SEKILAS INFO
  • 2 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Amnesia Manusia akan Hakekat Kehidupan

Terbit 11 Maret 2019 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Amnesia Manusia akan Hakekat Kehidupan

Abdul Ghoni (DQM)

Sebagai makhluk yang paling mulia dengan berbagai preferensi yang Allah berikan, ada kecenderungan manusia untuk selalu mengharapkan kesempatan untuk kembali ketika ada kekeliruan yang dilakukan. Sikap ini dipilih agar ada kesempatan yang kedua, ketiga, dan seterusnya untuk melakukan perbaikan diri. Kecenderungan natural tersebut sudah diberikan jalannya oleh Allah, dengan memberikan kesempatan manusia untuk selalu kembali setelah melakukan kesalahan di mana dan kapan saja. Dibukanya pintu taubat sepanjang hidup manusia selama matahari belum terbit dari sebelah barat atau ruh sudah sampai di tenggorokan, merupakan sarana strategis untuk menjadi manusia terbarukan. Dilanjutkan dengan gambaran kecintaan dan sayangnya Allah saat mendapatkan ada hamba-Nya yang ingin kembali, hingga janji bahwa permohonan ampun jika sudah diterima, maka dengan sendirinya akan menghapuskan seluruh kesalahan tanpa kecuali. Semua itu adalah gambaran betapa terbukanya jalan bagi manusia untuk kembali ke dalam naungan Allah yang maha Mulia.

Namun demikian, hal tersebut bukan berarti manusia dapat terus-menerus terlena dengan kecenderungan negatif yang dimiliki. Bagaimanapun seperti tergambar di atas, ada batasan kesempatan untuk kembali yang sudah ditetapkan untuk manusia, yaitu; terjadinya kiamat kecil atau kiamat besar. Kiamat kecil adalah saat manusia kembali kepada Allah melalui kematian, sementara kiamat besar adalah saat dunia ini berakhir yang waktu terjadinya akan tetap dirahasiakan Allah. Ada batasan toleransi untuk kembali di ujung perjalanan hidup manusia, setelah kesempatan untuk melakukan perbaikan selalu diberikan secara berulang-ulang.

Kelemahan berupa penyakit “lupa” bahkan “amnesia” ternyata terus terjadi hingga melewati batasnya pada sebagian manusia. Manusia mengalami hilangnya daya ingat dan kesadaran akan hakekat kehidupan sehingga ia tidak mampu menghadirkan sikap yang seharusnya dilakukan, hingga melewati batas kesempatan terakhir. Pada saat itu, tentu saja peluang untuk kembali sudah tertutup rapat. Sehingga berbagai untaian pengharapan mengalir deras dari lisannya manusia, namun tak ada guna.

Beberapa kali digambarkan dalam al-Qur’an bagaimana manusia tetap memohon kepada Allah pada saat batas toleransi untuk kembali sudah dilewati. Dalam Surat Fathir ayat 37, Allah menggambarkan ungkapan sebagian manusia yang berbunyi:

رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”

Imam Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ungkapan yang dilontarkan para penghuni neraka mengisyaratkan dua hal. Pertama, adanya pengakuan akan kekeliruan yang sudah mereka lakukan selama di dunia. Mereka mengaku “bersalah“ dengan perbuatan yang sebelumnya dilakukan, sehingga disebutkan secara eksplisit jenis amal (shaleh) yang akan mereka lakukan jika dapat kembali ke dunia. Kedua, adanya penyesalan dari pada diri orang kafir ketika mereka terlambat dalam memiliki kesadaran yang benar.

Penyesalan saat itu tentu saja tidak ada bandingannya sama sekali, mengingat hilangnya kesempatan untuk bisa kembali.

Dalam Surat al-Mu’minun ayat 99 – 100 Allah menjelaskan bentuk ungkapan lain dari mereka yang berbunyi:

قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

Dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.

