SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Tadabbur Surat At-Taubah ayat 81

Terbit 14 September 2021 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Tadabbur Surat At-Taubah ayat 81

DR. Abdul Ghoni, M.Hum

Menghalau Komentar Negatif dengan Menghadirkan Akhirat

Kadangkala saat kita hendak melakukan hal yang baik, ada kalimat-kalimat negatif yang kita terima dari orang lain. Kalimat itu ternyata dapat melemahkan motivasi dan semangat kita untuk melakukan kebaikan tersebut. Bahkan yang lebih tinggi lagi, kalimat negatif itu dapat membuat kita menjadi ragu untuk melakukan hal yang mulia. Akhirnya, tidak mustahil kita “mager” (malas gerak) dan tidak jadi melakukannya karena termakan aura negatif dari kalimat yang disampaikan.

Misalnya, ketika seseorang hendak melaksanakan shalat berjamaah setelah terdengar kumandang azan, kemudian ada yang berkomentar “sok alim kamu!”. Pada kesempatan lain, ketika seseorang ingin bertaubat dari perjudian, kemudian teman-temannya mengatakan; “Lihat saja nanti, paling beberapa pekan atau bulan, dia akan balik lagi”. Masih ada ungkapan-ungkapan negatif lain yang sering terdengar dalam keseharian kita.

Fenomena Komentar Negatif dalam Al-Qur’an

Fenomena tersebut ternyata ada dalam al-Qur’an, ketika ada sekelompok sahabat yang hendak berangkat menuju Tabuk bersama Nabi pada bulan Rajab tahun ke-9 H, dalam kondisi cuaca yang sangat panas terik. Pada saat itu orang-orang munafiq yang enggan berjuang, mengomentari semangat para sahabat dengan bahasa sederhananya; “Eh mau ngapain panas-panas begini? Mau aja kalian berangkat jihad bersama Nabi! Mendingan kalian rehat saja di rumah dan tidak lelah! ”.

Ucapan orang munafiq tersebut Allah abadikan dalam surat at-Taubah ayat 81 yang berbunyi:

وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ

mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini

Bagaimana Mengantisipasi Hal Tersebut?

Allah yang Maha Sayang kepada hamba-hambaNya yang hendak berjuang, mengajarkan kepada Rasulullah dan para sahabat untuk memberikan jawaban fasih yang tidak bisa didebat lagi. Jawaban tersebut adalah:

قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui

Allah memberitahu kepada orang-orang beriman bahwa panasnya matahari pada saat Perang Tabuk tidak seberapa dibandingkan dengan panasnya Neraka Jahannam yang akan menjadi tempat kembali orang-orang munafiq. Panasnya dunia masih terukur sementara panasnya api neraka adalah puncak kepanasan tertinggi.

Pernah satu hari seseorang berkunjung ke pabrik besi baja. Diperlihatkan kepadanya bagaimana besi baja yang kokoh itu meleleh dan mencair ketika dipanaskan hingga 2000 atau 3000 derajat celcius. Para pengunjung yang hanya bisa menyaksikan dari jarak kurang lebih 15 meter terkesima melihat merahnya api yang membakar baja dan rasa panas yang dirasakan walaupun sudah berjarak dengan sumber api. Pada saat itu, yang terbersit adalah jika panasnya api dunia sudah dapat melebur besi baja dan menjadi cairan yang menetes layaknya tetasan air, lantas bagaimana dengan panasnya api neraka!

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ناركم هذه التي يوقد ابن آدم جزء من سبعين جزءا من حر جهنم قالوا والله إن كانت لكافية يا رسول الله قال فإنها فضلت عليها بتسعة وستين جزءا كلها مثل حرها

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. berkata, Api kalian ini, yang dinyalakan oleh anak keturunan Adam adalah satu dari 70 bagian panasnya neraka jahanam.” Mereka berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, api di dunia ini sungguh telah cukup (untuk menyiksa)” Beliau bersabda, “Maka sesungguhnya api jahannam dilebihkan 69 kali lipat panasnya, dan setiap bagiannya memiliki panas yang sama seperti api di dunia

Urgensi Menghadirkan Akhirat dalam Kehidupan Dunia

Salah satu yang menarik dari cerita di atas adalah bagaimana seorang Muslim dapat menghadirkan perasaan dan nuansa kehidupan akhirat yang banyak diceritakan dalam al-Qur’an dan Hadits dalam kehidupan dunianya. Inilah hebatnya orang beriman, di mana Allah mengajak mereka melebihi Naisbit seorang futurolog, ketika pikiran orang beriman diajarkan untuk menembus dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Dengan begitu, kita akan memiliki kekuatan besar untuk menghadapi godaan dan ujian kehidupan dunia. Seseorang yang ingatan akhiratnya begitu kuat, memiliki kekuatan dan daya tahan lebih untuk bisa mengarungi tantangan kehidupan dunia.

Jika diperhatikan, banyak sekali momen-momen dalam keseharian kita yang tanpa disadari mengajak kita untuk menghadirkan akhirat ke tengah kehidupan dunia kita. Misalnya dalam doa saat makan, maka kita berdoa agar Allah berikan rezeki berupa makanan yang berkah, kemudian di akhir doa tersebut kita menembus akhirat seraya berdoa agar dijauhkan dari azab neraka. Begitu pula dalam doa sapu jagat yang senantiasa kita panjatkan sebgaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 201. Di dalamnya kita memohon kemudahan dalam seluruh urusan dunia, kemudian dilanjutkan dengan memohon kebahagiaan di akhirat hingga terhindar dari azab neraka.

Yuk kita hadirkan gambaran kehidupan akhirat dalam kehidupan dunia agar semangat berbuat yang terbaik tidak mudah luntur dengan berbagai komentar negatif yang dialami! Dengan begitu Insya Allah kita lebih kuat dan lebih kokoh dalam melangkah untuk mengumpulkan amal shaleh sebanyak-banyaknya.

Semoga penuh berkah dan manfaat!

SebelumnyaTadabbur Surat At-Taubah Ayat : 37 SesudahnyaTadabbur Surat Hud ayat 9-11

Berita Lainnya