SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Hijrah dan Ikhtiar Paripurna

Terbit 10 Agustus 2021 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Hijrah dan Ikhtiar Paripurna

Selasa, 1 Muharram 1443 H
Abdul Ghoni

Kadangkala ada pemahaman jika dalam melaksanakan perintah agama, seseorang tidak perlu mempersiapkan dan merencanakannya dengan baik. Hal ini menyebabkan banyaknya tindakan sembrono dalam aktivitas keagamaan. Modal keyakinan akan kebenaran agama yang mutlak seringkali diiringi dengan minimnya ikhtiar yang perlu dilakukan. Logika dan rasio kadangkala dinafikan perannya, padahal yang hendak dijalani adalah urusan dunia.

Salah satu contohnya adalah ketika menyikapi persoalan pandemi ini. Masih ada yang mendikotomikan antara ketaatan beragama dengan keharusan mengikuti prosedur kesehatan untuk meredam tingginya tingkat penularan. Seolah ketika seseorang mengikuti Prokes maka pemahaman keagamaanya menjadi rendah. Pembahasan masalah pandemi dari perspektif kesehatan dianggap menciderai sikap keberagamaan yang ideal.

Patut menjadi renungan dalam memadukan perintah agama dan ikhtiar yang harus dilakukan dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW. Nabi diperintahkan untuk melaksanakan hijrah ketika Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk segera meninggalkan kota Mekkah di malam hari. Rasulullah pun bergegas ke rumah Abu Bakar agar dapat mendampinginya melaksanakan perintah tersebut. Setelah itu perencanaan strategis pun dilakukan keduanya.

Strategi pertama dimulai dengan pemilihan waktu hijrah di malam hari. Waktu malam adalah saatnya istirahat dan gelapnya membatasi kemampuan indera penglihatan manusia. Pada waktu seperti itulah Nabi dan Abu Bakar memulai perjalanan hijrah, sehingga dapat mengurangi resiko tertangkap oleh orang kafir Quraisy.

Strategi kedua dengan meminta Ali bin Abi Thalib untuk istirahat di tempat tidur Rasulullah. Hal ini perlu dilakukan untuk mengelabui orang kafir Quraish agar mereka menyangka bahwa Nabi masih tertidur di dalam rumahnya dan tidak sedang bepergian. Baru ketika sudah lama menunggu, mereka memasuki rumah Nabi untuk membunuhnya dan ternyata yang mereka dapatkan adalah Ali yang sedang beristirahat. Hal ini membuat mereka kecewa dan bersegera mengejar Rasulullah SAW.

Strategi ketiga adalah penunjukan Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan saat hijrah. Hal ini perlu dilakukan agar jalan yang akan dilalui Nabi dan Abu Bakar adalah jalur yang aman. Benar saja, Abdullah bin Uraiqith menunjukkan jalan menuju kota Madinah yang tidak biasa dilalui oleh banyak orang. Jalur pesisir laut merah menjadi pilihan, meskipun jarak yang ditempuh lebih jauh dari jalan biasanya. Bahkan di awal keberangkatan dari kota Mekkah menuju Gua Tsur, Nabi dan Abu Bakar berjalan menuju arah Yaman di Selatan sementara jalur utamanya melalui arah Utara.

Strategi keempat adalah meminta Amir bin Fuhairah, penggembala kambing Abu Bakar, untuk menghapus jejak kaki Rasulullah dan Abu Bakar. Perjalanan di padang pasir akan mudah untuk ditelusuri karena jejak langkah kaki begitu membekas di atasnya. Bahkan ada ungkapan dalam syair Arab bahwa kemuliaan seseorang diukur dengan berapa banyak bekas telapak kakinya di padang pasir yang menunjukkan jauhnya perjalanan yang sudah dilalui untuk menuntut ilmu. Setiap kali Rasul dan Abu Bakar melalui satu jalan untuk berhijrah, maka langkahnya akan dihapus dengan jejak kaki kambing-kambing yang digembala oleh Amir bin Fuhairah. Dengan begitu, terhapuslah jejak langkah Rasulullah dan tidak bisa diikuti oleh orang Kafir Quraish.

Ikhtiar kelima yang dilakukan Nabi saat hijrah bersama Abu Bakar adalah meminta Asma binti Abu Bakar untuk mengantarkan makanan. Sungguh tugas yang amat berat bagi seorang perempuan untuk menyusuri Mekkah sampai Gua Tsur, apalagi pada saat itu beliau dalam keadaan hamil. Tugas fisik yang berat dan tekanan mental seandainya apa yang dilakukan diketahui oleh pihak musuh. Sungguh peran strategis dan beresiko tinggi yang dijalankan oleh Asma. Bisa dibayangkan betapa sulitnya perjalanan jauh yang akan dilakukan oleh Rasulullah bersama Abu Bakar jika tidak dibekali dengan makanan dan minuman yang cukup.

Sungguh gambaran di atas menunjukkan kehebatan Nabi dan Abu Bakar dalam melaksanakan hijrah yang Allah perintahkan. Keduanya tidak hanya menunjukkan ketaatan yang sempurna akan tetapi juga ikhtiar yang sempurna. Hal ini ditunjukkan dengan strategi-strategi yang dilakukan baik dari sisi pemilihan waktu, jalur hijrah dan penunjukkan orang-orang yang dapat dipercaya. Dengan demikian perintah agama berjalan beriringan dengan ikhtiar maksimal yang perlu dilakukan oleh manusia.

Semoga Allah karuniakan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan kecerdasan untuk memilih strategi terbaik pada saat melaksanakannya!

SebelumnyaBetapa Indahnya Hidup Tanpa Iri dan Dengki SesudahnyaTadabbur Surat At-Taubah Ayat : 37

Berita Lainnya