SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Bagaimana Hukum Sutrah saat Shalat?

Terbit 31 Agustus 2018 | Oleh : admin | Kategori : Fiqih / TAUSHIAH
Bagaimana Hukum Sutrah saat Shalat?

Sutrah adalah pembatas yang digunakan sebagai tanda oleh seseorang yang sedang shalat agar tidak dilewati oleh pejalan kaki dan juga digunakan untuk membatasi pandangan agar seseorang yang sedang shalat tidak melihat sesuatu di belakang sutrah tersebut. Para Ulama memiliki perbedaan pendapat terkait dengan peletakan sutrah saat shalat.

Sayyid Sabiq dalam bukunya “Fiqh al-Sunnah” menjelaskan bahwa hukum penggunaan sutrah adalah Sunnah. Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat imam Abu Daud dan Ibn Majah, Rasulullah bersabda; “Jika seorang di antara kalian melaksanakan shalat, maka hendaklah ia menaruh sutrah dan mendekat kepadanya!” Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah biasa membawa tempat minum saat bepergian, kemudian menaruh tempat minum tersebut (sebagai sutrah) di depannya ketika hendak melaksanakan shalat.

Menurut Pengikut Mazhab Imam Malik dan Abu Hanifah, penggunaan sutrah disunnahkan bagi seseorang yang melaksanakan shalat, jika ada kekhawatiran atau dugaan kuat akan adanya orang yang berjalan di depannya. Adapun jika tidak ada kekkhawatiran tersebut, maka tidak disunnahkan untuk menggunakan sutrah. Hal ini didasarkan hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan al-Baihaqi, yang menjelaskan bahwa Rasululullah melaksanakan shalat di tempat yang kosong (sepi), dan beliau tidak meletakkan apapun di depannya.

Adapun bentuk sutrah itu sendiri sangat beragam dalam shalat. Sutrah dapat berupa anak panah, tempat minum, tongkat, bahkan juga dapat berupa garis sekalipun. Dengan demikian garis-garis dalam sajadah yang digunakan dalam shalat, sudah cukup untuk menjadi sutrah.

Imam Ibn Rusyd menyebutkan dalam “Bidayat al-Mujtahid” bahwa Mayoritas ulama menghukumkan bahwa berjalannya seseorang di depan orang yang shalat, tidak sampai membatalkan shalat tersebut. Jumhur Ulama juga berpendapat bahwa hukum orang yang berjalan di depan orang yang sedang shalat adalah makruh.

Referensi:
Ibn Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, (Mesir, Maktab al-Syuruq, 2015), 146
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Mesir, Dar al-Fath, 2010), 182-183

SebelumnyaTanggunjawab Makmum yang Gugur dalam Shalat Berjamaah Bersama Imam SesudahnyaAdzan Subuh Dua Kali

Berita Lainnya