SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Bolehkah Shalat Janazah atau Gerhana pada Waktu Dilarang Shalat?

Terbit 28 Februari 2018 | Oleh : admin | Kategori : Fiqih / TAUSHIAH
Bolehkah Shalat Janazah atau Gerhana pada Waktu Dilarang Shalat?

Para Ulama bersepakat adanya larangan mengerjakan shalat pada tiga waktu. Ketiga waktu tersebut adalah; saat terbit matahari, saat terbenam matahari, dan setelah shalat Subuh hingga terbit matahari.

Mereka berbeda pendapat dalam 2 waktu yaitu; pada waktu tergelincir matahari dan setelah shalat Ashar. Menurut Imam Malik melarang shalat setelah Ashar dan memperbolehkan shalat saat tergelincir matahari. Imam Syafi’i berpendapat bahwa shalat setelah Ashar dan saat tergelincir matahari termasuk yang dilarang dalam Islam, kecuali saat tergelincir matahari di hari Jum’at.

Para Ulama juga berbeda pendapat tentang shalat apa saja yang dilarang untuk dikerjakan pada waktu-waktu terlarang tersebut?
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa yang dilarang adalah semua jenis shalat, baik shalat qadha, shalat sunnah ataupun nafilah.

Imam Malik dan Syafi’i sama-sama memperbolehkan qadha shalat wajib pada waktu-waktu yang dilarang tersebut.
Imam Syafi’i juga memiliki pendapat lebih jauh tentang pelaksanaan shalat di waktu yang dilarang. Beliau membedakan antara shalat Sunnah dan Nafilah. Shalat Sunnah tetap diperbolehkan pada waktu dilarang shalat, sementara shalat Nafilah tetap dilarang shalat. Apakah yang dimaksud shalat Sunnah dan shalat Nafilah menurut Imam Syafi’i?

Shalat Sunnah yang dimaksud dalam hal ini adalah shalat yang dilakukan karena adanya sebab tertentu. Sementara shalat Nafilah adalah shalat yang dilakukan tanpa sebab tertentu. Contoh shalat Sunnah adalah shalat Gerhana, yang baru dapat dilakukan karena adanya gerhana. Begitu pula dengan shalat Janazah yang dilkakukan karena ada seorang Muslim yang meninggal dunia, atau shalat Tahiyyatul Masjid yang baru boleh dilaksanakan karena adanya aktivitas masuk masjid.

Dari gambaran di atas, maka diperboleh shalat Janazah atau shalat Gerhana pada waktu-waktu dilarang shalat merujuk pendapat Imam Syafi’i karena keduanya adalah Shalat Sunnah dan bukan Shalat Nafilah. Dengan demikian pengurus DKM tidak perlu ragu ketika mendapatkan hal-hal demikian dalam penyelenggaraan masjid. Semoga bermanfaat!

By : Ustadz Abdul Ghoni (DQM)

SebelumnyaMereka Berbeda dalam Ukuran Membasuh Kepala SesudahnyaBeribadah dengan Wahyu adalah Tindakan Paling Rasional

Berita Lainnya