SEKILAS INFO
  • 6 bulan yang lalu / Sebaik baik tempat adalah Masjid dan seburuk buruk tempat adalah pasar
  • 6 bulan yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Shalawat : Mendoakan Nabi dan Keluarganya

Terbit 19 November 2018 | Oleh : admin | Kategori : TANYA JAWAB
Shalawat : Mendoakan Nabi dan Keluarganya

Shalawat: Mendoakan Nabi dan Keluarganya
(Ada keluarga Nabi yang tidak beriman)
Pada satu kajian, seorang Bapak memiliki pertanyaan yang sebelumnya sudah dibahas akan tetapi belum mendapatkan jawaban yang optimal. Oleh karena dalam pengajian tersebut, ia sangat berharap bisa mendapatkan jawabannya.
Ada satu larangan dalam Islam bahwa seorang Muslim tidak diperbolehkan mendoakan orang Kafir. Sementara kita diminta untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi, yang isinya adalah mendoakan Nabi dan keluarganya. Sementara, tidak semua keluarga Nabi beriman kepada Allah. Bagaimana hukum membaca shalawat yang isinya adalah mendoakan keluarga Nabi?

JAWABAN
Memang dalam Islam ada larangan mendoakan orang Kafir. Hal tersebut berdasarkan firman Allah ta’ala surat at-Taubah ayat 113:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim. (at-Taubah: 113)
Ditambahkan contoh aktualisaswi ketentuan di atas, pada surat at-Taubah ayat 114 yang berbunyi:
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَددُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah: 114)

Imam Al-Qurtubi juga mengatakan dalam tafsirnya:
وَقَدْ قَالَ كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ: لَا بَأْسَ أَنْ يَدْعُوَ الرَّجُلُ لِأَبَوَيْهِ الْكَافِرَيْنِ وَيَسْتَغْفِرَ لَهُمَا مَا دَامَا حَيَّيْنِ. فَأَمَّا مَنْ مَاتَ فَقَدِ انْقَطَعَ عَنْهُ الرَّجَاءُ فَلَا يُدْعَى لَهُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كَانُوا يَسْتَغْفِرُونَ لِمَوْتَاهُمْ فَنَزَلَتْ فَأَمْسَكُوا عَنِ الِاسْتِغْفَارِ وَلَمْ يَنْهَهُمْ أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْأَحْيَاءِ حَتَّى يَمُوتُوا
Banyak ulama mengatakan: Tidak mengapa bagi seorang (muslim) mendoakan kedua orang tuanya yg kafir, dan memintakan ampun bagi keduanya selama mereka masih hidup. Adapun orang yg sudah meninggal, maka telah terputus harapan (untuk diampuni dosanya). Ibnu Abbas mengatakan: “Dahulu orang-orang memintakan ampun untuk orang-orang mati mereka, lalu turunlah ayat, maka mereka berhenti dari memintakan ampun. Namun mereka tidak dilarang untuk memintakan ampun bagi orang-orang yg masih hidup hingga mereka meninggal”. (Tafsir Qurtubi 10/400)

Dari gambaran di atas, ada larangan mendoakan mereka yang kufur kepada Allah, baik karena musyrik ataupun kafir. Larangan tersebut ketika mereka sudah meninggal dunia. Ketika masih hidup, diperbolehkan berdoa agar mereka mendapatkan hidayah.
Bagaimana dengan shalawat Nabi?

Memang dalam shalawat kepada Nabi, ada doa untuk Nabi dan keluarganya. Benar adanya, bahwa ada keluarga Nabi yang kufur kepada Allah. Apakah perintah shalawat menjadi kontradiktif dengan larangan mendoakan orang kafir? Bacaan shalawat tersebut tidak bersifat kontradiktif. Hal ini sejalan dengan penamaan keluarga yang sebenarnya di sisi Allah.

Dalam persepsi manusia, tentu saja keluarga adalah mereka yang memiliki hubungan darah satu sama lain. Setiap yang terlahir dari satu bapak dan satu ibu, akan disatukan dalam Kartu Keluarga (KK) tanpa ada yang bisa menolak. Tidak dilihat bagaimana kualitas orang tersebut, apalagi keshalihannya.
Berbeda dengan pandangan tentang keluarga dalam Islam. Keluarga tidak didasarkan oleh hubungan darah semata, akan tetapi perlu didasari juga oleh kesamaan agama. Jika seseorang memiliki hubungan darah akan tetapi ia bukan seorang Muslim, maka sesungguhnya ia bukanlah keluarga.

Salah satu dalil yang secara eksplisit menyebutkan demikian adalah ketika Nabi Nuh mengharapkan agar anaknya (Kan’an) naik kapal laut. Nabi Nuh terus berusaha untuk menyelamatkan anaknya, akan tetapi sang anak ingin mendaki gunung agar bisa terlindungi dari banjar bandang yang terjadi. Di tengah usaha Nabi Nuh yang tak kenal lelah, kemudian Allah mengingatkan dalam surat Hud ayat 46 yang berbunyi:
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.

dengan demikian dalam pandangan Allah, keluarga yang memiliki hubungan darah akan tetapi ia kufur kepada Allah, maka hilang kedudukannya sebagai bagian dari keluarga. Di sisi Allah, hubungan keluarga sudah terputus ketika ada perbedaan aqidah di dalamnya. Maka bacaan shalawat atas Nabi kemudian dilanjutkan dengan anggota keluarga Nabi, maka sesungguhnya hanyalah keluarga Nabi yang memiliki hubungan darah dan kesamaan aqidah, sehingga yang tidak memenuhi tidaklah termasuk anggota keluarga yang disebutkan dalam shalawat.
Begitu pula dengan peristiwa Mubahalah antara Nabi dan Kaum Nashrani Najran, di mana pada saat itu Nabi menghadirkan anggota keluarganya yang semua beriman kepada Allah. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menghadirkan Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan beliau bersabda: “Mereka adalah keluargaku”.

SebelumnyaTatkala Syukur Menjadi Motivasi Beramal SesudahnyaBerlapang Dada dan Membiarkan Keburukan Terjadi

Berita Lainnya