SEKILAS INFO
  • 1 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

REFLEKSI TAHUN BARU 2019

Terbit 2 Januari 2019 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
REFLEKSI TAHUN BARU 2019

URGENSI WAKTU DAN HUSNUL KHATIMAH BAGI MAN-USIA

Abdul Ghoni (DQM)

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT banyak menyebutkan bagian-bagian dari waktu sebagai sandaran sumpah-Nya. Tidak kurang dari 7 ayat yang di dalamnya Allah bersumpah dengan menyebutkan waktu.

Di antaranya adalah sumpah Allah dengan menggunakan waktu Fajar, Dhuha, Siang, Malam, Ashar, dan Hari Kiamat. Para mufassir di antaranya yanh disebutkan dalam kitab Rawa’i al Bayan karya Muhammad Ali ash-Shabuni dijelaskan bahwasanya ketika Allah menggunakan ciptaan-Nya sebagai sandaran bersumpah, maka sesuatu itu sangat penting untuk diperhatikan oleh manusia. Sesuatu yang menjadi sandaran sumpah memiliki kebesaran dan keagungan yang membutuhkan perhatian besar.

Dengan demikian bagian-bagian dari hari yang menunjukkan waktu tertentu, sangat penting untuk diperhatikan oleh seiap manusia. Waktu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia.

Imam Hasan al Bashri memberikan nasehat melalui ungkapannya yang berbunyi:
يا ابن أدم انما انت ايام
كلما ذهب يوم ذهب بعضك
Wahai anak Adam, kalian tidak lebih dari kumpulan hari-hari. Maka jika setiap satu hari berlalu, maka sesungguhnya telah tiada sebagian dari diri kalian.

Ungkapan tersebut lahir ketika manusia dilihat dari sisi yang abstrak yaitu waktu.

Manusia jika dilihat dari sisi waktu, maka sesungguhnya ia terus-menerus berkurang setiap hari. Apalagi jika yang berlalu dari diri kita adalalah satu pekan, satu bulan, atau bahkan satu tahun! Tentu saja bagian yang besar dari manusia terus berkurang meninggalkan manusia.

Satu keniscayaan dari waktu, bahwa ia tidak akan pernah bisa kembali ketika sudah berlalu. Waktu yang sudah lewat, ia tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apapun. Ia tidak dapat dikendalikan oleh pejabat setinggi apapun. Manusia menyerah dan bertekuk lutut di hadapan waktu yang sudah pergi meninggalkannya. Manusia tak berdaya pada saat itu. Seluruh kekuatan dan energi tidak berarti apa-apa menyaksikan waktu yang baru saja hilang.

Ada kalimat hikmah dalam Bahasa Arab yang berbunyi:
لن ترجع الأيام التى مضت
Tidak akan pernah dapat kembali hari-hari yang sudah berlalu.

Mungkin pernah satu waktu, seseorang yang hendak bepergian ke satu kota dengan menggunakan pesawat terbang atau kereta api. Jika satu menit saja terlambat, sehingga kendaraan yang akan digunakan telah pergi, maka waktu satu menit itu tidak bisa dikembalikan dengan cara apapun yang dimiliki oleh manusia.

Keunikan lain dari waktu yang patut diperhatikan adalah begitu cepatnya ia bergerak dan berjalan. Hanya persepsi manusia saja yang berasumsi bahwa waktu itu seolah lama, panjang, dan jauh. Pada hakekatnya ketika waktu sudah berjalan, semuanya terasa begitu singkat dan cepat. Manusia kadang berpikir setelah waktu berlalu, ternyata tiba-tiba ia sudah berada pada waktu yang sama setahun lalu.

Pergantian tahun baru kembali datang, padahal masih terngiang-ngiang apa yang dilakukan setahun yang lalu. Begitu pula perasaan manusia tentang kehidupan, tak terasa ternyata seseorang tinggal di satu tempat sudah 10 tahun, 20 tahun bahkan lebih dari itu. Bagi yang berusia 50 atau 60 tahun hari ini, mungkin juga muncul perasaan masih baru ia menjalani kehidupannya. Masih terbayang saat sekolah di SD, SMP begitu seterusnya. Waktu seolah-olah lama dan panjang, pada hakekatnya ia singkat dan cepat.

