SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Mengapa Tak Semangat Ibadah dan Tenang Saat Lengah..

Terbit 31 Agustus 2018 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Mengapa Tak Semangat Ibadah dan Tenang Saat Lengah..

Abdul Ghoni (DQM)

Bogor, 20 Juli 2018.

Kadangkala kita merenung apa sih sebenarnya yang membuat kita tidak semangat berbuat baik dan tetap merasa tenang-tenang saja saat melakukan keburukan?

Padahal dalam al-Qur’an Allah dengan jelas memerintahkan untuk selalu bersegera bahkan kita diminta berlari untuk melakukan itu semua.

Perintah untuk bersegera di antaranya disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 133 yang berbunyi:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dalam ayat yang lain, Allah memerintahkan kita untuk berlari menuju kepada-nya. Hal tersebut disebutkan dalam surat Az-Zariyat ayat 59 yang berbunyi:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Berlarilah menuju Allah, sesungguhnya aku (Rasul) adalah pemberi peringatan yang benar.

Dalam tafsir ath-Thabari dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “berlari menuju Allah” adalah bersegera untuk beriman dan melakukan ketaatan kepada Allah.

Kedua ayat tersebut di atas menunjukkan adanya kegentingan, kondisi darurat, singkat dan pendeknya waktu yang dimiliki oleh manusia di dunia ini.

Akan tetapi manusia tidak begitu tergerak dan merasa biasa-biasa saja dengan kedua perintah tersebut. Ada persepsi manusia yang perlu diluruskan bahwa kesempatan yang dimiliki oleh manusia sangat panjang. Kehidupan ini masih sangat lama untuk dijalani.

Dari persepsi tersebut wajar jika mereka tak semangat berbuat baik dan tenang-tenang saja saat melakukan keburukan.

Akan tetapi apakah persepsi itu benar adanya?

Apakah anggapan dan asumsi tersebut benar?
Seringkali persepsi yang ada manusia keliru, sehingga Al-Qur’an diturunkan untuk meluruskannya.

Di dalam al-Qur’an surat Al-Ma’arij ayat 6 dan 7, Allah SWT dengan tegas menjelaskan kelirunya persepsi manusia tersebut dan Allah memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.

إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا
Mereka melihat seolah hari akhir itu jauh, padahal Kami memandangnya dekat.

Hari akhir yang di dalamnya ada ganjaran atas kebaikan dan keburukan, dipandang jauh oleh manusia. Padahal semua itu dekat dan amat singkat.

Hal ini pun riil sudah kita alami, bahwa waktu yang dianggap lama itu sebenarnya amat singkat. Salah satu buktinya adalah persepsi kita tentang waktu yang sudah berlalu, 30 tahun – 40 tahun bahkan bagi yang sudah berusia 60 tahun sekalipun, ketika ditanya apakah sudah lama menjalani hidup? Rata-rata jawabannya singkat dan tidak lama. Saat usia senja, masih lekat dalam ingatan saat belajar di SD, SMP dan SMA. Itulah yang sebenarnya. Waktu itu begitu singkat.

Kekeliruan persepsi manusia tentang lamanya kehidupan dunia baru akan benar-benar dirasakan oleh manusia saat nanti sudah dilalui. Hal tersebut dijelaskan dalam al-Qur’an surat an-Nazi’at ayat 46 yang berbunyi:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.

Ketika kehidupan dunia dilalui oleh manusia, kemudian masuk pada kehidupan akhirat dengan datangnya hari akhir, barulah manusia menyadari bahwa kehidupan dunia yang dianggap lama itu sebenarnya singkat. Ia tak lebih seperti waktu Isya atau waktu Dhuha. Waktu Isya adalah bagian awal dari malam, sementara waktu Dhuha adalah bagian awal dari siang hari.

Pengakuan lain dari manusia saat dunia sudah berlalu adalah apa yang dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi:
يؤتى بأنعم أهل الدنيا من أهل النار يوم القيامة، فيصبغ في النار صبغةً، ثم يقال: يا ابن آدم هل رأيت خيراً قط؟ هل مر بك نعيمٌ قط؟ فيقول: لا والله يا رب، ويؤتى بأشد الناس بؤساً في الدنيا من أهل الجنة، فيصبغ صبغةً في الجنة، فيقال له: يا ابن آدم هل رأيت بؤساً قط؟ هل مر بك شدةٌ قط؟ فيقول: لا، والله ما مر بي بؤسٌ قط، ولا رأيت شدةً قط

Ternyata orang yang paling bahagia di dunia dan mengisi kehidupannya dengan kesenang-senangan tanpa henti, tidak merasa bahagia sedikitpun di dunia. Karena memang waktunya teramat singkat dibanding kehidupan yang akan mereka lalui berikutnya. Begitu pula orang yang paling susah dan sengsara dalam hidupnya, ternyata ia tidak merasakan sedikitpun kesengsaraan, karena begitu singkatnya kehidupan dunia dan panjangnya hidup setelah itu.

Jika pemahaman dan persepsi kita benar bahwa dunia begitu singkat, maka pemahaman ini akan berpengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari kita. Semakin baik dan lurus kita saat di kantor, semakin baik kita saat di rumah bersama anggota keluarga dan tetangga, semakin khusyu’ ibadah kita di masjid. Pada saat yang sama, tak terpikir oleh kita untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan yang akhirnya membuat kehidupan singkat menyisakan beban kehidupan akhirat yang begitu berat. Hal itu tidak merugikan siapapun kecuali diri kita sendiri.

Semoga Allah terus perkuat motivasi dan semangat kita untuk selalu bersegera mengisi waktu-waktu yang singkat ini dengan kebaikan sebanyak-banyaknya, dan Allah kuatkan tekad kita untuk meninggalkan keburukan dan kemaksiatan sesegera mungkin.

SebelumnyaHukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf SesudahnyaIdul Adha 1439 H

Berita Lainnya