SEKILAS INFO
  • 3 minggu yang lalu / Alhamdulillah..telah memeluk islam dengan kesadaran sendiri Ibu Hardina Maharini Warga Griya Cimangir Blok A5 No 1. Gunungsindur Kab Bogor
  • 1 tahun yang lalu / Mari dirikan sholat karena sholat adalah tiang agama
WAKTU :

Mereka Berbeda dalam Ukuran Membasuh Kepala

Terbit 27 Februari 2018 | Oleh : admin | Kategori : Fiqih / TAUSHIAH
Mereka Berbeda dalam Ukuran Membasuh Kepala

Jika diperhatikan seseorang membasuh kepala (rambut) ketika berwudhu, maka mereka berbeda-beda dalam ukuran yang dibasuh. Ada yang membasuh kepala seluruhnya, sehingga air wudhu membasahi bajunya. Sebagian lain hanya membasuh sebagian kepalanya. Bagaimana keragaman itu bisa terjadi?

Keragaman dimulai dari kandungan surat al-Maidah ayat 6 yang berisi penjelasan tentang bagian-bagian dari anggota badan yang harus dibasuh saat berwudhu, khususnya pada kalimat:
وَامْسَحُوْا بِرُؤُوسِكُمْ
“Basuhlah kepala kalian”
Lebih tepat lagi pada huruf “ba” yang terkandung dalam ayat di atas. Sebagian ulama menyebutkan bahwa huruf “ba” hanya tambahan dan tidak memiliki makna, sehingga huruf tersebut dianggap tidak ada. Sementara sebagian yang lain memahami huruf “ba” bermakna “sebagian”, maka arti ayat di atas adalah “basuhlah sebagian kepala kalian!”.

Imam Malik menyebutkan bahwa huruf “ba” adalah tambahan, maka yang diwajibkan adalah membasuh kepala secara keseluruhan. Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah memaknai huruf “ba” dengan “sebagian”. Abu Hanifah menyebutkan bahwa yang wajib adalah membasuh minimal 1/4 bagian kepala. Imam Syafi’i membolehkan seperti apapun basuhan kepala seseorang yang berwudhu.

Dengan demikian akar permasalahan dalam ukuran membasuh kepala adalah adanya 2 pemahaman dalam memaknai huruf “ba”. Semoga bermanfaat, sehingga setiap Muslim dapat memahami dan menerima perbedaan yang ada.

Perbedaan dalam masalah furu’iyah harus disikapi dengan sikap saling menghormati dan tidak memaksakan pendapatnya kepada orang lain Perbedaan dalam hal ini bukan antara benar dan salah, akan tetapi perbedaan antara benar dan lebih benar. Memaksakan satu komunitas dengan satu pendapat saja tidak diperbolehkan.

Referensi:
Bidayatul Mujtahid, hal. 17

(Abdul Ghoni DQM)

SebelumnyaKunjungan Silaturahim Komunitas Sedekah Harian ke Masjid Nuur Hidayah Cimangir. SesudahnyaBolehkah Shalat Janazah atau Gerhana pada Waktu Dilarang Shalat?

Berita Lainnya