SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Beribadah dengan Wahyu adalah Tindakan Paling Rasional

Terbit 15 Maret 2018 | Oleh : admin | Kategori : TAUSHIAH / Tsaqofah
Beribadah dengan Wahyu adalah Tindakan Paling Rasional

Pada satu kajian ada seorang jamaah bertanya, “Ustadz, bagaimana cara kita menyikapi komunitas liberal yang menyatakan bahwa Tuhan kita semua sama, dan semua agama sama kedudukannya?” Bagi sang Ustadz, pertanyaan tersebut susah-susah gampang menjawabnya. Untuk pertanyaan yang satu ini dibutuhkan jawaban yang logis dan argumentatif sehingga sejalan dengan perintah Allah dalam surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik!”

Dengan penuh kehati-hatian, sang Ustadz mencoba mengurai pertanyaan yang rumit tersebut. Pernyataan yang mereka sampaikan adalah benar adanya bahwa Tuhan kita semua sama. Hal tersebut secara tegas disebutkan dalam al-Qur’an surat al-‘Ankabut ayat 46 yang berbunyi:
وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْللِمُونَ

Dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.

Akan tetapi agama dan cara beribadah setiap orang adalah sama merupakan satu kesalahan. Manusia sejak awal diciptakan sebagai makhluk yang lemah. Sementara kehidupan yang dijalani oleh manusia penuh dengan ujian dan tantangan. Life is like a rollercoaster. Adrenalin manusa diuji sepanjang hidup dengan segala ketiba-tibaan. Manusia dapat tiba-tiba dalam puncak kesenangan, dalam sekejap kemudian berada pada posisi yang paling berat.

Dari posisinya yang lemah itu kemudian manusia membutuhkan sesuatu yang lebih besar sebagai tempat untuk bersandar. Manusia secara fitrah memiliki dorongan untuk menghamba kepada sesuatu yang lebih besar darinya.
Apakah manusia dapat berimprovisasi sendiri untuk menentukan cara menghamba kepada yang lebih besar darinya? Ternyata tidak! Manusia tidak memiliki wawasan apapun bagaimana cara menghamba kepada yang lebih besar darinya. Manusia tidak bisa berijtihad sendiri dalam menghamba kepada yang Maha Besar. Cara menghamba kepada yang Maha Besar sudah dijelaskan oleh Allah.

Mungkin analogi berikut dapat memberikan pemahaman yang lebih sederhana. Pada satu kesempatan, seorang Presiden RI ingin datang ke sebuah pesantren. Tentu saja segenap keluarga besar pesantren merasa sangat terhormat dan ingin memberikan proses penyambutan yang paling mengesankan atas kunjungan tersebut. Pengurus pesantren membuat persiapan sedemikian rupa. Muncullah ide dari pihak pesantren untuk membuat pagar betis dalam radius 1 kilometer sebagai bentuk penghormatan. Persepsi tersebut bisa jadi berbeda dengan tim protokoler sang presiden. Bagi tim protokoler, kerumunan orang banyak yang terlalu dekat dengan presiden dapat mengancam keselamatan presiden. Kedua persepsi yang berbeda di atas, antara tim pesantren dan tim protokoler, bermula dari keinginan sama demi menghormati sang presiden. Mana di antara kedua prosedur penyambutan presiden, yang paling masuk akal untuk dijadikan sebagai proses penyambutan? Tentu saja semua sepakat menjadikan prosedur tim protokoler adalah yang paling tepat, karena mereka memiliki pengetahuan yang lebih komprehensif tentang presiden.

Begitupun dengan cara manusia menghamba kepada Tuhannya. Manusia tidak punya pengetahuan tentang bagaimana prosedur beribadah kepada Allah. Jika ada ide dari manusia untuk memanifestasikan penghambaannya kepada Tuhan, maka hal itu jelas tidak didasari pengetahuan apapun. Wawasan manusia tidak sampai pada pengetahuan bagaimana menghamba kepada Tuhan. Pada saat itu, menerima informasi bagaimana beribadah kepada Allah melalui wahyu adalah tindakan yang paling masuk akal. Melalui wahyu al-Qur’an dan Hadits, dijelaskan kepada manusia bagaimana menghamba kepada Allah. Tindakan yang paling rasional dalam hal ini adalah kembali kepada wahyu, karena kekosongan pengetahuan manusia akan hal ini. Sebaliknya, mengambil referensi untuk menghamba kepada Tuhan melalui gagasan dan ide manusia justru merupakan tindakan yang paling tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Islam adalah agama berdasarkan wahyu al-Qur’an, yang di dalamnya terdapat penjelasan yang komprehensi f tentang bagaimana menghamba kepada Allah. Sementara proses penghambaan kepada patung, benda-benda besar, matahari, gunung, dan lain sebagainya adalah ide dari manusia yang tidak didasari ilmu sama sekali. Back to al-Qur’an dan memilih Islam sebagai agama dengan kekuatan wahyu al-Qur’an merupakan tindakan yang paling rasional. Tindakan yang paling irrasional adalah orang yang beragama dan bertuhan dengan ide dan gagasan manusia sendiri.

Semoga Allah memberikan kita semua cahaya yang terang menuju penghambaan hanya kepada Allah semata!

By : Ustadz Abdul Ghoni

SebelumnyaBolehkah Shalat Janazah atau Gerhana pada Waktu Dilarang Shalat? SesudahnyaHakikat Keinginan Manusia

Berita Lainnya