SEKILAS INFO
  • 6 bulan yang lalu / Sebaik baik tempat adalah Masjid dan seburuk buruk tempat adalah pasar
  • 6 bulan yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Berlapang Dada dan Membiarkan Keburukan Terjadi

Terbit 20 November 2018 | Oleh : admin | Kategori : TANYA JAWAB
Berlapang Dada dan Membiarkan Keburukan Terjadi

Dalam salah satu kajian sedang dibahas satu ayat, bahwa di antara tanda orang yang diberikan petunjuk oleh Allah adalah dilapangkan dadanya untuk Islam. Bagaimana sikap kita ketika misalnya bendera tauhid dibakar, atau bentuk kezaliman yang dilakukan orang lain? Apakah kita membiarkan apa yang mereka lakukan dengan sebagai bukti bahwa kita berlapang dada?

JAWABAN
Memang benar bahwa ciri orang yang mendapatkan petunjuk adalah mereka yang dilapangkan dadanya dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam sruat al-An’am ayat 125 berikut ini:
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.

Nabi Musa juga saat akan mendakwahi Fir’aun memohon agar Allah lapangkan dadanya. Hal tersebut diabadikan dalam surat Thaha ayat 25 sampai 28 yang berbunyi:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Rasulullah juga termasuk Nabi yang dilapangkan dadanya. Namun demikian kelapangan dada bukan berarti membiarkan kezaliman yang terjadi.
Dalam surat Ali Imran ayat 110, Allah berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Kita dapat digolongkan sebagai Khairu Ummah ketika melakukan dua hal, yaitu; amar ma’ruf dan nahi munkar. Keduanya harus dijalankan secara bersamaan. Kita pun harus berlapang dada dalam melakukan keduanya. Berlapang dada terhadap kebaikan dengan selalu mendukungnya dan kita juga harus berlapang dada terhadap keburukan dengan mengingkarinya. Berlapang dada bukan berarti harus menerima semuanya. Kita harus berlapang dada dengan mendukung kebaikan dan menolak atau mencegah kemungkaran.

Namun demikian dalam menolak kemungkaran, kita perlu melakukan sesuai dengan kapasitas dan posisinya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:
من رأى منكم منكراً فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان
Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman

Demikian sikap benar yang benar terkait dengan berlapang dada ketika berhadapan dengan kemungkaran. Bagi penguasa hendaknya ia menggunakan kekuasaan yang dimiliki.

Bagi para Da’I hendaknya menggunakan lisannya. Bagi yang tidak memiliki kesempatan melakukan perubahan melalui kekuasaan dan lisan, maka hendaknya ia mengingkari dengan hatinya. Hatinya tetap menolak satu kemungkaran terjadi.

SebelumnyaShalawat : Mendoakan Nabi dan Keluarganya SesudahnyaHukum Jual Beli Lelang

Berita Lainnya