untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Fir’aun menyatakan bahwa tukang sihir akan melihat dan merasakan sendiri apa akibat dari perbuatan mereka saat itu. Mereka harus siap menerima konsekuensi yang sangat besar atas iman mereka kepada Allah.

Ancaman Fir’aun bukanlah pepesan kosong. Pada surat al-A’raf ayat 124, dijelaskan bahwa mereka akan disakiti dan disiksa, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ
demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya

Tidak terbayang jika kaki dan tangan harus dipotong pada saat itu di mana ilmu kedokteran belum secanggih saat ini. Bukan saja pasca keduanya dipotong, akan tetapi prosesnya pun tentu saja sudah sangat menyakitkan.

Namun ancaman potong tangan dan kaki serta penyaliban direspon dengan tenang oleh tukang sihir Fir’aun. Allah berfirman pada ayat 125 yang berbunyi:

قَالُوا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ
Ahli-ahli sihir itu menjawab: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali

Bahkan dalam surat asy-Syu’ara ayat 50 dijelaskan respon mereka yang mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak berbahaya bagi mereka.

قَالُوا لَا ضَيْرَ ۖ إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ
Mereka berkata: “Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami

Pada surat Thaha ayat 72 tukang sihir Fir’aun dengan tenang mempersilahkan kepada Fir’aun untuk melakukan apa yang hendak mereka inginkan.

قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja

Mereka sudah berketetapan hati untuk kembali kepada Allah tanpa peduli dengan resiko yang diancamkan oleh Fir’aun. Sebuah langkah hijrah dari kekafiran menuju keimanan yang sempurna. Hijrah yang bukan hanya kehilangan janji manis Fir’aun berupa harta dan jabatan, tetapi juga membawa resiko hilangnya ruh yang ada dalam badan.

Bahkan tukang sihir pun menyadari bahwa semua ini adalah resiko dari iman yang ada pada mereka. Hal ini digambarkan pada ayat yang ke-126.

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ
Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami

Keadaan ini mirip dengan apa yang terjadi pada diri orang beriman ketika disiksa oleh Ashabul Ukhdud pada surat al-Buruj ayat 8 yang berbunyi:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji

Dengan kenyataan yang berat itu, tukang sihir Firaun berdoa kepada Allah sebagaimana pada ayat 126 Surat al-A’raf yang berbunyi:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)

Ayat di atas menggambarkan betapa kesabaran adalah kunci kesuksesan dalam urusan dunia dan akhirat. Kesabaran harus menjadi gaya hidup orang beriman, yang akan membawa mereka pada happy ending dalam setiap episode kehidupan yang dijalani. Happy ending yang menjadi harapan adalah wafatnya setiap Muslim dalam keislaman meskipun ujian yang datang begitu berat.

Dari kisah keimanan tukang sihir Firaun dapat diambil betapa kokohnya iman mereka meskipun masih seumur jagung. Iman yang langsung menghunjam ke dalam hati, sehingga tidak lagi tergoda dengan rayuan dan ancaman yang paling berat sekalipun. Iman yang diselimuti dengan kesabaran atas ujian dan cobaan. Iman yang disempurnakan dengan doa yang terbaik agar wafat dalam keadaan iman dan Islam.

Semoga Allah berikan kita semua iman yang kokoh dan sempurna hingga akhir hayat seperti yang Allah anugerahkan kepada tukang sihir Fir’aun.

Semoga penuh berkah dan manfaat!
Abdul Ghoni

SebelumnyaKegiatan Rapat HPPM MNH SesudahnyaPenutupan Pengajian Bulanan Menjelang Bulan Ramadhan MT. Nuurhidayah

Berita Lainnya