SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Tadabbur Surat Hud ayat 9-11

Terbit 15 September 2021 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Tadabbur Surat Hud ayat 9-11

Dua Tabiat Manusia dalam Surat Hud

Dr. Abdul Ghoni, M.Hum

Al-Qur’an memberikan penjelasan yang amat beragam dalam setiap aspek kehidupan manusia. Di antaranya adalah penjelasan tentang psikologi manusia yang pasti benarnya karena bersumber dari Sang Pencipta Yang Maha Tahu, Allah SWT. Jika mengacu ke surat al-Baqarah ayat 216, pada akhir ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah Maha Tahu sementara kita banyak tidak tahunya. Allah lebih mengetahui tentang diri manusia dibandingkan dengan manusia mengenal dirinya sendiri.

Di antara bukti Allah Maha Tahu adalah ketika menjelaskan dalam surat Hud ayat 9 dan 10 tentang dua tabiat dasar seluruh umat manusia dari manusia pertama sampai manusia yang terakhir. Pada surat Hud ayat 9 dijelaskan tabiat dasar pertama. Ayat tersebut berbunyi:

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih

Syaikh Ali Ash-Shabuni menjelaskan dalam tafsirnya bahwa manusia ketika diberikan nikmat yang banyak berupa rezeki, kesehatan, keturunan dan lain sebagainya, kemudian nikmat tersebut dicabut maka ia cenderung berputus ada dan terpuruk serta melupakan nikmat Allah yang masih terlimpah pada dirinya. Imam As-Sa’di menjelaskan lebih lanjut, pada saat nikmat itu dicabut, manusia cenderung menyia-nyiakan kesabaran yang dapat mengkonversi ujian menjadi peluang. Bukankah kesabaran saat ujian akan berbuah pahala tanpa batas seperti disebutkan dalam surat Az-Zumar ayat 10.

Lebih lanjut Imam As-Sa’dy menjelaskan bahwa selain ketidaksabaran, kecenderungan manusia saat nikmatnya dicabut adalah hilangnya optimisme bahwa Allah akan memberikan kembali nikmat yang pernah dianugerahkan kepada kita. Padahal tidak jarang, kita mendapatkan ganti yang lebih baik setelah ada nikmat yang hilang. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia saat itu berpikir sempit seolah-olah Allah tidak pernah memberikan kebaikan sedikitpun kepadanya.

Dari gambaran di atas, maka sikap yang tepat dan seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim adalah menyelisihi tabiat yang Allah gambarkan di atas. Manusia hendaknya tetap bersyukur kepada Allah dengan melihat masih banyaknya nikmat yang ada dalam genggaman. Sesungguhnya yang Allah cabut hanyalah sebagian kecil dari nikmat tersebut.

Teringat dengan seorang Ibu yang diuji oleh Allah hingga tidak bisa melihat, kemudian ia merasa terpuruk dengan keadaan itu. Tetapi kemudian ada seseorang yang memberikannya nasehat; “Ibu, bukankah yang Allah cabut hanya salah satu dari sekian banyak indera yang Ibu miliki! Kan Ibu masih memiliki indera lain yang sangat-sangat bermanfaat dan dapat difungsikan”. Dari nasehat tersebut, kemudian Ibu tersebut dapat bangkit kembali dan ridha atas apa yang Allah tetapkan untuk dirinya.

Tabiat manusia yang kedua disebutkan dalam surat Hud ayat 10 yang berbunyi:

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي ۚ إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga

Ayat di atas menjelaskan kecenderungan manusia untuk takabbur atau sombong saat mendapatkan anugerah dalam hidupnya. Ia merasa lebih tinggi dibandingkan manusia yang lain. Sifat ini justru menjadi kontraproduktif pada diri manusia, yang seharusnya menjadikan nikmat sebagai jalan ibadah justru nikmat menjadi sumber manusia berbuat maksiat .

Imam As-Sa’dy menjelaskan kesombongan manusia berdimensi vertikal kepada Allah dan horisontal sesama manusia. Kesombongan kepada Allah dengan menggunakan nikmat tersebut atas dorongan hawa nafsu dan bukan hati nuraninya. Sementara kesombongan kepada sesama manusia dilakukan dengan berbangga diri dan terus merendahkan serta menghinakan yang lainnya. Hingga akhirnya, sifat-sifat hina yang justru muncul padahal hidupnya penuh anugera dari Allah Yang Maha Kaya.

Setelah dijelaskan 2 tabiat di atas, Allah SWT menjelaskan tabiat manusia yang ideal pada surat Hud ayat 11 yang berbunyi:

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar

Sekilas ayat 11 memberikan solusi agar manusia tetap mulia ketika nikmat sedang dicabut dan saat nikmat sedang melimpah. Ayat tersebut menjelaskan 2 perilaku yang ideal yaitu dengan Sabar dan Tetap beramal shaleh.

Cukup menarik apa yang dijelaskan Syaikh Ali Ash-Shabuni terkait dengan ayat tersebut. Menurutnya, Sikap sabar adalah sikap ideal saat nikmat dicabut, yang berbeda dengan sikap kebanyakan manusia pada surat Hud ayat 9. Kemudian sikap produktif dengan amal shaleh adalah sikap ideal saat nikmat melimpah, menggantikan sikap sombong yang menjadi sifat kebanyakan manusia dalam surat Hud ayat 10.

Sungguh indah apa yang Allah sampaikan dalam al-Qur’an sebagai bimbingan bagi orang-orang yang beriman! Nasykuruka ya Rabbana! Semoga Allah menganugerahkan kita semua kesabaran saat sulit dan sempit, dan Allah anugerahkan kita semangat beramal shaleh saat lapang dan senang!

Semoga penuh berkah dan manfaat!

SebelumnyaTadabbur Surat At-Taubah ayat 81 SesudahnyaTadabbur Surat Yusuf Ayat 86

Berita Lainnya