Ketika setiap manusia menyadari betapa pentingnya waktu dalam kehidupan, maka ia memperlakukan dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jika seseorang tahu bahwa waktu yang sudah berlalu tak akan kembali, dan waktu itu berjalan begitu cepat, maka ia tidak akan rela membiarkan waktunya terbuang. Waktu harus dimanfaatkan dengan kebaikan sebanyak mungkin. Tidak boleh ada waktu berlalu, kecuali ada kebaikan yang pergi bersamanya. Tidak boleh ada waktu tanpa aktivitas yang baik. Tidak boleh waktu hilang tanpa amal shaleh di dalamnya. Tidak boleh ada waktu kosong, tidak boleh ada pengangguran dalam hidup ini. Tidak boleh ada yang berpangku tangan. Waktu sangat berharga, yang berlalu tidak akan kembali, dan semua berjalan begitu cepat.

Dalam surat al-Insyirah ayat 7, Allah berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Ayat tersebut mengharuskan setiap Mu’min untuk terus-menerus melakukan aktivitas yang baik.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan beberapa contoh bagaimana mengamalkan ayat tersebut. Jika seseorang selesai melakukan jihad, maka hendaknya ia kembali melaksanakan ibadah shalat. Jika seseorang selesai melakukan shalat fardhu, hendaknya ia berdoa. Jika seseorang selesai memenuhi kebutuhan dunianya, maka ia segera melakukan aktivitas untuk kebutuhan akhiratnya.

Seorang Kyai memberikan wasiat kepada para santrinya, bahwa bagi seorang Mujahid atau Aktivis Dakwah, waktu sehari semalam 24 jam tidak cukup. Oleh karena itu tidak boleh ada waktu yang terbuang sia-sia tanpa manfaat. Menurutnya, istirahat bukanlah diam atau berhentinya seseorang dari satu pekerjaan atau aktivitas. Akan tetapi istirahat sesungguhnya adalah pergantian dari satu aktivitas kepada aktivitas lainnya. Inilah bagian dari implementasi pesan dalam surat al-Insyirah ayat 7 di atas.

Fudhail ibn Iyadh bertemu dengan seseorang, kemudian Fudhail bertanya “berapa usiamu?”. Orang tersebut menjawab “60 tahun”. Fudhail mengatakan kepadanya “berarti sudah 60 tahun kamu sedang berjalan menuju Allah”. Orang tersebut mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan memohon petunjuk kepada Fudhail, “kalau begitu apa yang harus aku lakukan?’. Fudhail menjawab Perbaiki umur yang tersisa, Allah akan ampuni yang sudah berlalu. Akhir dari perjalanan hidup ini yang sangat penting.

Tidak ada pilihan lain bagi manusia, kecuali berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan syurga dan melindungi diri dari azab neraka. Jika satu celupan neraka saja, orang yang paling bahagia di dunia sudah kehilangan rasanya nikmat selama di dunia, bagaimana dengan berada di neraka selamanya? Jika satu celupan syurga saja, orang yang paling sengsara di dunia tak lagi merasakan penderitaan yang panjang selama hidup, bagaimana dengan hidup kekal abadi di dalam syurga?

Pergantian tahun 2018 menuju 2019, hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki dari usia yang tersisa, agar Allah ampuni yang sudah dilalui, serta Allah wafatkan setiap kita dalam keadaan Husnul Khatimah.

Baarokalloh fiikum jami’an. Kullu aamin wa antum bikhairin.

SebelumnyaWAPRES KALLA: JAGA KESEIMBANGAN ANTARA FISIK, PENGURUS, DAN JAMAAH MASJID SesudahnyaLaporan Kas/Infaq/Shodaqoh

Berita Lainnya