SEKILAS INFO
  • 1 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

SHALAT GERHANA BULAN

Terbit 27 Juli 2018 | Oleh : admin | Kategori : Fiqih / TAUSHIAH
SHALAT GERHANA BULAN

Insya Allah pada tanggal 28 Juli 2018 Sabtu dini hari, kembali akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) sebagaimana yang telah terjadi beberapa waktu lalu pada tanggal 31 Januari 2018 lalu.

GBT kali ini dapat diamati diseluruh wilayah Indonesia sekaligus merupakan gerhana yang terjadi dalam waktu yang paling lama, dimulai pada sekitar pukul 01.30 Sabtu dini hari (nanti malam) sampai jam 05.19 (Sabtu pagi). Puncak gerhana diperkirakan akan terjadi pada jam 03.21 dini hari. Gerhana akan berlangsung hampir 4 jam lamanya.

Selama terjadinya gerhana tersebut, umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan Shalat Khusuf al-Qamar (Shalat Gerhana Bulan). Sebaiknya shalat dilakukan dengan mengamati terlebih dahulu proses terjadinya gerhana, untuk memastikan bahwa gerhana benar-benar terjadi. Sebagian ulama tetap menyarankan agar melihat fenomena gerhana, tidak semata mengandalkan hasil perhitungan ahli Hisab.

Penting bagi setiap Muslim untuk memahami gerhana dan tuntunan Islam dalam menyikapinya.

Ada 2 sholat gerhana yaitu: Shalat Kusuf (kaf) untuk Gerhana Matahari. Dan Shalat Khusuf (kha’) untuk Gerhana Bulan. Akan tetapi ada juga yang tidak membedakan nama shalat antara keduanya.

*Tatacara Sholat Gerhana*

Didahului dengan Sholat sunnah 2 rakaat dengan 4 fatihah dan 4 ruku’, kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

Adapun perintah shalat gerhana, berdasarkan hadits Imam Bukhari yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّهُ كَانَ يُخْبِرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلَا لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا
آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا
_Dari Abdullah bin Umar radhi Allahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda:“Sesungguhnya gerhana matahari dan gerhana bulan tidak terjadi karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Namun keduanya adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Maka jika kalian melihatnya, hendaklah kalian mengerjakan shalat.”_
(H.R. Bukhari)

Hukum Sholat Gerhana

Sholat ini hukumnya _Sunnah Muakkadah_ yaitu shalat Sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Nabi pernah melakukannya pada saat terjadinya gerhana setelah hijrah ke kota Madinah.

Tatacara sholat gerhana berbeda dengan shalat Sunnah pada umumnya. Setiap rakaat Shalat Gerhana terdiri dari 2 bacaan fatihah, 2 ruku’, adapun gerakan berikutnya seperti shalat yang biasa dilakukan.

Adapun bacaan shalat Imam pada saat itu dianjurkan dibaca dengan _jahar_ (keras atau nyaring). Di samping itu, pelaksanaan shalat gerhana dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah.

Kemudian setelah sholat dilaksanakan, disunnahkan ada khutbah seperti yang pernah Nabi lakukan.

Bolehkah Sholat Gerhana dilaksanakan sendiri?

Tidak semua Muslim tinggal di satu tempat yang di dalamnya terbiasa melaksanakan shalat gerhana secara berjamaah. Maka ia dapat melaksanakannya seorang diri.

Menurut Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, pelaksanaan sholat gerahan berjamaah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah.

Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا
_Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah._ (HR. Bukhari)

Dalam hadits tersebut tidak ada perintah secara tekstual keharusan berjamaah di masjid. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seorang diri. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid.

Tempat Sholat Gerhana

Dari Aisyah radhi Allahu ‘anha dia berkata:
رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ مَرْكَبًا فَخُسِفَتِ الشَّمْسُ ، فَخَرَجْتُ فِي نِسْوَةٍ بَيْنَ ظَهْرَانَيِ الْحِجْرِ فِي الْمَسْجِدِ ، فَأَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَرْكَبِهِ فَقَصَدَ إِلَى مُصَلَّاهُ الَّذِي كَانَ فِيهِ ، فَقَامَ وَقَامَ النَّاسُ وَرَاءَهُ
_Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam pada suatu pagi menaiki kendaraannya, lalu terjadi gerhana matahari. Maka saya bersama kaum wanita keluar menuju masjid di antara kamar-kamar kami. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam datang dengan kendaraannya, lalu menuju tempat ia biasa shalat. Beliau berdiri untuk shalat dan masyarakat shalat di belakang beliau.”_ (HR. Bukhari dan Muslim).

Kebiasaan Orang Menyikapi Gerhana

Pada umumnya, ketika hendak terjadi gerhana, masyarakat cenderung keliru dalam bersikap. Di antara sikap yang keliru itu adalah:
1. Sibuk mengabadikan peristiwa, dengan penuh keceriaan. Padahal gerhana terjadi untuk membangkitkan ketundukan manusia kepada Alloh.
2. Menganggap peristiwa tersebut terjadi secara alamiah, tidak terkait dengan tanda kekuasaan Allah
3. Menyikapinya secara berlebihan hingga cenderung syirik kepada Allah
Perintah Rasulullah terkait Gerhana

Dalam redaksi hadits riwayat Imam Bukhari yang lainnya, Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:
إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فادعوا الله وكبروا وصلوا وتصدقوا
_Sesungguhnya gerhana matahari dan gerhana bulan tidak terjadi karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang.. Maka jika kalian melihatnya, hendaklah kalian bermunajat kepada Allah, membesarkan Allah, mengerjakan shalat dan bershadaqoh._
(H.R. Bukhari)

Dari hadits di atas dijelaskan bawha ada empat hal yang diminta Rasulullah kepada umat Islam untuk dikerjakan ketika terjadi gerhana.

Keempat hal tersebut adalah:
1. Bermunajat kepada Allah, agar Allah selamatkan dari musibah, dan mengajak manusia untuk mengingat hari kiamat. Persoalan hari kiamat di antaranya adalah persoalan terbitnya matahari dari sebelah Barat atau terkait dengan posisi matahari yang tidak biasanya.
2. Membesarkan Allah. Semua fenomena yang terjadi di alam ini tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi terjadi atas kekuasaan Allah. Manusia sungguh kecil di hadapan matahari, apalagi kedudukan manusia di hadapan Allah yang menciptakan matahari. Oleh karena setiap Muslim dengan adanya fenomena gerhana tersebut seharusnya semakin tunduk dan hilang kesombongannya di hadapan Allah.
3. Melaksanakan sholat gerhana yang hukumnya sunnah muakkadah dan dianjurkan pelaksanaannya secara berjamaah.
4. Bershadaqoh yang salah satu keistimewaannya adalah melindungi dan mencegah umat manusia dari bencana serta musibah.

Semoga Allah semakin menguatkan Iman dan Islam seluruh Kaum Muslimin dengan segala peristiwa dan kejadian yang dialami di dunia ini. Amin ya Robb.

Semoga Bermanfaat!

(Ustadz Abdul Ghoni)

SebelumnyaPESANTREN KILAT CERIA MASJID NUUR HIDAYAH SesudahnyaKegiatan Sholat Idul Adha 1439 H di Masjid Nuur Hidayah

Berita Lainnya