SEKILAS INFO
  • 2 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Konsistensi Munajat Memohon Kebenaran

Terbit 7 Februari 2019 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Konsistensi Munajat Memohon Kebenaran

Abdul Ghoni (DQM)

Manusia dalam hidupnya diberikan kebebasan untuk memilih. Itulah prinsip kebebasan dalam hidup yang secara de facto dialami oleh manusia. Secara riil manusia tidak dapat menolak bahwa ada kebebasan untuk memilih apa yang diinginkan dalam hidupnya. Dalam rentang pilihannya, Allah memberikan dua jalan yang terbentang di hadapan manusia. Hal tersebut termaktub dalam surat al-Balad ayat 10 yang berbunyi:

وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.

Dr. Wahbah Zuhaily dalam tafsirnya menyebutkan bahwa setelah Allah memberikan nikmat kedua mata untuk dapat melihat keindahan dunia dan lisan bersama kedua bibir untuk bisa berkomunikasi, Allah memberikan tugas kepada manusia untuk menentukan pilihan atas dua jalan yang dihamparkan. Secara tidak langsung, Allah sudah membimbing manusia agar tidak keliru dalam menentukan pilihan dengan segala anugerah yang sudah Allah berikan. Laksana orangtua yang selalu menyiapkan biaya hidup untuk anak-anaknya, namun tetap membuka ruang kepada anak untuk memilih siapa yang akan diikuti oleh sang anak.

Adanya dua jalan yang dapat dipilih oleh manusia berupa kebaikan dan keburukan dijelaskan surat asy-Syams ayat 8, Allah berfirman:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Manusia harus menenetukan pilihannya. Manusia harus berada pada salah satu dari dua sisi jalan yang ada di hadapannya. Manusia tidak bisa bersikap abstain dalam hal ini karena memang tidak mungkin berada pada keduanya sekaligus atau tidak berada pada keduanya. Setiap sikap dan pilihan yang sudah tetapkan, menempatkan manusia pada jalan tertentu. Setiap pilihan tersebut juga akan memiliki konsekuensi yang besar sepanjang hidup. John Maxwell menyebutkan; Life is a matter of choices, and every choice you make makes you.

Setelah adanya pilihan, maka manusia akan dibentuk oleh pilihannya sendiri.
Dari prinsip kebebasan memilih yang diberikan kepada manusia, Allah mengingatkan apa dan bagaimana konsekuensi dari masing-masing jalan yang dipilih. Dalam surat an-Nazi’at ayat 37-39, Allah SWT berfirman:

فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).

Ayat tersebut menjelaskan dengan tegas dan gamblang, konsekuensi yang akan diterima oleh setiap orang yang memilih jalan keburukan. Jalan keburukan itu dapat berupa kesombongan hingga puncaknya adalah kekufuran. Jalan keburukan lainnya yang disebutkan ayat di atas adalah lebih memprioritaskan dunia daripada akhirat serta mengikuti dorongan hawa nafsu. Ujung dari memilih jalan tersebut adalah Neraka sebagai tempat kembali.

Sementara konsekuensi dari jalan kebaikan yang dipilih manusia adalah kebahagiaan sejati. Hal tersebut dijelaskan dalam lanjutan ayat di atas yang berbunyi:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

Manusia yang memilih jalan kebaikan, baginya janji Allah yang sangat membahagiakan. Jalan kebaikan itu identik dengan pertentangan dengan dorongan hawa nafsu. Hal tersebut akan mudah direalisasikan jika seseorang takut kepada Allah.
Dari situlah kemudian manusia memilih jalannya masing-masing dengan segala kejelasan konsekuensi bersama pilihan tersebut. Namun ada hal yang perlu diwaspadai yaitu adanya kemungkinan kekeliruan manusia dalam menilai apa yang menjadi pilihan hidupnya. Di dalam pilihannya, ada peluang kesalahan manusia dalam mempersepsikan pilihannya. Ada di antara Manusia yang keliru menyangka bahwa pilihannya adalah jalan yang baik, sementara ia sebenarnya buruk di sisi Allah. Manusia merasa berada di jalan yang lurus, ternyata jalan tersebut berbelok hingga menyesatkan.

Allah menjelaskan kemungkinan fenomena tersebut bahkan manusia seperti itu disebut sebagai orang-orang yang paling merugi. Hal ini disebutkan dalam surat al-Kahfi ayat 103-104, yang berbunyi:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Dalam Tafsir ath-Thabari dijelaskan bahwa objek dari ayat tersebut adalah kaum Yahudi dan Nasrani. Kedua kelompok inilah yang merasa benar dengan pilihannya, ternyata realitasnya, jauh panggang dari api. Kebenaran yang dipilih justru berbuah kekufuran, sehingga menempatkan mereka di jalan yang salah. Namun menurut Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid, tidak menutup kemungkinan bahwa ayat tersebut juga sesuai dengan yang lainnya, tidak hanya orang musyrik dan kafir. Pesan tersebut berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah tetapi dengan cara yang tidak diridhai Allah, akan tetapi mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar adanya. Amal perbuatan yang dikumpulkan ketika di dunia, laksana debu yang beterbangan saat kembali kepada Allah.

Begitulah Allah mengingatkan hal yang serupa dalam al-Furqan ayat 23 yang berbunyi:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

Pesan yang tersirat dari itu semua adalah keharusan setiap orang untuk selalu melakukan refleksi dan introspeksi akan kebenaran yang menjadi jalan pilihan hidupnya. Agar kebenaran yang diyakini, adalah kebenaran yang diridhai Allah. Dari sini pula, setiap Muslim hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar nampak jelas perbedaan antara yang benar dan salah. Salah satu doa yang selalu diucapkan saat shalat adalah apa yang terkandung dalam surat al-Fatihah ayat 6:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus!

Seorang Mu’min memerlukan kebenaran yang sebenarnya kemudian istiqamah di atas jalan kebenaran tersebut. Doa dalam surat al-Fatihah ayat 6, sejalan dengan doa yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sebagai doa yang disandarkan kepada sahabat Nabi Umar ibn Khattab, yang berbunyi:

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا إتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه

Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan kurniakanlah kami untuk dapat mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami yang salah itu salah, dan kurniakanlah kami untuk dapat menghindarinya.

Sungguh penting bagi manusia untuk memastikan bahwa pilihan hidupnya adalah sesuatu yang benar. Kebenaran secara aksiomatis akan melahirkan kebahagiaan. Namun demikian manusia perlu berhati-hati, agar tidak terjebak pada persepsi yang keliru sehingga ternyata kebenaran yang dipilihnya bukanlah kebenaran. Justru kebenaran yang disangka ternyata adalah keburukan pada realita. Di sinilahlah seorang Mu’min harus senantiasa berdoa agar Allah tunjukkan baginya kebenaran dan nampaik sebagai benar, dan Allah mudahkan pula untuk mengikuti kebenaran tersebut.

Berbahagialah orang yang berada di jalan yang benar dan memang benar adanya di sisi Allah!!!

SebelumnyaSesuatu Yang Mewajibkan Mandi Junub SesudahnyaLaporan Kas/Infaq/Shodaqoh

Berita Lainnya