SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Menjadi Guru, From Limited to Unlimited

Terbit 25 November 2021 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Menjadi Guru, From Limited to Unlimited

Tadabbur Surat Yasin Ayat 12

Mungkin sebagian orang ada yang memicingkan mata saat melihat seorang guru sedang berjalan atau mengayuh sepeda saat melaksanakan tugasnya. Sebagian yang lain menganggap guru adalah sekelompok orang yang tersesat di jalan yang benar. Ketika seorang bapak atau ibu hendak menikahkan anaknya dengan seorang guru, mungkin ada keraguan di benaknya bagaimana kelak masa depan anak cucunya di tangan menantunya tersebut.

Namun siapa yang menyangka jika di balik perubahan-perubahan besar yang terjadi pada diri seseorang dipicu oleh guru yang mampu memotivasi dan membangkitkan. Siapa yang menyangka saat seseorang tampil penuh decak kagum di atas panggung buah dari suara lantang guru yang mengajar di ruang kelas yang sangat sederhana. Siapa yang menduga jika suara indah yang keluar dari seorang Imam saat melantunkan ayat-ayat al-Qur’an hingga menyentuh hati para jamaah, dimulai dari perjuangan seorang guru yang rela berlama-lama duduk selama bertahun-tahun di sebuah saung yang sesekali meneteskan air saat turun hujan.

Semua itu mungkin tak terlalu indah di mata manusia tetapi ia begitu mulia di sisi Allah Sang Pencipta. Betapa tidak ketika Rasulullah menyampaikan dalam haditsnya, barangsiapa yang mengajarkan kebaikan kemudian orang tersebut mau melakukannya, maka pahala yang Allah berikan bukan hanya kepada pelakunya akan tetapi juga kepada yang mengajarkannya. Bisa dibayangkan, jika seorang guru mengajarkan ilmunya kepada 10 orang murid, maka ketika murid-murid tersebut melakukan kebaikan, tak dapat dibendung aliran pahala yang didapatkan guru meskipun ia telah tiada. Bagaimana jika kesepuluh murid tersebut mengajarkan lagi kepada masing-masing 10 orang, maka ada 100 orang yang jika mereka melakukan kebaikan, sang guru pertama terus mendapatkan pahala tak terputus. Apalagi ketika 100 murid tersebut mengajarkan lagi kepada 10 orang berikutnya maka ganjaran yang Allah siapkan tak terbendung lagi untuk guru yang pertama kali mengajarkan ilmu tersebut.

Terlebih ada ungkapan menyebutkan “Education is not filling a pail but it is lighting a fire”. Dengan sendirinya ketika seorang murid sudah mendapatkan dan merasakan cahaya dari ilmu yang ia dapatkan, maka ia akan terus menebarkan cahaya tersebut kepada orang-orang setelahnya. Cahaya itu akan terus menebar tanpa kembali bisa dipadamkan.

Pernah seorang guru menceritakan hal ini kepada murid-muridnya, hingga salah seorang dari mereka spontan berkomentar; “Kalau begitu saya ingin menjadi Guru”. Kalimat tersebut tanpa terasa seperti hujan salju yang turun di tengah padang pasir yang sangat panas. Air yang membasahi tenggorokan yang sudah terlalu lama merasakan dahaga. Hingga kalimat tersebut terdengar begitu indah dan terekam kuat di benak sang guru. Mungkin murid yang mengucapkan tak lagi ingat, tapi itu sudah cukup menjadi penyejuk hati sang guru.

Terlalu murah jika hidup yang cuma sekali habis begitu saja untuk memenuhi keinginan dan selera. Terlalu berat jika ganjaran yang kita harapkan hanya dari amal shaleh yang dilakukan sendiri. Terlalu kecil harganya kalau nilai yang diperoleh hanya sebatas usia hidup yang dijalani. Setiap Muslim hendaknya ia memperoleh hasil yang tidak terbatas dari kehidupan yang sangat terbatas ini. Setiap Mu’min hendaknya mampu mengubah limited resources menjadi unlimited output. Peluang itu sudah dibuka lebar-lebar dalam surat Yasin ayat 12, bahwa yang dicatat sebagai amal bukan hanya apa yang dilakukan seseorang semasa hidup, akan tetapi juga bekas-bekas kebaikan yang melampaui batas ruang dan waktu. Bekas-bekas yang diwarisi inilah yang menjadikan kehidupan seseorang menjadi sangat tidak terbatas. Ingatlah para Ulama terdahulu yang hingga kini bukunya dijadikan rujukan di seluruh dunia, meskipun jasad sudah berkalang tanah akan tetapi manfaat hidupnya tidak mengenal sudah. Bekas-bekasnya terus mengalirkan manfaat, warisan-warisan ilmunya terus menebarkan semangat, yang kesemuanya insya Allah akan terus menggelontorkan ganjaran untuk para guru hingga hari kiamat.

Tentu saja makna guru di sini bukan hanya mereka yang menjalani profesi sehari-hari sebagai guru akan tetapi setiap pengajar kebaikan, dengan ilmu apapun yang bisa diambil manfaatnya oleh orang lain.

Selamat Hari Guru kepada setiap pengajar kebaikan, semoga Allah menganugerahkan ganjaran yang tak terbatas dari kehidupan yang terbatas.

Abdul Ghoni

SebelumnyaPanggilan Kasih Sayang Allah SesudahnyaBerbuat Baik Sesama Manusia, Meminta Kepada Allah!

Berita Lainnya