SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Tadabbur Surat al-Kahfi ayat 49

Terbit 17 September 2021 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Tadabbur Surat al-Kahfi ayat 49

Saat Tak Ada yang Terlewatkan!

Kenapa seseorang masih terus-menerus berpikir untuk melakukan kesalahan? Bahkan setelah sekali berbuat salah, ia masih ingin mengulangi dan mengulangi lagi. Di antara sebabnya adalah karena ia berpikir kesalahan yang ia lakukan, kemungkinan besar tidak akan pernah diketahui orang lain dan tidak akan pernah terbongkar.

Oleh karena itu wajar, jika setiap satu kasus penyimpangan tersingkap, maka ada asumsi bahwa ada setumpuk kasus yang tidak pernah diketahui publik. Kasus korupsi misalnya, ketika ada satu atau dua orang terkena OTT maka ada begitu banyak pelaku white collar crime yang tetap tak tersentuh. Ada sebutan korupsi di Indonesia, seperti fenomena gunung es yang hanya sedikit terlihat, tetapi yang tidak terlihat jauh lebih besar dan lebih banyak.

Apakah Semua Itu Positif bagi Para Pelaku Keburukan?

Mungkin terpikir pada diri orang yang berbuat salah, bahwa mereka akan beruntung dan sukses luar biasa saat keburukannya tidak diketahui orang lain. Dia merasa hebat dengan penyimpangan yang tidak bisa disentuh oleh para penegak hukum. Dia merasa berbangga diri dengan tumpulnya aturan ketika berhadapan dengan dirinya.

Keadaan ini bukanlah sesuatu yang baik bagi si pelaku keburukan. Bahkan ia akan terus terjerumus lebih dalam lagi dalam kobangan lumpur yang hampir ia tidak bisa keluar. Semakin banyak kezaliman yang ia lakukan. Semakin banyak orang yang menjadi korban. Semakin panjang sejarah mudharat yang ia goreskan selama hidupnya di dunia. Hidupnya menjadi sia-sia bahkan cenderung destruktif bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri.

Keburukan tidak akan pernah menenangkan. Kesalahan tidak akan pernah berbuah kedamaian dalam hati dan pikiran. Penyimpangan tidak akan pernah menghasilkan kepuasan batin pelakunya. Semakin dalam seseorang berada dalam keburukan, maka semakin panjang hidup dalam kegalauan laksana bahtera yang terombang-ambing di tengah dahsyatnya gelombang samudera di tengah lautan.

Allah menggambarkan dalam al-Qur’an Surat Thaha ayat 124, yang berbunyi:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit

Allah hanya memerintahkan kebaikan dan mengingatkan manusia agar menjauhi keburukan. Setiap penyimpangan yang dilakukan oleh manusia adalah bagian dari sikap berpaling manusia dari peringatan Allah. Bagi orang yang seperti itu, maka hidupnya akan sempit. Imam as-Sa’di menjelaskan bahwa hidupnya akan penuh dengan kesulitan dan kesengsaraan yang semua itu adalah azab. Kesulitan hidup seperti ini berbeda jika terjadi pada diri, yang dapat berbuah pahala yang besar. Imam ath-Thanthawi menafsirkan ayat di atas, bahwa hidup orang yang jauh dari Allah penuh kegalauan, kesedihan dan kesengsaraan. Meskipun secara kasat mata mungkin orang tersebut bergelimang harta, jabatan dan pujian. Menurut beliau, ketenangan hidup tidak akan pernah didapatkan kecuali dengan ketaatan kepada Allah.

Bagaimana Nasibnya di Akhirat?

Dalam surat al-Kahfi (yang dianjurkan untuk dibaca setiap Jum’at) ayat 49 dijelaskan bahwa apa yang luput dan terlewat di dunia akan dibongkar semua di hadapan Allah. Allah berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)

Ayat di atas menjelaskan beberapa hal: Pertama, semua orang akan menerima buku rapor catatan amal. Kedua, buku catatan amal itu merekap seluruh amal manusia selama hidup di dunia. Ketiga, pelaku kejahatan merasakan ketakutan yang amat dahsyat dengan setakut-takutnya dengan apa yang terjadi. Keempat, semua perbuatan buruk itu hadir dan tercatat dengan sangat lengkap tanpa bisa didebat lagi.

Bisa dibayangkan, saat terbongkar sedikit saja perbuatan buruk saat di dunia, ada kepanikan yang luar biasa pada diri orang yang melakukannya. Padahal yang diketahui hanya sebagian kecil, dan masih bisa membayar pembela untuk bisa menghindari masalah. Tetapi rasa malu keluarga, hukuman sosial, dan viralnya di media sosial sudah memberikan dampak yang tidak kecil.

Bagaimana saat semua dibeberkan oleh Allah tanpa ada yang luput sekecil apapun. Ketika hal-hal yang dapat disembunyikan rapat-rapat hari ini, tercium juga baunya bahkan terlihat perilaku menyimpangnya. Inilah kondisi di mana setiap kita tidak bisa menghindar. Semua akan ditanya dan diminta pertanggungjawabannya. Semua tercatat dengan rapi. Semua lengkap dalam buku catatan amal kita masing-masing yang akan diberikan kelak. Dan saat itulah semuanya tidak lagi bisa dihapus, di mana pintu taubat sudah tertutup.

Mari segera kembali memutar balik arah tujuan hidup kita agar lebih dekat kepada Allah dengan memohon ampunan agar kesalahan dapat dihapuskan sebelum datang saat tak ada lagi kesempatan. Niatkan dan ikhtiarkan hidup kita ke depan hanya untuk kebaikan dan kebaikan yang banyak. Semoga saat menerima buku rapat catatan amal nanti, kita menerimanya dengan tangan kanan sebagai tanda kebahagiaan di akhir perjalanan kehidupan yaitu di Kampung Akhirat.

Semoga penuh berkah dan manfaat!
Abdul Ghoni (DQM)

SebelumnyaTadabbur Surat Yusuf Ayat 86 SesudahnyaTadabbur Surat Thaha Ayat 132

Berita Lainnya