Dalam tafsirnya, Imam Al-Qurthuby menyebutkan pendapat Ibn Juraij yang menjelaskan bahwa digunakannya kalimat “irji’uunn” bukan “irji’nii” mengisyaratkan adanya permintaan terus-menerus dan berulang-ulang yang dimohonkan manusia pada saat kematian menjemputnya. Manusia terus mengucapkan “irji’nii, irji’nii, irji’nii” Hal ini terjadi karena memang sejak fase kematian kesadaran manusia muncul melihat hakekat kehidupan yang sesungguhnya.

Dalam surat As-Sajdah: 12 Allah berfirman:

رَبَّنَآ أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَٱرْجِعْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin

Senada dengan 2 ayat di atas, pada ayat ini digambarkan pengakuan yang menunjukkan sikap manusia yang merendahkan dirinya sendiri. Saat kembali kepada Allah, baru manusia merasa melihat dan mendengar. Hal ini menjadi bagian dari pengakuan mereka sendiri bahwa saat di dunia, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang buta dan tuli, meskipun hidupnya normal bisa mendengar dan melihat. Mereka mengaku buta walaupun bisa melihat dan mengaku tuli meskipun dapat mendengar. Wal ‘iyaazu billah.

Dari kesadaran ini pun mereka berandai-andai jika seandainya selama hidup di dunia mereka mendengar (tidak tuli) dan mau berpikir, tentu saja mereka tidak akan dimasukkan ke dalam neraka. Penyesalan tersebut diabadikan dalam surat al-Mulk ayat 10.

Berikutnya dalam surat asy-Syura ayat 44, Allah berfirman:

هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ

_Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?

Di tengah harapan untuk berlepas diri dari hukuman, Imam as-Sa’dy menjelaskan dalam tafsirnya bahwa dorongan keinginan yang begitu kuat, mendorong manusia untuk melakukan segala cara untuk bisa keluar dari hukuman Allah. Hal senada termaktub dalam surat Ghafir ayat 11 yang berbunyi:

فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ

Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”.

Dari sekian banyak kemauan dan harapan manusia yang ada untuk bisa kembali hidup di dunia, Allah telah menjelaskan bahwa hal tersebut mustahil adanya. Di samping itu sikap manusia yang “pelupa” akan kembali terulang jika kesempatan kembali ke dunia diberikan. Fenomena “kelupaan” manusia juga diiringi dengan kecenderungan manusia untuk berdusta. Hal tersebut disebutkan dalam surat Al-An’am ayat 28 yang berbunyi:

وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya.Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.

Imam ath-Thabary menjelaskan bahwa orang yang tidak taat kepada Allah, meskipun diberikan kesempatan untuk kembali ke dunia, niscaya mereka akan kembali kufur kepada Allah dan bermaksiat kepada-Nya. Hal ini disebabkan karena motivasi mereka untuk kembali bukan karena iman kepada Allah, akan tetapi karena rasa takut mereka terhadap azab di akhirat. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah kedustaan dalam keimanan mereka kepada Allah. Sehingga ketika permohonan dikabulkan, mereka akan kembali kepada kekufuran sebagai awal hidup di dunia.

Ayat di atas kembali menegaskan bahwa ada sebagian manusia yang tetap mengalami amnesia terhadap hakekat kehidupan, betapapun banyaknya informasi dan pengalaman yang mereka dapatkan dalam kehidupan. Oleh karena itu, sejak dini setiap Mu’min harus memiliki kesadaran yang penuh agar tidak mengalami kekeliruan yang berulang, karena kesempatan hidup tidak datang dua kali, Hidup hanya sekali, harus dijalani dengan baik agar penuh makna dan arti. Semoga kita bahagia kini, di sini dan bahagia saat kembali.

SebelumnyaLaporan Kas / Infaq / Shodaqoh SesudahnyaDMI AKAN SELENGGARAKAN SILATNAS GERAKAN NASIONAL SEMARAK

Berita Lainnya