SEKILAS INFO
  • 2 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Ramadhan dan Tanah yang Subur

Terbit 15 Mei 2018 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Ramadhan dan Tanah yang Subur

Rasulullah dalam hadit riwayat Imam Bukhari dan Muslim mengumpamakan risalah petunjuk yang beliau bawa laksana air hujan. Ada keragaman jenis permukaan tanah saat hujan turun ke bumi. Jenis pertama adalah tanah yang subur. Tanah tersebut memiliki dua ciri yaitu; menyerap air dan menumbuhkan pepohonan nan hijau dan banyak di atasnya. Jenis tanah kedua adalah tanah seperti kolam atau empang. Tanah ini hanya dapat menyimpan air tetapi tidak dapat menumbuhkan pepohonan di atasnya. Adapun jenis tanah ketiga adalah tanah yang sudah dilapisi aspal atau beton. Tanah tersebut tidak lagi dapat menyerap air dan tentu tidak dapat menumbuhkan pepohonan di atasnya.

Sebagaimana keragaman tanah saat menerima air hujan yang turun, begitu pula dengan hati dan jiwa manusia saat menerima petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah termasuk perintah berpuasa Ramadhan.

Di antara manusia ada yang jiwanya seumpama tanah yang subur, maka tatkala cahaya Islam menyentuh jiwanya, dengan penuh kelapangan ia menerimanya hingga kemudian membuahkan amal sholih yang banyak. Datangnya Ramadhan dengan perintah puasa yang mengiringinya adalah momentum dan kesempatan yang sudah dinanti-nantikan. Manisnya iman begitu terasa, sehingga hari-hari dilalui penuh dengan buah kebaikan yang menyenangkan. Ramadhan baginya adalah tanda cinta Allah kepada umat akhir zaman yang usianya hanya 60-70 tahunan, dengan kemuliaan Lailatul Qadar di dalamnya.

Berbeda dengan hati laksana seperti kolam atau empang. Hati ini dapat menerima cahaya Islam termasuk ibadah puasa, akan tetapi penerimaan tersebut sebatas maklumat saja dan tidak berbuah amal sholih. Orang seperti ini menguasai ilmu tentang puasa secara teoritis, sehingga orang lain dapat belajar darinya. Akan tetapi ilmu sebatas ilmu, yang tidak memotivasi untuk menjadi amal. Seperti air hujan yang turun ke kolam, dapat dimanfaatkan untuk menyiram pohon dan mencuci kaki, tetapi tidak ada pepohonan yang tumbuh di atasnya. Orang seperti ini, ilmunya tidak berbuah amal laksana pohon yang tak ada buahnya sedikitpun.

Hati dan manusia jenis ketiga layaknya tanah yang sudah ditutupi aspal. Cahaya Islam tidak dapat menyentuhnya sama sekali. Laksana air di daun talas, jiwanya tak bisa menyatu dengan kasih sayang Islam. Ramadhan terasa hambar bahkan sempit menyesakkan dada baginya. Sehingga secara otomatis tak berbuah kebaikan sedikitpun saat bulan mulia ini tiba. Seorang penceramah kondang berseloroh; “orang seperti ini, jangankan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, masuk kuping kanan pun tidak!”.

Keragamaan sikap penerimaan tersebut juga Allah jelaskan dalam surat Fathir ayat 32. Dalam ayat tersebut digambarkan 3 model penerimaan manusia terhadap al-Qur’an (tentu saja perintah ibadah puasa adalah salah satunya). Pertama; orang-orang yang Zhalimun linafsih (zhalim kepada dirinya sendiri), yaitu orang yang menolak al-Qur’an beserta isinya. Jiwa orang seperti ini mirip dengan tanah beraspal yang disebutkan dalam hadits. Kedua; mereka yang muqtashid terhadap al-Qur’an. Orang seperti ini menerima sebagian yang diperintahkan akan tetapi menolak sebagian yang lain. Jiwanya laksana kolam atau empang dalam hadits di atas. Ketiga adalah mereka yang Saabiqun bil khairat, merekalah ibarat tanah yang subur. Setiap ada kesempatan dan peluang kebaikan termasuk datangnya Ramadhan, mereka sudah berada di barisan paling depan untuk menyambutnya dengan berbagai persiapan yang matang. Kedatangan Ramadhan mengobati kerinduan mereka akan suasana ibadah yang begitu menyenangkan.

Semoga Allah menjadikan jiwa-jiwa kita laksana tanah yang subur sehingga bisa langsung Saabiqun bil khairat saat Ramadhan tiba. Welcome Ramadhan 1439 H.

By : DR. Ustadz Abdul Ghoni, M.Hum

SebelumnyaAPA DAN BAGAIMANA IMPLEMENTASI DIMAKMURKAN MASJID? SesudahnyaMARHABAN YAA RAMADHAN

Berita Lainnya