SEKILAS INFO
  • 2 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Mengenali Kawan dan Lawan dalam Kehidupan

Terbit 25 Januari 2019 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Mengenali Kawan dan Lawan dalam Kehidupan

Abdul Ghoni (DQM)

Setiap manusia dalam hidupnya memiliki kawan dan lawan. Satu hal yang mesti dilakukan masing-masing adalah mengenali keduanya dan memperlakukannya dengan tepat. Satu kesalahan yang cukup fatal adalah ketika seseorang tidak mengenal siapa kawan dan siapa lawan sesungguhnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan kekeliruan manusia dalam memperlakukan kawan dan lawannya dalam hidup. Bisa jadi ada orang yang memperlakukan kawan sebagai lawan, dan sebaliknya lawan diperlakukan sebagai kawan.

Sejak awal, Allah sudah membimbing manusia untuk mengenali musuh yang sesungguhnya.

Dalam surat Fathir ayat 6, Allah mengingatkan manusia sebagai berikut:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Ayat di atas menjelaskan siapa sesungguhnya musuh bagi manusia. Allah sudah memberitahukan manusia terlebih dahulu agar tidak ada kekeliruan yang dikhawatirkan. Musuh tersebut adalah Syetan yang memang misi utama hidupnya adalah memperbanyak pengikut yang akan menemaninya dalam Neraka.

Setelah Allah memperkenalkan syetan sebagai musuh, manusia diperintahkan bukan hanya mengenal saja, akan tetapi juga memperlakukan mereka sebagai musuh. Oleh karena itu, manusia harus mengambil jarak, berhadap-hadapan dan tidak berada di jalan yang juga dijalani oleh syetan.

Komitmen seorang Muslim untuk tidak menjadikan syetan sebagai sesembahan, mungkin sangat mudah untuk direalisasikan. Akan tetapi ternyata banyak hal lain, yang tanpa disadari merupakan bagian dari langkah manusia mengikuti langkah-langkah syetan.

Dalam surat al-Baqarah ayat 168 Allah menyebutkan di antara perbuatan yang sudah menjadi bagian dari bagaimana manusia mengikuti syetan. Ayat tersebut berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Dalam di atas menjelasan keharusan manusia untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi sesuatu. Allah meminta setiap makanan harus memenuhi dua kriteria pokok yaitu kriteria Halal dan Thayyib. Kemudian ayat tersebut dilanjutkan dengan larangan untuk tidak mengikuti syetan, karena syetan tersebut musuh yang nyata.

Secara tersirat ayat tersebut memberikan pesan bahwa mengkonsumsi makanan yang tidak Halal dan Thayyib adalah bagian dari kekeliruan manusia karena sudah satu misi dengan syetan. Ketika syetan sudah disebutkan sebagai musuh yang nyata, agar terhindar dari pola hidup yang mengikuti syetan, maka manusia harus memastikan sisi Halal dan Thayyib dari makanannya.

Mengkonsumsi makanan yang memenuhi kedua syarat tersebut merupakan bagian dari komitmen menjadikan lawan sebagai lawan.

Dalam kaitannya dengan mengkonsumsi makanan, termasuk di antara cara menjadikan syetan sebagai lawan adalah dengan tidak mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah.

Dalam surat al-An’am ayat 142, Allah berfirman:

وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ حَمُولَةً وَفَرْشًا كُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir ath-Thabari dijelaskan bahwa perintah untuk mengkonsumsi semua yang Allah anugerahkan, pada saat yang sama beriringan dengan adanya larangan mengharamkan apa yang Allah haramkan.

Sikap mengharamkan yang halal adalah bagian dari larangan Allah, seperti yang disebutkan dalam surat Yunus ayat 59 yang berbunyi:

قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَاماً وَحَلاَلاً قُلْ آللّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan (kedustaan) terhadap Allah?’

Adapun bentuk perilaku lain yang tanpa disadari akan menempatkan manusia di jalan yang sama dengan syetan adalah menjadikan Islam sebagai pedoman secara parsial.

Hal tersebut disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 208, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Allah memerintahkan setiap Mu’min untuk sepenuhnya masuk dalam Islam, tanpa memilah dan memilih terkait dengan syariat Islam. Kemudian dalam lanjutan ayat tersebut dijelaskan larangan mengikuti langkah-langkah syetan. Dengan demikian bagian dari komitmen menjadikan lawan sebagai lawan adalah dengan mengikuti Islam secara keseluruhan. Seluruh aktivitas baik ideologi, sosial, politik maupun ekonomi perlu dibingkai dengan nilai-nilai Islam.

Surat al-Baqarah ayat 208 lebih istimewa penekanannya karena ayat tersebut dimulai dengan kalimat “Ya ayyuhal laziina aamanuu”. Menurut Abdullah ibn Mas’ud sebagai disebutkan oleh Muhammad Ali ash-Shabuni di dalam tafsirnya, jika ada ayat yang dimulai dari kalimat tersebut memiliki pesan agar setiap Mu’min memfokuskan pendengarannya karena setelah itu ada kebaikan yang diperintahkan atau ada keburukan yang dilarang. Dengan demikian, perintah menjadikan syetan sebagai lawan yang juga harus diperlakukan sebagai lawan, sangat ditekankan kepada orang beriman.

Dalam ayat tersebut, pembuktiannya adalah dengan komitmen penuh menjadikan Islam sebagai frame seluruh perjalanan hidup kita. Satu hal yang patut direnungkan pula, bahwa Allah tetap memerintahkan hal tersebut (masuk Islam secara Kaffah) kepada orang beriman, hal ini mengisyaratkan tidak semua Muslim komitmen dengan nilai-nilai Islam sepenuhnya.

Ternyata sekilas mungkin setiap orang sudah merasa jauh dari mengikuti langkah dan bujuk rayu syetan. Akan tetapi ketika Allah mengingatkan bahwa memakan makanan yang haram, mengharamkan yang halal, dan tidak sepenuhnya menjadikan Islam sebagai pedoman hidup adalah bagian dari sikap mengikuti langkah syetan, maka ada hal yang patut direnungkan kembali akan jalan yang sedang dipilih manusia. Tidak mustahil jalan yang sedang dijalani oleh seseorang ternyata tengah membawanya semakin dekat dengan syetan sebagai musuh utama.

Jika manusia benar-benar sudah berada di jalan yang diinginkan syetan, maka ia akan dikuasai oleh syetan dan secara otomatis ia akan jauh dan lupa kepada Allah SWT. Kedua jalan tersebut tidak akan pernah bertemu pada diri seseorang. Allah menjelaskan hal tersebut dalam surat al-Mujadilah ayat 19 yang berbunyi:
Syetan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.

Semoga Allah mengampuni segala ketidaksempurnaan segala upaya untuk meninggalkan jalan yang dipilih oleh syetan dalam hidupnya!

Semoga bermanfaat!

Sebelumnya11 Amalan Sunnah di Hari Jumat SesudahnyaThoharoh dan Jenis Air

Berita Lainnya