SEKILAS INFO
  • 1 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Hijrah sebagai Puncak Pengorbanan

Terbit 10 September 2018 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Hijrah sebagai Puncak Pengorbanan

Peristiwa Hijrah dalam perjalanan Islam membawa pesan bahwa untuk menyempurnakan dan mempertahankan Iman kadangkala dibutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Hijrah merupakan sejarah yang merepresentasikan puncak pengorbanan yang besar dengan keragaman bentuknya. Pengorbanan tersebut mencakup pengorbanan pikiran, tenaga, waktu, harta, bahkan jiwa. Beban berat sebagai sebuah pengorbanan saat menjalani tak terkecuali dialami oleh Rasulullah, ketika beliau berbicara kepada kota Mekkah sesaat sebelum hijrah. Hal tersebut tertulis dalam Sunan Imam Tirmizi dan Musnad Imam Ahmad yang berbunyi:

عن أبي هريرة قال وقف النبي صلى الله عليه وسلم على الحزورةفقال علمت أنك خير أرض الله وأحب الأرض إلى الله ولولا أن أهلك أخرجوني منك ما خرجت
“Wahai kota Mekkah, Demi Alloh, sesungguhnya engkau adalah sebaik2 bumi Alloh, engkau adalah bumi yang paling dicintai Alloh. Kalau bukan Pendudukmu
yang mengusirku darimu, maka aku tidak akan meninggalkanmu”.

Meninggalkan kampung halaman bukan hal sederhana. Banyak orangtua yang sudah sepuh memilih tetap tinggal di rumahnya sendiri di kampung halamannya, walaupun sang anak menawarkan rumah yang lebih besar, lebih lengkap fasilitasnya, dan lebih nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Orangtua tetap lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri yang lebih sederhana, mungkin masih berdinding bilik dan berlantai tanah.

Mekkah yang ditinggalkan Rasulullah saat melaksanakan perintah hijrah, bukan hanya kampung halaman Rasul saja. Mekkah adalah kampung halaman yang sangat beliau cintai, bahkan bumi yang paling dicintai Allah. Mekkah sangat dekat di hati Rasul dan mulia di sisi Alloh. Di antara pengorbanan Rasulullah saat hijrah adalah meninggalkan kampong halaman yang sangat ia cintai dan dicintai Allah.

Berbeda dengan pengorbanan Sahabat Suhaib ar-Rumi yang ikut hijrah bersama Rasulullah. Ketika Suhaib akan berangkat hijrah, ia dihadang oleh sekelompok Kafir Quraisy. Mereka berkata, “Wahai Suhaib, engkau datang ke kota Mekkah dalam keadaan miskin dan tak punya apa-apa. Saat ini kau sudah hidup kaya raya. Apakah setelah engkau memilliki banyak harta di kota Mekkah ini kemudian kau akan pergi begitu saja? Tidak bisa begitu wahai Suhaib!” Lalu Suhaib bertanya kepada mereka, “apakah jika aku meninggalkan seluruh hartaku di sini, kalian akan mengizinkanku untuk hijrah?” Kafir Quraish menjawab, “tentu saja kau boleh ikut hijrah, jika kau tinggalkan hartamu di sini”. Kemudian dengan tegasnya Suhaib merespon jawaban mereka, “Kalau begitu, aku akan menyerahkan seluruh hartaku kepada kalian semua”. Suhaib pun berangkat hijrah bersama Rasulullah dengan mengorbankan seluruh hartanya. Berita tentang Suhaib ini kemudian sampai kepada Rasul, dan Rasul berkata; “Telah beruntung Suhaib. Suhaib mendapat keuntungan yang sangat besar (dengan memilih hijrah dan meninggalkan hartanya)”.

Demikianlah wahai saudaraku, terkadang iman menuntut kita mengorbankan waktu bersama keluarga. Iman mengurangi waktu istirahat malam kita dan mengurangi biaya belanja keluarga kita. Iman menguras pikiran kita utk menghadang hujatan orang-orang yang membencinya. Iman kadang membuat kita tidak hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga, tetapi menuntut kita memikirkan tetangga kita, lingkungan komplek perumahan kita, rekan-rekan kerja di kantor kita, bahkan mungkir memikirkan orang-orang yang tidak memikirkan kita.

Tidak usah gusar dan khawatir, semua pengorbanan itu tidak seujung kuku pengorbanan Rasul dan para sahabat, saat mempertahankan iman dalam dada mereka. Pengorbanan kita sama sekali tak sebanding dengan yang sudah mereka korbankan untuk nikmat iman yang akhirnya tumbuh dalam jiwa kita sekarang. Tak perlu khawatir semua ini akan kita dapatkan hasil panennya di sisi Allah, bahkan ganjaran yang telah disiapkan jauh lebih besar dari yang kita kerjakan, lebih besar dari yang kita duga. Dengan demikian bersyukurlah atas nikmat kesempatan dengan janjji yang Allah akan penuhi untuk kita, sebagaimana dijelaskan di akhir surat Al Muzzammil ayat ke-20.

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ
إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maka sangat wajar jika kemudian Allah SWT memberikan anugerah yang istimewa bagi mereka yang melakukan hijrah bersama Rasulullah. Dalam surat al-Baqarah ayat 218 Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Belajar dari peristiwa hijrah di atas memberikan bahwa pengorbanan merupakan keniscayaan dalam menggapai kesuksesan. Ada ungkapan sederhana yang berbunyi; “there is no free lunch” (tidak ada makan siang yang gratis). Jika dalam urusan yang sederhana seperti makan siang saja membutuhkan biaya (ada cost-nya), apalagi sebuah cita-cita dan harapan yang besar tentu saja membutuhkan pengorbanan yang lebih besar. Dapat disimpulkan bahwa pengorbanan yang perlu dilakukan berbanding lurus dengan cita-cita yang ingin dicapai. Semakin tinggi harapan, maka semakin besar membutuhkan pengorbanan. Hijrah merupakan pengorbanan tertinggi untuk tegaknya Islam di bumi Allah yang mulia. (Abdul Ghoni)

SebelumnyaWEBSITE RESMI MASJID NUUR HIDAYAH SesudahnyaDMI: MASJID HARUS DAPAT MENCIPTAKAN PERDAMAIAN

Berita Lainnya