SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Hakikat Keinginan Manusia

Terbit 3 April 2018 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Hakikat Keinginan Manusia

Manusia memiliki keragaman keinginan dalam hidupnya di dunia. Sebagian menginginkan jabatan dalam hidupnya, maka kemudian ia akan meraih keinginan tersebut dengan memaksimalkan seluruh potensi yang dimilikinya. Sebagian yang lain menginginkan harta. Setiap ada harta yang sudah dikumpulkan, ia akan segera mencari yang belum didapatkan, kemudian mengumpulkan, menghitung, lalu mencarinya lagi. Sebagian menginginkan tempat tinggal yang mewah, kendaraan yang bermerek, pakaian yang selalu melahirkan decak kagum bagi yang melihatnya, popularitas yang dielu-elukan olah para fans, dan lain sebagainya. Semua keinginan itu ingin dicapai dalam rangka mendapatkan kebahagiaan dalam perjalanan hidup berikutnya.

Namun demikian, apakah hal-hal tersebut adalah keinginan yang sebenarnya yang ada pada diri manusia? Apakah semua itu adalah keinginan hakiki yang ketika dapat diwujudkan maka harapan akan kebahagiaan hidup benar-benar dirasakan? Apakah semua itu adalah sebenar-benarnya jalan agar terpenuhi hasrat pencarian ketenangan yang didambakan oleh setiap orang?

Atau sebaliknya, itu adalah keinginan yang keliru yang ketika sudah dicapai dan diraih, harapan sebenarnya tak kunjung didapat? Ataukah semua keinginan itu hanyalah tipuan belaka, karena ternyata di balik itu tidak ada harganya sama sekali? Ibarat hijaunya gunung setelah didaki ternyata penuh bebatuan, duri-duri, dan jalan-jalan kecil dikelilingi lembah-lembah yang sangat dalam?
Seorang penyair berkata:

ستُبْدي لكَ الأيامُ ما كنتَ جاهلاً * ويأتيكَ بالأخبارِ من لم تزوِّدِ
Hari-hari yang kita lewati akan memberikan kabar tentang kebodohan kita. Hari-hari itu akan mengabarkan hal-hal apa saja yang seharusnya menjadi bekal (tetapi kita tidak membawanya).

Kehidupan yang kita jalani di dunia ini, pada akhirnya akan membawa kesadaran betapa kelirunya kita dalam menentukan keinginan yang harus dicapai dalam hidup. Kita khawatir keinginan yang selama ini kita kejar dengan mengeluarkan seluruh energi hingga tidak tersisa, ternyata di akhir perjalanan tidak ada manfaatnya sedikitpun. Sebaliknya sesuatu yang sangat penting dan sangat kita butuhkan, tidak dicari dan tidak dinginkan sama sekali dalam kehidupan di dunia.

Mari kita perhatikan satu ayat dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun: 99-100 ketika Allah menjelaskan gambaran keinginan manusia yang sebenarnya dalam kehidupan di dunia.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ
وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),
agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.
Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa saat seseorang meninggal dunia, mereka memohon kepada Allah untuk kembali ke dunia. Mereka ingin diberikan kesempatan hidup kembali seperti sebelumnya. Hal ini dilakukan karena mereka sudah keliru dalam menentukan dan mewujudkan keinginan hidupnya. Karena kekeliruan itu mereka pun salah dalam menghabiskan energi dan potensi yang dimiliki. Allah menjelaskan bahwa mereka ingin kembali ke dunia adalah untuk hanya satu tujuan saja. Apakah satu-satunya tujuan tersebut? Tidak ada lain mereka ingin sekali kembali ke dunia adalah untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

Dengan jelas Allah menggambarkan bahwa mereka ingin melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya di dunia. Mereka tidak menginginkan jabatan yang tinggi, rumah yang mewah, mobil yang terbaru, fans serta idola yang banyak, dan berbagai bentuk keindahan dunia lainnya. Ayat tersebut menjelaskan keinginan yang sebenarnya yang ada pada diri manusia saat menjalani kehidupan di dunia. Keinginan hakiki yang kadang hari ini kita lupakan, kita anggap tidak penting, bahkan dianggap sebagai keinginan lelucon. Tetapi memang itulah sebenarnya, dan Allah memberikan penjelasannya kepada kita agar kita tidak keliru dalam menentukan keinginan hidup. Jangan sampai keinginan hidup kita masih berputar pada hal-hal yang sebenarnya tidak berarti apa-apa nantinya. Kita mengganti keinginan tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat yaitu keinginan untuk melakukan kebaikan sebanyak mungkin dalam hidup ini. Hal ini sebagaimana Rasulullah sampaikan dalam hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat (menebarkan kebaikan) kepada seluruh umat manusia.
Semoga Allah membimbing kita untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan kepada sebanyak mungkin orang dalam hidup yang hanya sekali-kalinya ini. Hidup sekali, hiduplah yang penuh manfaat!

By : Ustadz Abdul Ghoni

SebelumnyaBeribadah dengan Wahyu adalah Tindakan Paling Rasional SesudahnyaAPA DAN BAGAIMANA IMPLEMENTASI DIMAKMURKAN MASJID?

Berita Lainnya