SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Tadabbur Surat Al-Mu’minun 112-114

Terbit 21 September 2021 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Tadabbur Surat Al-Mu’minun 112-114

Ust. Abdul Ghoni, M.Hum

Berapa Lama Kita Berteduh di Bawah Halte Ini?

Di antara yang dapat membuat seseorang tidak terlalu termotivasi untuk melakukan kebaikan di dunia adalah perasaan bahwa hidup ini masih panjang, dan panjang sekali. Sangat jauh jarak antara kehidupan dan kematian. Rasanya saat kembali kepada Allah masih lama sekali. Perasaan ini tak terasa menggelayuti pikiran bukan hanya anak muda, tetapi juga sebagian orang yang sudah dewasa dan lanjut usia.

Sebagai makhluk yang diberikan anugerah akal pikiran, hendaknya manusia melakukan kontemplasi dan perenungan sambil bertanya pada diri sendiri; “Apakah benar hidup yang kita jalani masih lama dan masih panjang?” Jika rata-rata usia umat Rasulullan sekitar 60 atau 70 tahun, perlu dilihat sudah berapa lama hidup yang sudah berlalu, dan berapa tahun lagi kesempatan yang masih tersisa. Jika pun masih ada yang tersisa, apakah benar waktu tersebut adalah masa yang panjang untuk mempersiapkan bekal kembali kepada Allah.

Setelah berkali-kali ditanyakan pada diri sendiri, maka jawaban yang benar akan muncul. Jawaban inilah yang nanti akan terucap oleh lisan setiap orang pada saat memasuki kehidupan akhirat. Dalam surat al-Mu’minun ayat 112 sudah diabadikan pertanyaan yang akan dilontarkan kepada penduduk akhirat. Ayat tersebut berbunyi:

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”

Apa jawaban yang keluar dari lisan mereka adalah jawaban betapa singkatnya perjalanan hidup yang dilalui setiap orang. Sebagaimana dijelaskan pada ayat 112:

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ
Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”.

Ternyata tinggal di dunia benar-benar tidak lama, sehari semalam pun tidak! Mereka yang mengetahui hakikatnya akan menjawab bahwa tinggal di dunia hanya sehari bahkan setengah hari saja.
Mungkin dapat dianalogikan dengan seorang pejalan kaki yang ketika ditanya tentang jarah untuk pergi ke suatu tempat di seberang pulau maka ia akan menjawab bahwa tempat itu sangat jauh. Begitupun mereka yang mengendari sepeda, motor bahkan mobil sekalipun, bahwa jarak ke tempat tujuan benar-benar jauh. Akan tetapi bagi mereka yang menggunakan jet pribadi, maka jarak itu terasa pendek dan mudah untuk dijangkau.

Mereka yang masuk dalam kehidupan akhirat akan melihat segala sesuatunya lebih benar sesuai dengan hakikatnya. Di antara pandangan penduduk akhirat melihat kehidupan dunia adalalah bahwa waktu itu begitu singkat dan tidak lama.

Persepsi singkatnya kehidupan manusia kemudian dinyatakan kebenarannya oleh Allah dalam surat al-Mu’minun ayat 114 yang berbunyi:

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”

Memang demikianlah yang sebenarnya jika manusia mengetahui dan memahami. Jika saat ini kita berusia 40 atau 50 tahun, masih merasa belum lama hidup di dunia, maka itulah sebagian pengetahuan yang benar adanya. Jika 40 atau 50 tahun itu tidak lama, maka apalagi sisa dari waktu yang masih diberikan! Tentu saja waktu yang tersisi lebih singkat, diukur dari rata-rata umat Rasulullah.

Kesadaran singkatnya perjalanan hidup seseorang di dunia, akan mendorong dan memotivasinya untuk selalu berbuat yang terbaik dan terbaik. Hanya itulah yang akan menjadi penyelamat demi kebahagiaan di akhirat. Pada saat yang sama, ia tidak tertarik untuk mengumpulkan kezaliman, karena semua itu akan menambah beban. Kezaliman hanya akan mencairkan gundukan pahala amal yang kita bawa, karena semua amal itu akan menjadi tebusan yang diberikan kepada orang yang dizalimi.

Semoga Allah berkahi waktu-waktu kita yang tersisa untuk memberikan sebanyak mungkin manfaat untuk diri dan sesama!

SebelumnyaTadabbur Surat Al-Balad Ayat 11-14 SesudahnyaTadabbur Surat Al-Qashash 76-82

Berita Lainnya